Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Enam Komunitas Agama Bentuk Sekretariat Bersama untuk Perkuat Aksi Iklim

Kompas.com, 29 Juli 2026, 15:46 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Perwakilan komunitas dari enam agama di Indonesia membentuk Sekretariat Bersama Aksi Iklim Lintas Iman Indonesia sebagai wadah memperkuat koordinasi dan kolaborasi dalam menghadapi krisis iklim.

Pembentukan sekretariat yang difasilitasi Yayasan Amanah Daya Nusantara (AYANA) ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman dan piagam pembentukan di Jakarta, Senin (27/7/2026).

Direktur Eksekutif AYANA Rizal Algamar mengatakan krisis iklim perlu dikomunikasikan dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat agar mampu mendorong perubahan perilaku.

Baca juga: Ketimpangan Iklim: Orang Kaya Nikmati AC, Orang Miskin Terancam Bencana

Menurut dia, masyarakat lebih mudah memahami dampak nyata seperti banjir, perubahan musim, menurunnya hasil panen, hingga meningkatnya biaya hidup dibandingkan istilah-istilah teknis mengenai perubahan iklim.

"Tantangan kita bukan hanya menyampaikan lebih banyak informasi. Tantangan kita adalah membuat aksi iklim dipahami, dipercaya, dimiliki, dan dipimpin oleh masyarakat," ujar Rizal.

Ia mengatakan komunitas keagamaan memiliki modal sosial yang besar untuk mengajak masyarakat terlibat dalam aksi pelestarian lingkungan karena nilai-nilai menjaga alam telah lama menjadi bagian dari ajaran agama.

Karena itu, Sekretariat Bersama tidak dibentuk untuk mengambil alih peran organisasi keagamaan, melainkan menjadi ruang berbagi pengetahuan, membangun kemitraan, dan menyusun aksi bersama.

"Masyarakat juga perlu mengetahui dukungan apa yang harus mereka terima. Melalui integrasi teologi, ekologi, dan ekonomi, kami berharap masyarakat semakin mampu mengomunikasikan aksi-aksi iklim yang mereka rencanakan sendiri di komunitas masing-masing," kata Rizal.

Berawal dari diskusi lintas agama

Gagasan pembentukan sekretariat berawal dari serangkaian focus group discussion (FGD) yang diselenggarakan AYANA pada Maret-April 2026.

Diskusi tersebut melibatkan lebih dari 200 peserta, termasuk perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI), dan Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN).

FGD tersebut mengidentifikasi berbagai praktik pelestarian lingkungan yang telah dijalankan komunitas keagamaan, mulai dari rumah ibadah ramah lingkungan, pengelolaan sampah, restorasi ekosistem, pendidikan ekoteologi, hingga filantropi hijau.

Baca juga: Dino Patti Djalal Minta Aksi Iklim Pemerintah Disetarakan dengan Program MBG

Namun, berbagai inisiatif tersebut dinilai masih berjalan sendiri-sendiri sehingga diperlukan wadah untuk memperkuat koordinasi dan kolaborasi.

Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdullah Syamsul Arifin mengatakan kerja sama lintas agama dalam menjaga lingkungan memiliki landasan kuat dalam nilai-nilai keagamaan.

"Kami memandang kerja bersama lintas iman dalam menjaga bumi merupakan panggilan iman yang dapat dikontekstualisasikan dalam kehidupan kemanusiaan," ujarnya.

Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Jacklevyn "Jacky" Frits Manuputty menambahkan bahwa persoalan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga menyangkut pembentukan nilai moral masyarakat.

"Persoalan lingkungan bukan semata-mata soal teknis penyelamatan lingkungan, melainkan juga soal mental dan moral," kata Jacky.

Baca juga: Dampak Perubahan Iklim, Kekeringan di Eropa Diprediksi Kian Parah

Sementara itu, Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Agama Muhammad Ali Ramdhani berharap sekretariat tersebut menjadi ruang kolaborasi untuk memperkuat harmoni antarumat beragama sekaligus mendorong aksi nyata menghadapi krisis iklim.

"Semoga Sekretariat Bersama Aksi Iklim Lintas Iman menjadi ruang perjumpaan yang mengokohkan harmoni dan menguatkan kerukunan seluruh umat beragama untuk menopang Indonesia maju," ujarnya.

Setelah penandatanganan piagam, para peserta menyusun rencana aksi tiga tahun, tata kelola organisasi, serta strategi pendanaan dan kemitraan yang akan menjadi dasar pelaksanaan program bersama.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
BUMN
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Pemerintah
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Pemerintah
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Pemerintah
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Pemerintah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Swasta
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
LSM/Figur
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau