Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Siapa Paling Pencemar? Alat Ini Beri Peringkat Emisi dari Pusat Data AI

Kompas.com, 29 Juli 2026, 16:06 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber trellis

KOMPAS.com - Pusat data baru yang khusus dibangun untuk kecerdasan buatan (AI) memicu lonjakan penggunaan pembangkit listrik tenaga gas alam.

Hal ini menyebabkan lonjakan emisi karbon hingga belasan persen di perusahaan besar seperti Amazon, Google, dan Microsoft.

Namun, menurut alat pemantau baru dari lembaga komunikasi iklim Climate Power, perusahaan AI milik Elon Musk, yaitu xAI, memiliki potensi terbesar untuk menghasilkan polusi baru tersebut.

Kini potensi polusi yang dihasilkan pusat data ini dapat dipantau.

Melansir Trellis, Senin (27/7/2026) alat bernama Data Center Air Pollution Tracker ini memantau pusat data yang sedang direncanakan maupun yang sudah beroperasi berdasarkan data dari lembaga riset Cleanview.

Baca juga: Tantangan Sistem Pendingin Pusat Data: Kenaikan Suhu dan Kelembapan Udara

Alat ini menilai seberapa tinggi tingkat polusi karbon yang dihasilkan dengan menggunakan standar dari Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA), PBB, serta media The Financial Times dan The Guardian.

Data ini sangat berguna bagi perusahaan-perusahaan yang makin sering menggunakan layanan AI dan komputasi awan, agar mereka tetap bisa memantau sejauh mana keputusan tersebut berdampak pada komitmen pengurangan emisi karbon mereka.

Skor pusat data

Delapan perusahaan dalam daftar Climate Power dinilai dari angka 1 hingga 100 berdasarkan dua faktor utama yakni seberapa banyak proyek mereka yang memakai atau berencana memakai pembangkit listrik tenaga gas alam mandiri, serta seberapa bersih sumber listrik di wilayah tempat data center mereka berada.

Jaringan listrik yang menghasilkan 200 pon karbon dioksida per megawatt-jam (CO2/MWh) dianggap paling bersih, sedangkan yang menghasilkan 1.000 pon (CO2/MWh) dianggap paling kotor.

Skor 100 berarti perusahaan tersebut sepenuhnya menggunakan listrik dari jaringan paling bersih di dunia.

Amazon berada di posisi terdekat dengan angka sempurna itu, yaitu mendapatkan skor 68 dengan rata-rata emisi 716 pon CO2/MWh. Amazon memiliki rasio proyek pembangkit gas mandiri yang paling rendah dibandingkan tujuh perusahaan lainnya.

Di posisi berikutnya ada Microsoft dengan skor 64 diikuti Google dan Meta yang sama-sama meraih skor 61. Rata-rata emisi Google tercatat sebesar 857 pon CO2/MWh, sedangkan Meta sebesar 802 pon CO2/MWh.

Sementara itu Anthropic dan OpenAI, dua pengembang model AI utama yang paling banyak digunakan, menyusul di belakang dengan skor masing-masing 59 dan 56.

Oracle mendapatkan skor 51, meskipun rata-rata tingkat emisi karbonnya lebih rendah daripada Google atau Meta.

Baca juga: Emisi Karbon Pusat Data Diprediksi Lebih Tinggi dari Perkiraan

Sementara itu, xAI meraih skor yang sangat rendah, yaitu hanya 6. Pusat data Colossus milik xAI di Memphis menggunakan turbin gas penghasil polusi udara yang sebagian besar belum teratur pembatasannya.Informasi ini diperbarui setiap hari, dan skor yang tercantum di atas berlaku per 24 Juli.

Pembangunan pusat data AI secara besar-besaran sendiri memicu penolakan keras dari warga sekitar. Hal ini bukan hanya karena konsumsi listriknya yang sangat raksasa tetapi juga karena pemerintah mendorong penggunaan batu bara dan gas alam baru untuk mengoperasikannya, bukannya menggunakan energi bersih.

Langkah tersebut bertolak belakang dengan hasil survei Climate Power pada bulan Juni yang menunjukkan bahwa para pemilih jauh lebih menyukai pusat data yang berjanji menggunakan energi bersih.

Proyek-proyek yang masih menggunakan batu bara atau gas alam mendapatkan dukungan yang jauh lebih rendah dibanding proyek yang terhubung dengan energi surya atau angin.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
LSM/Figur
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Pemerintah
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
LSM/Figur
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Pemerintah
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
LSM/Figur
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Pemerintah
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
LSM/Figur
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Pemerintah
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Pemerintah
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
LSM/Figur
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau