JAKARTA, KOMPAS.com - Tingginya tingkat pencemaran dan kiriman sampah dari kawasan perkotaan menjadi tantangan utama dalam rehabilitasi ekosistem mangrove di Jakarta.
Kondisi tersebut membuat upaya penanaman mangrove di pesisir ibu kota berbeda dibandingkan daerah lain seperti Surabaya maupun Lombok.
Project Manager Wahana Visi Indonesia (WVI) Agung Gunansyah mengatakan, polusi menjadi kendala terbesar yang dihadapi dalam program rehabilitasi mangrove di Kawasan Hutan Lindung Angke Kapuk, Jakarta Utara.
Baca juga: RI Tetapkan RPPEM Nasional 2026-2055 Jadi Peta Jalan Perlindungan Mangrove
"Di sini yang paling berat polusinya tinggi sekali," ujar Agung kepada Kompas.com, Senin (27/7/2026).
Selain pencemaran, bibit mangrove juga kerap terancam kiriman sampah yang terbawa arus laut dari kawasan lain.
Menurut Agung, tumpukan sampah, gulma, hingga batang pohon nipah yang hanyut saat pasang dapat menghancurkan bibit mangrove yang baru ditanam apabila tidak dilindungi.
"Sering terbawa arus ke sini. Belum lagi gulma, kangkung, bahkan pohon nipah yang hanyut. Kalau tidak dipasang pelindung, bibit mangrove bisa habis," katanya.
Berdasarkan kajian dasar (baseline) WVI, tingkat kelangsungan hidup (survival rate) mangrove di kawasan tersebut secara alami mencapai sekitar 80 persen.
Namun, tingginya pencemaran dan sampah membuat proses rehabilitasi membutuhkan pemantauan lebih intensif serta perlindungan tambahan agar bibit dapat tumbuh optimal.
Polusi juga membatasi pemanfaatan mangrove sebagai sumber nilai ekonomi.
Meski mangrove berpotensi diolah menjadi berbagai produk pangan maupun produk turunan lainnya, WVI belum mendorong pemanfaatan tersebut di Jakarta karena belum dapat memastikan tingkat keamanan buah mangrove yang tumbuh di kawasan dengan tingkat pencemaran tinggi.
"Kami sudah mengkaji potensi ekonominya. Namun, kami belum bisa memastikan apakah buah mangrove di sini aman atau sudah terkontaminasi. Karena itu, fokus kami saat ini masih pada rehabilitasi kawasan dan pengembangan wisata," ujar Agung.
Karena itu, WVI memilih memprioritaskan pemulihan fungsi ekologis mangrove dibandingkan pengembangan produk berbasis hasil mangrove.
Baca juga: Hutan Mangrove di Lampung Menyusut, Hanya Tersisa di 6 Kabupaten
Melalui program Desa Ketahanan Adaptif Mangrove untuk Peningkatan Penghidupan, WVI menargetkan penanaman sedikitnya 32.000 bibit mangrove dalam lima tahun.
Saat ini program telah memasuki tahun kedua dengan fokus rehabilitasi pada kawasan yang memiliki tutupan mangrove paling rendah.
Program tersebut melibatkan Kelompok Tani Hutan (KTH) Flora Mangrove dalam proses pembibitan, penanaman, hingga pemeliharaan.
Selama periode Mei 2025 hingga April 2026, sebanyak 20.800 bibit mangrove telah ditanam dan dipelihara di Kawasan Hutan Lindung Angke Kapuk.
Menurut Agung, rehabilitasi mangrove juga menjadi bagian dari upaya adaptasi perubahan iklim yang berdampak langsung terhadap kualitas hidup anak.
"Jika polusi berkurang dan ketangguhan iklim meningkat, manfaatnya akan sangat dirasakan anak-anak. Karena itu kami berkontribusi melalui rehabilitasi ekosistem mangrove," katanya.
Senada, Zone Program Manager Jawa dan Sumatera WVI Johny Noya mengatakan kerusakan lingkungan di kawasan pesisir berdampak langsung terhadap kesehatan, rasa aman, dan tumbuh kembang anak.
"Setiap kali banjir rob datang, anak-anak menjadi kelompok yang paling terdampak karena kehilangan tempat tinggal, ruang bermain, dan tempat belajar. Karena itu pemulihan lingkungan harus dilakukan secara berkelanjutan melalui kolaborasi berbagai pihak," ujarnya.
Dalam memperingati Hari Mangrove Sedunia, WVI juga menggandeng Universitas Bina Nusantara (BINUS) dan Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA) untuk melibatkan generasi muda dalam rehabilitasi ekosistem pesisir.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya