Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ketimpangan Iklim: Orang Kaya Nikmati AC, Orang Miskin Terancam Bencana

Kompas.com, 29 Juli 2026, 13:06 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Laporan terbaru memperingatkan bahwa perubahan iklim kemungkinan besar akan memperlebar jurang ketimpangan antara negara kaya dan negara miskin.

Saat suhu memanas, orang-orang kaya dapat mengandalkan air conditioning (AC), sementara masyarakat miskin harus menghadapi risiko kematian akibat cuaca panas ekstrem.

Laporan dari Climate Impact Lab menyebutkan bahwa perubahan suhu akibat krisis iklim dapat memicu sekitar 430.000 kematian tambahan setiap tahunnya pada 2050, jika dibandingkan dengan kondisi masa lalu.

Melansir Down to Earth, Senin (27/7/2026) laporan tersebut menekankan pula bahwa jumlah kematian di negara-negara miskin diperkirakan 10 kali lipat lebih banyak daripada di negara-negara kaya.

Ketimpangan dalam beradaptasi

Temuan ini memperlihatkan betapa tidak meratanya kemampuan antar negara dan masyarakat dalam beradaptasi dengan gelombang panas.

Baca juga: AC Bukan Jawaban Hadapi Ancaman Suhu Bumi yang Kian Memanas

Penggunaan alat pendingin, terutama AC, kini menjadi solusi penting untuk mengurangi risiko kesehatan akibat suhu tinggi. Namun, laporan itu menegaskan bahwa banyak wilayah yang menghadapi suhu panas paling berbahaya justru menjadi tempat yang paling sulit mendapatkan akses listrik yang stabil dan terjangkau.

"AC adalah penyelamat nyawa," kata Michael Greenstone, pendiri Climate Impact Lab sekaligus profesor di University of Chicago.

Namun, ia menjelaskan bahwa banyak negara tidak akan mampu menghadapi lonjakan suhu panas dengan cara yang sama seperti negara-negara kaya.

Laporan tersebut memperkirakan bahwa akibat perubahan iklim, konsumsi listrik untuk alat pendingin ruangan di negara berpenghasilan menengah akan melonjak tujuh kali lipat dibanding di negara berpenghasilan rendah.

Sementara di negara-negara miskin, perkiraan kenaikan penggunaan listrik per orang bahkan hanya cukup untuk menyalakan satu lampu LED selama empat bulan.

Negara yang hadapi bahaya panas

Laporan ini mencatat adanya wilayah di 18 negara yang dihuni oleh 676 juta orang menghadapi kondisi berbahaya yang disebut "mortality-cooling trap" atau perangkap kematian akibat krisis pendingin.

Wilayah-wilayah ini menghadapi risiko panas yang sangat tinggi, namun pertumbuhan penggunaan listriknya sangat terbatas. Pada tahun 2050, wilayah-wilayah tersebut diperkirakan akan menyumbang sekitar 377.000 kematian akibat cuaca panas setiap tahunnya.

Sebagian besar dari negara-negara ini berada di wilayah utara Sub-Sahara Afrika, termasuk Niger, Mali, Burkina Faso, dan Chad. Negara lainnya berada di Asia Selatan dan Tenggara, seperti Pakistan, Bangladesh, Nepal, dan Myanmar.

Baca juga: AC Dinginkan Rumah Tapi Lemahkan Komitmen Masyarakat dalam Aksi Iklim

Laporan ini membandingkan kondisi antara Niger dan Arab Saudi. Keduanya sama-sama menghadapi suhu panas yang tinggi, tetapi Arab Saudi jauh lebih siap untuk meningkatkan penggunaan listrik demi pendingin ruangan.

Pada tahun 2050, akibat iklim yang makin panas, masyarakat di Niger diperkirakan akan kehilangan 27.000 nyawa lebih banyak setiap tahunnya dibandingkan dengan Arab Saudi.

Ashwin Rode, peneliti dari Climate Impact Lab, menyampaikan bahwa temuan ini berhasil memetakan wilayah mana saja yang paling terancam bahaya kematian akibat gelombang panas, sekaligus paling tidak mampu menggunakan AC untuk melindungi warganya.

Laporan tersebut menegaskan pula bahwa memperbaiki akses listrik memang sangat penting, tetapi itu saja tidak cukup. Laporan ini mendorong adanya sistem peringatan dini gelombang panas, rencana aksi penanganan panas, perluasan layanan kesehatan, penghijauan kota, serta program bantuan sosial yang tepat sasaran.

Laporan ini juga berargumen bahwa pembenahan pasar listrik harus dianggap sebagai bagian dari upaya penyesuaian terhadap perubahan iklim. Sebab, pasokan listrik yang stabil dan terjangkau akan menentukan seberapa banyak nyawa yang bisa diselamatkan saat suhu bumi makin panas.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
LSM/Figur
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Pemerintah
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Swasta
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Pemerintah
BPDLH Siapkan Skema 'Blended Finance' untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
BPDLH Siapkan Skema "Blended Finance" untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
Pemerintah
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
LSM/Figur
United Tractors Gelar Wisuda 'Release Stunting' 2026
United Tractors Gelar Wisuda "Release Stunting" 2026
Swasta
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
Pemerintah
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana 'Loss and Damage', BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana "Loss and Damage", BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
LSM/Figur
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Pemerintah
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Pemerintah
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Pemerintah
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Pemerintah
Kerusakan Tanah Dunia Mengkhawatirkan, PBB Soroti Solusi yang Belum Maksimal
Kerusakan Tanah Dunia Mengkhawatirkan, PBB Soroti Solusi yang Belum Maksimal
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau