KOMPAS.com - Perubahan suhu dan curah hujan yang terus memicu ketidakpastian kini makin memengaruhi hasil panen di seluruh dunia. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui wilayah mana saja yang paling rentan terhadap krisis cuaca ini.
Melansir Phys, Selasa (28/7/2026) sebuah penelitian baru dari Kyle Davis dari University of Delaware, AS berhasil menghitung tingkat kerentanan serta kerugian panen akibat kekeringan pada 17 jenis tanaman utama termasuk beras, jagung, gandum, dan kedelai baik yang mengandalkan air hujan maupun sistem irigasi.
Ke-17 tanaman ini menyumbang tiga perempat dari total produksi pangan dunia.
Hasil studi berjudul "Addressing global hotspots of drought-related crop production losses" ini telah diterbitkan di jurnal Nature Communications. Penelitian ini dipimpin bersama oleh Marta Tuninetti, asisten profesor dari Politecnico di Torino, Italia.
Baca juga: El Nino Bukan Vonis Kekeringan
Davis, menjelaskan bahwa tujuan penelitian ini adalah untuk membuat tolok ukur seberapa rentan berbagai jenis tanaman dalam menghadapi kekeringan.
Para peneliti membedakan tanaman yang mengandalkan air hujan dan tanaman yang menggunakan sistem penyiraman.
Hasilnya menunjukkan bahwa tanaman tadah hujan jauh lebih rentan terhadap krisis cuaca. Saat terjadi kekeringan, tanaman beririgasi masih bisa mendapat pasokan air melalui alat penyiram, saluran air, atau selang, sehingga hasil panennya tetap stabil atau bahkan meningkat. Sementara itu, tanaman tadah hujan tidak memiliki fasilitas tersebut.
Dari hasil tersebut, para peneliti kemudian berhasil memetakan wilayah rawan kekeringan di seluruh dunia alias daerah-daerah yang sangat rentan mengalami gagal panen akibat kekeringan.
Wilayah-wilayah ini antara lain mencakup bagian tengah Amerika Serikat, Brasil bagian timur, Spanyol bagian timur, serta India bagian tengah dan utara.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya