Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jurnalisme Berkualitas Kini Jadi Aset Bernilai di Era AI

Kompas.com, 29 Juli 2026, 09:42 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) tidak hanya menghadirkan tantangan bagi industri media, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru.

Di tengah maraknya penggunaan AI generatif, jurnalisme berkualitas dinilai menjadi aset penting karena menyediakan data yang kredibel untuk melatih model AI.

CEO KG Media Andy Budiman Kumala mengatakan perusahaan media kini tidak lagi hanya menghasilkan konten untuk pembaca, tetapi juga menyediakan data tepercaya yang dibutuhkan perusahaan pengembang AI.

"Data itu bernilai, bukan hanya bagi pembaca manusia, tetapi juga bagi perusahaan AI yang membutuhkan data tepercaya untuk melatih model mereka. Sekarang kami mulai memperoleh nilai baru dalam bentuk pendapatan lisensi AI," ujar Andy dalam Opening Ceremony The 9th Sustainability and Media Academy (SAMI) yang diselenggarakan oleh Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University, Senin (27/7/2026).

Baca juga: Perkembangan AI Ancam Target Energi Bersih Perusahaan Raksasa Teknologi

Menurut dia, model AI membutuhkan data yang akurat, terverifikasi, dan memiliki konteks agar mampu menghasilkan informasi yang berkualitas serta meminimalkan risiko hallucination atau informasi yang keliru.

Karena itu, media yang mampu mempertahankan standar jurnalisme memiliki peluang memperoleh sumber pendapatan baru melalui skema lisensi konten kepada perusahaan AI.

AI ubah model bisnis media

Di sisi lain, Andy mengakui perkembangan AI juga mengubah model bisnis industri media.

Selama ini perusahaan media mengandalkan kunjungan pembaca ke situs berita maupun platform penyiaran untuk memperoleh pendapatan iklan. Namun, AI generatif kini dapat menyajikan jawaban langsung kepada pengguna dengan merangkum berbagai sumber informasi.

Akibatnya, hubungan langsung antara media dan pembaca berpotensi berkurang sehingga kemampuan media memperoleh nilai ekonomi dari kontennya ikut tergerus.

"Saat ini, dengan AI, jurnalisme kita diserap, diproses, direproduksi, dan diagregasi oleh platform AI, sering kali tanpa atribusi, tanpa pengakuan, apalagi kompensasi," kata Andy.

Ia mengatakan sekitar 60 persen pendapatan industri media saat ini masih bergantung pada iklan. Di tengah tren penurunan belanja iklan, media perlu mencari sumber pendapatan baru yang lebih berkelanjutan.

Baca juga: PBB Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Lingkungan dari AI

Menurut Andy, peluang memperoleh pendapatan dari lisensi AI hanya dapat diraih apabila media tetap mempertahankan kualitas jurnalistiknya.

Ia menilai strategi memperbanyak produksi konten demi mengejar trafik justru berisiko menurunkan nilai jurnalisme di tengah banjir konten yang dihasilkan AI.

"Di dunia yang dibanjiri konten, kesalahan terbesar adalah semakin mengomodifikasi jurnalisme. Selama ini kita mencoba menutup penurunan nilai dengan memproduksi lebih banyak konten, padahal yang terjadi justru semakin menurunkan nilai konten itu sendiri," ujarnya.

Karena itu, ada sejumlah poin yang bisa dilakukan oleh media di tengah maraknya penggunaan digitalisasi.

Pertama, terus berinvestasi pada jurnalisme yang mendalam dan berkualitas agar menghasilkan konten yang bernilai tinggi bagi pembaca maupun perusahaan AI.

Kedua, memperkuat distribusi konten melalui berbagai platform agar dapat menjangkau audiens sesuai perubahan pola konsumsi informasi.

Ketiga, melakukan diversifikasi sumber pendapatan di luar iklan, antara lain melalui lisensi AI, penerbitan buku, penyelenggaraan acara, serta layanan riset.

Menurut Andy, langkah tersebut menjadi cara agar industri media tidak sekadar bertahan menghadapi disrupsi AI, tetapi juga memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai peluang untuk membangun model bisnis yang lebih berkelanjutan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Pemerintah
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Swasta
Studi Ungkap Hewan Laut Respons Perubahan Iklim dengan Cara Berbeda-beda
Studi Ungkap Hewan Laut Respons Perubahan Iklim dengan Cara Berbeda-beda
Pemerintah
Urine Pendaki Percepat Pencairan Gletser di Gunung Everest
Urine Pendaki Percepat Pencairan Gletser di Gunung Everest
LSM/Figur
ESDM Siapkan Aturan Kredit Karbon Sektor Energi, Potensi Transaksi Rp 2,2 Triliun per Tahun
ESDM Siapkan Aturan Kredit Karbon Sektor Energi, Potensi Transaksi Rp 2,2 Triliun per Tahun
Pemerintah
Tak Sampai 25 Persen Perusahaan yang Sukses Adopsi AI
Tak Sampai 25 Persen Perusahaan yang Sukses Adopsi AI
Pemerintah
UNICEF: 1 dari 5 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual Online
UNICEF: 1 dari 5 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual Online
Pemerintah
Peringati Hari Ozon Sedunia, Belantara Foundation-Resona Bank Ltd. Tanam Pohon Langka di Tahura SSH Riau yang Terdegradasi
Peringati Hari Ozon Sedunia, Belantara Foundation-Resona Bank Ltd. Tanam Pohon Langka di Tahura SSH Riau yang Terdegradasi
LSM/Figur
Karhutla di Gambut Bisa Ganggu Regenerasi Alami, Pakar UGM Jelaskan Sebabnya
Karhutla di Gambut Bisa Ganggu Regenerasi Alami, Pakar UGM Jelaskan Sebabnya
LSM/Figur
Kejar Target PLTS 100 GW, ESDM : Bauran EBT Semester II-2026 Capai 17,3 Persen, Kontribusi Energi Surya Hanya 0,51 Persen
Kejar Target PLTS 100 GW, ESDM : Bauran EBT Semester II-2026 Capai 17,3 Persen, Kontribusi Energi Surya Hanya 0,51 Persen
Pemerintah
Efek Krisis Iklim, Nyamuk Tropis Invasif Ditemukan di London
Efek Krisis Iklim, Nyamuk Tropis Invasif Ditemukan di London
Pemerintah
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
BUMN
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
LSM/Figur
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Pemerintah
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau