JAKARTA, KOMPAS.com – Lulusan perguruan tinggi di Indonesia rata-rata membutuhkan waktu 19,8 bulan untuk memperoleh pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan lulusan perguruan tinggi tidak hanya menyelesaikan studi, tetapi juga mempersiapkan diri menghadapi kebutuhan dunia kerja yang terus berubah.
Data Labor Market Brief LPEM FEB Universitas Indonesia yang dipublikasikan pada Mei 2026 berdasarkan Sakernas Agustus 2025 menunjukkan lamanya masa transisi lulusan memasuki pasar kerja dipengaruhi berbagai faktor.
Mulai dari ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri (skill mismatch), ekspektasi terhadap jenis pekerjaan dan tingkat upah, hingga belum optimalnya keterhubungan antara perguruan tinggi dan dunia usaha.
Baca juga: Tanoto Foundation Fellowship Dibuka untuk Lulusan S1 dan S2, Cek Syaratnya
Head of Leadership Development and Scholarship Tanoto Foundation Yosea Kurnianto mengatakan kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penguatan employability sejak mahasiswa masih menempuh pendidikan.
Menurut dia, kemampuan akademik saja tidak lagi cukup untuk menghadapi perubahan dunia kerja yang semakin dinamis.
"Dalam dunia kerja yang terus berubah, penuh ketidakpastian, dan semakin kompleks, keunggulan akademik saja tidak lagi cukup. Mahasiswa perlu dibekali karakter, kepemimpinan, kemampuan beradaptasi, serta pengalaman nyata agar mampu menerjemahkan pengetahuan menjadi kontribusi yang bermakna," ujar Yosea dalam keterangan tertulis, Selasa (28/7/2026).
Ia mengatakan kesiapan memasuki dunia kerja perlu dibangun melalui pengembangan karakter, kepemimpinan, kemampuan berkolaborasi, pengalaman praktis, hingga kesiapan berkarier sejak masa kuliah.
Pandangan tersebut sejalan dengan hasil penelitian "What Drives Graduate Employability?" yang menunjukkan bahwa kesiapan kerja lulusan tidak hanya ditentukan oleh prestasi akademik, tetapi juga kemampuan beradaptasi, komunikasi, kolaborasi, ketangguhan, serta kemampuan mengambil keputusan secara mandiri.
Studi tersebut juga menemukan bahwa pemberi kerja menilai lulusan yang memperoleh pembinaan kepemimpinan dan pengembangan soft skills cenderung lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan kerja.
Berangkat dari tantangan tersebut, Tanoto Foundation kembali membuka pendaftaran program TELADAN (Transformasi Edukasi untuk Melahirkan Pemimpin Masa Depan) Cohort 2027 bagi mahasiswa semester pertama di perguruan tinggi mitra.
Berbeda dengan program beasiswa yang hanya memberikan dukungan finansial, program TELADAN mengombinasikan bantuan biaya pendidikan dengan pengembangan kepemimpinan, soft skills, pengalaman kolaboratif, serta persiapan karier selama 3,5 tahun.
"Melalui program TELADAN, kami ingin mendampingi mahasiswa agar tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga siap menjadi pemimpin masa depan yang membawa dampak positif," kata Yosea.
Baca juga: Fellowship Tanoto Foundation Dibuka, Bisa Dapat Pelatihan hingga Uang Saku
Sejak 2006 hingga 2025, Tanoto Foundation mencatat telah mendukung lebih dari 8.800 penerima beasiswa di 10 perguruan tinggi mitra di Indonesia.
Para penerima beasiswa tersebut juga telah menjalankan lebih dari 800 proyek sosial sebagai bagian dari pengembangan kepemimpinan dan pengabdian kepada masyarakat.
Pendaftaran TELADAN Cohort 2027 dibuka hingga 7 September 2026.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya