Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Polusi dan Kiriman Sampah Jadi Tantangan Rehabilitasi Mangrove di Jakarta

Kompas.com, 28 Juli 2026, 14:23 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Tingginya tingkat pencemaran dan kiriman sampah dari kawasan perkotaan menjadi tantangan utama dalam rehabilitasi ekosistem mangrove di Jakarta.

Kondisi tersebut membuat upaya penanaman mangrove di pesisir ibu kota berbeda dibandingkan daerah lain seperti Surabaya maupun Lombok.

Project Manager Wahana Visi Indonesia (WVI) Agung Gunansyah mengatakan, polusi menjadi kendala terbesar yang dihadapi dalam program rehabilitasi mangrove di Kawasan Hutan Lindung Angke Kapuk, Jakarta Utara.

Baca juga: RI Tetapkan RPPEM Nasional 2026-2055 Jadi Peta Jalan Perlindungan Mangrove

"Di sini yang paling berat polusinya tinggi sekali," ujar Agung kepada Kompas.com, Senin (27/7/2026).

Selain pencemaran, bibit mangrove juga kerap terancam kiriman sampah yang terbawa arus laut dari kawasan lain.

Menurut Agung, tumpukan sampah, gulma, hingga batang pohon nipah yang hanyut saat pasang dapat menghancurkan bibit mangrove yang baru ditanam apabila tidak dilindungi.

"Sering terbawa arus ke sini. Belum lagi gulma, kangkung, bahkan pohon nipah yang hanyut. Kalau tidak dipasang pelindung, bibit mangrove bisa habis," katanya.

Berdasarkan kajian dasar (baseline) WVI, tingkat kelangsungan hidup (survival rate) mangrove di kawasan tersebut secara alami mencapai sekitar 80 persen.

Namun, tingginya pencemaran dan sampah membuat proses rehabilitasi membutuhkan pemantauan lebih intensif serta perlindungan tambahan agar bibit dapat tumbuh optimal.

Belum dimanfaatkan untuk produk pangan

Polusi juga membatasi pemanfaatan mangrove sebagai sumber nilai ekonomi.

Meski mangrove berpotensi diolah menjadi berbagai produk pangan maupun produk turunan lainnya, WVI belum mendorong pemanfaatan tersebut di Jakarta karena belum dapat memastikan tingkat keamanan buah mangrove yang tumbuh di kawasan dengan tingkat pencemaran tinggi.

"Kami sudah mengkaji potensi ekonominya. Namun, kami belum bisa memastikan apakah buah mangrove di sini aman atau sudah terkontaminasi. Karena itu, fokus kami saat ini masih pada rehabilitasi kawasan dan pengembangan wisata," ujar Agung.

Karena itu, WVI memilih memprioritaskan pemulihan fungsi ekologis mangrove dibandingkan pengembangan produk berbasis hasil mangrove.

Baca juga: Hutan Mangrove di Lampung Menyusut, Hanya Tersisa di 6 Kabupaten

Melalui program Desa Ketahanan Adaptif Mangrove untuk Peningkatan Penghidupan, WVI menargetkan penanaman sedikitnya 32.000 bibit mangrove dalam lima tahun.

Saat ini program telah memasuki tahun kedua dengan fokus rehabilitasi pada kawasan yang memiliki tutupan mangrove paling rendah.

Program tersebut melibatkan Kelompok Tani Hutan (KTH) Flora Mangrove dalam proses pembibitan, penanaman, hingga pemeliharaan.

Selama periode Mei 2025 hingga April 2026, sebanyak 20.800 bibit mangrove telah ditanam dan dipelihara di Kawasan Hutan Lindung Angke Kapuk.

Menurut Agung, rehabilitasi mangrove juga menjadi bagian dari upaya adaptasi perubahan iklim yang berdampak langsung terhadap kualitas hidup anak.

"Jika polusi berkurang dan ketangguhan iklim meningkat, manfaatnya akan sangat dirasakan anak-anak. Karena itu kami berkontribusi melalui rehabilitasi ekosistem mangrove," katanya.

Senada, Zone Program Manager Jawa dan Sumatera WVI Johny Noya mengatakan kerusakan lingkungan di kawasan pesisir berdampak langsung terhadap kesehatan, rasa aman, dan tumbuh kembang anak.

"Setiap kali banjir rob datang, anak-anak menjadi kelompok yang paling terdampak karena kehilangan tempat tinggal, ruang bermain, dan tempat belajar. Karena itu pemulihan lingkungan harus dilakukan secara berkelanjutan melalui kolaborasi berbagai pihak," ujarnya.

Dalam memperingati Hari Mangrove Sedunia, WVI juga menggandeng Universitas Bina Nusantara (BINUS) dan Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA) untuk melibatkan generasi muda dalam rehabilitasi ekosistem pesisir.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Pemerintah
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Pemerintah
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
LSM/Figur
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
LSM/Figur
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
LSM/Figur
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
LSM/Figur
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Pemerintah
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
LSM/Figur
Karhutla dan Abu Vulkanik Berisiko Ganggu Perdagangan Indonesia
Karhutla dan Abu Vulkanik Berisiko Ganggu Perdagangan Indonesia
LSM/Figur
PBB Peringatkan Kenaikan Permukaan Air Laut Jadi Ancaman Nyata Bagi HAM
PBB Peringatkan Kenaikan Permukaan Air Laut Jadi Ancaman Nyata Bagi HAM
Pemerintah
Krisis Iklim Turunkan Performa Pembangkit Saat Permintaan Listrik Naik
Krisis Iklim Turunkan Performa Pembangkit Saat Permintaan Listrik Naik
Pemerintah
Dorong Pendidikan Inklusif, 5 Kampus Indonesia Pelajari Sistem Layanan Disabilitas di Jepang
Dorong Pendidikan Inklusif, 5 Kampus Indonesia Pelajari Sistem Layanan Disabilitas di Jepang
Swasta
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Pemerintah
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau