Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Prof. Dr. Ignasius D.A. Sutapa, MSc

Pakar lingkungan yang saat ini menjabat sebagai Direktur Eksekutif APCE – UNESCO C2C, Wakil Ketua UNESCO-IHP Indonesia, Wakil Ketua Komite Ahli Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan RI, sekaligus Profesor Bidang Teknik Lingkungan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Kerentanan Sumber Daya Air Musim Kemarau 2026

Kompas.com, 30 Juli 2026, 17:20 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

MUSIM kemarau panjang yang dipicu oleh fenomena El Nino sering kali menyebabkan krisis air bersih di berbagai daerah di Indonesia, termasuk pada tahun 2026.

Ketika El Nino terjadi, suhu udara meningkat, curah hujan berkurang secara signifikan, dan kekeringan pun meluas, mengurangi cadangan air di sumber-sumber alami dan mengganggu pasokan air bersih.

Sayangnya, fenomena ini sering berulang setiap tahun karena siklus iklim yang tidak dapat kita kendalikan.

Namun, kerentanannya sangat dipengaruhi oleh faktor geografis, penggunaan lahan, dan keberadaan infrastruktur pengelolaan air yang tidak memadai.

Daerah yang lebih rentan biasanya memiliki sistem pengelolaan sumber daya air yang belum optimal dan tingkat urbanisasi tinggi.

Oleh karena itu, penyusunan kebijakan yang tepat mulai dari langkah jangka pendek, seperti pengaktifan tim siaga dan rehabilitasi infrastruktur, hingga strategi jangka panjang seperti restorasi DAS, sangat penting untuk meningkatkan ketahanan air nasional dan mengurangi dampak krisis iklim ini.

Krisis Air

Dalam konteks hidrologi, ketidakstabilan sumber daya air disebabkan oleh tiga rantai sebab-akibat yang saling berinteraksi dan memperburuk situasi.

Pertama, defisit neraca air terjadi karena El Nino menekan pembentukan awan konvektif secara signifikan. Akibatnya, curah hujan selama musim kemarau turun drastis, berkisar antara 20 hingga 70 persen dari normal.

Kondisi ini memperparah kekeringan di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi, serta menyulitkan pengisian ulang sumber air alami.

Sementara itu, kebutuhan air untuk berbagai sektor seperti domestik, pertanian, dan industri tetap tinggi, bahkan cenderung meningkat karena tingginya evapotranspirasi akibat cuaca panas ekstrem.

Kesenjangan ini menciptakan water deficit yang serius dan berpotensi memicu kekeringan total apabila tidak dikelola secara optimal.

Kedua, berkurangnya kapasitas sumber air baku menjadi tantangan berikutnya. Sungai-sungai mengalami penurunan debit secara drastis, bahkan di wilayah-wilayah tertentu, bisa mengalami kekeringan total.

Hal ini terjadi karena tidak adanya recharge dari curah hujan yang minim, sehingga sungai dan embung tidak mampu menampung cukup air cadangan.

Mata air dan sumber air alami lainnya juga mengalami resesi cepat karena tidak ada pengisian ulang dari hujan, sementara sumber air tanah semakin dalam dikuras melalui pompa-pompa yang beroperasi lebih dalam.

Keadaan ini meningkatkan risiko intrusi air laut, terutama di wilayah pesisir yang sedang mengalami penurunan muka air tanah.

Fenomena ini memperparah masalah pencemaran serta menurunkan kualitas air tanah yang sudah kritis.

Ketiga, penurunan kapasitas sumber air berimbas langsung pada penurunan kualitas air yang tersedia. Saat debit sumber air menjadi kecil, daya tampung sungai dan sumber air alami lainnya berkurang, sehingga tingkat konsentrasi polutan alami dan antropogenik meningkat.

Sampai batas tertentu, alga bloom, bau tak sedap, dan kontaminasi mikroorganisme menjadi lebih tinggi, yang menyebabkan tantangan besar bagi PDAM dalam memproduksi air baku yang memenuhi standar mutu air minum.

Pada akhirnya, krisis air tidak sekadar “tidak ada air”, tetapi lebih tepatnya “tidak ada air yang layak dan cukup” untuk kebutuhan masyarakat dan berbagai sektor penting.

Situasi ini menuntut inovasi kebijakan pengelolaan sumber daya air yang adaptif, termasuk konservasi sumber air, optimalisasi penggunaan air, serta mitigasi dampak El Nino secara berkelanjutan, agar Indonesia dapat tetap menjaga ketahanan air di tengah variabilitas iklim global yang semakin meningkat

Fenomena Kekeringan Berulang

Fenomena kekeringan yang berulang setiap tahun di Indonesia sebenarnya merupakan hasil dari masalah sistemik yang mendalam, bukan sekadar akibat fluktuasi iklim akibat fenomena El Nino ataupun variabel iklim global lainnya.

Empat kegagalan sistemik utama menjadi akar permasalahan tersebut, dan pemahaman serta penanganan yang lebih komprehensif diperlukan agar ketahanan air nasional dapat diperkuat secara berkelanjutan.

Pertama, paradigma "Flood to Drought" atau dari banjir ke kekeringan, merupakan budaya pengelolaan air yang bersifat reaktif dan cenderung terfokus pada penanggulangan banjir.

Saat musim hujan, kita cenderung membuang air ke laut, sementara air hujan tersebut potensial untuk disimpan melalui water harvesting (pengumpulan air hujan) yang memadai.

Paradigma ini menyebabkan potensi penyimpanan air kecil, sehingga ketika musim kemarau tiba, cadangan air yang tersisa tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan sektor lainnya.

Pada dasarnya, teknologi dan metode water harvesting seperti embung, danau buatan, sumur resapan, serta waduk kecil di tingkat desa sebenarnya sangat efektif untuk meningkatkan cadangan air, tapi penggunaannya masih minim.

Kedua, infrastruktur konservasi air di Indonesia masih sangat terbatas. Rasio tampungan air nasional yang ada saat ini masih di bawah standar ideal, dan infrastruktur seperti embung desa, sumur resapan, serta instalasi rainwater harvesting (RWH) di perkotaan sangat minim, bahkan belum merata di seluruh wilayah.

Kapasitas total waduk dan embung masih jauh dari memenuhi kebutuhan air nasional yang terus meningkat secara demografis dan ekonomi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ayam Hutan Indonesia Terancam Kehilangan Kemurnian Genetik akibat Perburuan dan Persilangan
Ayam Hutan Indonesia Terancam Kehilangan Kemurnian Genetik akibat Perburuan dan Persilangan
LSM/Figur
Karhutla Global Musnahkan 4 Juta Hektar Hutan Tropis Lindung
Karhutla Global Musnahkan 4 Juta Hektar Hutan Tropis Lindung
Pemerintah
IPB University Tutup SAMI 2026, Kolaborasi untuk Agrifood Berkelanjutan jadi Fokus
IPB University Tutup SAMI 2026, Kolaborasi untuk Agrifood Berkelanjutan jadi Fokus
Pemerintah
70 persen Perusahaan Global Stop Beli Mobil Dinas Berbahan Bakar Fosil
70 persen Perusahaan Global Stop Beli Mobil Dinas Berbahan Bakar Fosil
Pemerintah
Dampak El Niño: 50 Juta Orang Terancam Kelaparan Akut dalam Waktu Dekat
Dampak El Niño: 50 Juta Orang Terancam Kelaparan Akut dalam Waktu Dekat
Pemerintah
Isu Kesehatan PBB: Ibu Masih Kurang Dukungan untuk  Menyusui
Isu Kesehatan PBB: Ibu Masih Kurang Dukungan untuk Menyusui
Pemerintah
 Populasi Gajah Sumatra Diperkirakan Tinggal 900-1.350 Ekor, Habitat Terus Terfragmentasi
Populasi Gajah Sumatra Diperkirakan Tinggal 900-1.350 Ekor, Habitat Terus Terfragmentasi
LSM/Figur
Studi: Kekeringan dan Banjir Akibat Perubahan Jarang Jadi Berita Internasional
Studi: Kekeringan dan Banjir Akibat Perubahan Jarang Jadi Berita Internasional
Pemerintah
 Polusi Cahaya Jadi Tantangan Pengamatan Hujan Meteor Perseid
Polusi Cahaya Jadi Tantangan Pengamatan Hujan Meteor Perseid
LSM/Figur
Perkuat Jejaring Diaspora, Festival Indonesia Digelar untuk Pertama Kali di Chiba Jepang
Perkuat Jejaring Diaspora, Festival Indonesia Digelar untuk Pertama Kali di Chiba Jepang
LSM/Figur
Penangkapan Ikan Marak Pakai Bom, Terumbu Karang di Indonesia Terancam
Penangkapan Ikan Marak Pakai Bom, Terumbu Karang di Indonesia Terancam
Pemerintah
Akibat Perubahan Iklim, Paus dan Lumba-lumba, Makin Sering Terdampar di Pesisir
Akibat Perubahan Iklim, Paus dan Lumba-lumba, Makin Sering Terdampar di Pesisir
LSM/Figur
Pangkas Kesenjangan, Operasi Transplantasi Kornea Pertama Resmi Digelar di Ternate
Pangkas Kesenjangan, Operasi Transplantasi Kornea Pertama Resmi Digelar di Ternate
Swasta
Studi: Memanen Air Hujan dari Atap Jadi Solusi Atasi Suhu Ekstrem di Perkotaan
Studi: Memanen Air Hujan dari Atap Jadi Solusi Atasi Suhu Ekstrem di Perkotaan
Pemerintah
Pembangkit Listrik Tenaga Angin Didorong Pakai Teknologi Perlindungan Satwa
Pembangkit Listrik Tenaga Angin Didorong Pakai Teknologi Perlindungan Satwa
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau