KOMPAS.com - Pusat data baru yang khusus dibangun untuk kecerdasan buatan (AI) memicu lonjakan penggunaan pembangkit listrik tenaga gas alam.
Hal ini menyebabkan lonjakan emisi karbon hingga belasan persen di perusahaan besar seperti Amazon, Google, dan Microsoft.
Namun, menurut alat pemantau baru dari lembaga komunikasi iklim Climate Power, perusahaan AI milik Elon Musk, yaitu xAI, memiliki potensi terbesar untuk menghasilkan polusi baru tersebut.
Kini potensi polusi yang dihasilkan pusat data ini dapat dipantau.
Melansir Trellis, Senin (27/7/2026) alat bernama Data Center Air Pollution Tracker ini memantau pusat data yang sedang direncanakan maupun yang sudah beroperasi berdasarkan data dari lembaga riset Cleanview.
Baca juga: Tantangan Sistem Pendingin Pusat Data: Kenaikan Suhu dan Kelembapan Udara
Alat ini menilai seberapa tinggi tingkat polusi karbon yang dihasilkan dengan menggunakan standar dari Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA), PBB, serta media The Financial Times dan The Guardian.
Data ini sangat berguna bagi perusahaan-perusahaan yang makin sering menggunakan layanan AI dan komputasi awan, agar mereka tetap bisa memantau sejauh mana keputusan tersebut berdampak pada komitmen pengurangan emisi karbon mereka.
Delapan perusahaan dalam daftar Climate Power dinilai dari angka 1 hingga 100 berdasarkan dua faktor utama yakni seberapa banyak proyek mereka yang memakai atau berencana memakai pembangkit listrik tenaga gas alam mandiri, serta seberapa bersih sumber listrik di wilayah tempat data center mereka berada.
Jaringan listrik yang menghasilkan 200 pon karbon dioksida per megawatt-jam (CO2/MWh) dianggap paling bersih, sedangkan yang menghasilkan 1.000 pon (CO2/MWh) dianggap paling kotor.
Skor 100 berarti perusahaan tersebut sepenuhnya menggunakan listrik dari jaringan paling bersih di dunia.
Amazon berada di posisi terdekat dengan angka sempurna itu, yaitu mendapatkan skor 68 dengan rata-rata emisi 716 pon CO2/MWh. Amazon memiliki rasio proyek pembangkit gas mandiri yang paling rendah dibandingkan tujuh perusahaan lainnya.
Di posisi berikutnya ada Microsoft dengan skor 64 diikuti Google dan Meta yang sama-sama meraih skor 61. Rata-rata emisi Google tercatat sebesar 857 pon CO2/MWh, sedangkan Meta sebesar 802 pon CO2/MWh.
Sementara itu Anthropic dan OpenAI, dua pengembang model AI utama yang paling banyak digunakan, menyusul di belakang dengan skor masing-masing 59 dan 56.
Oracle mendapatkan skor 51, meskipun rata-rata tingkat emisi karbonnya lebih rendah daripada Google atau Meta.
Baca juga: Emisi Karbon Pusat Data Diprediksi Lebih Tinggi dari Perkiraan
Sementara itu, xAI meraih skor yang sangat rendah, yaitu hanya 6. Pusat data Colossus milik xAI di Memphis menggunakan turbin gas penghasil polusi udara yang sebagian besar belum teratur pembatasannya.Informasi ini diperbarui setiap hari, dan skor yang tercantum di atas berlaku per 24 Juli.
Pembangunan pusat data AI secara besar-besaran sendiri memicu penolakan keras dari warga sekitar. Hal ini bukan hanya karena konsumsi listriknya yang sangat raksasa tetapi juga karena pemerintah mendorong penggunaan batu bara dan gas alam baru untuk mengoperasikannya, bukannya menggunakan energi bersih.
Langkah tersebut bertolak belakang dengan hasil survei Climate Power pada bulan Juni yang menunjukkan bahwa para pemilih jauh lebih menyukai pusat data yang berjanji menggunakan energi bersih.
Proyek-proyek yang masih menggunakan batu bara atau gas alam mendapatkan dukungan yang jauh lebih rendah dibanding proyek yang terhubung dengan energi surya atau angin.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya