Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
KILAS

Inisiatif Bioenergy Lestari Diakui Dunia, Pertamina Raih Outstanding SDG Innovator 2026

Kompas.com, 30 Juli 2026, 20:22 WIB
I Jalaludin S,
DWN

Tim Redaksi

KOMPAS.com – PT Pertamina (Persero) kembali menorehkan prestasi dengan meraih penghargaan Outstanding SDG Innovator 2026 pada ajang SDG Innovation Accelerator for Young Professionals 2026 yang diselenggarakan oleh United Nations Global Compact (UNGC) di Jakarta, Senin (27/7/2026).

Penghargaan tersebut diraih melalui inovasi Bioenergy Lestari: Unlocking the Integrated Sustainable Energy Solution, sebuah konsep yang menghadirkan pendekatan baru dalam pengelolaan kawasan perhutanan sosial.

Tak hanya berfokus pada pemberdayaan masyarakat, konsep tersebut juga mengembangkan kawasan hutan menjadi ekosistem produktif yang mampu menghasilkan energi terbarukan, memperkuat ketahanan energi nasional, sekaligus membuka peluang bisnis berkelanjutan.

Program SDG Innovation Accelerator for Young Professionals merupakan inisiatif global UNGC yang mendorong lahirnya inovasi bisnis untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). 

Baca juga: Pertamina Perkuat Kapabilitas dan Budaya Keberlanjutan untuk Dukung Transformasi Bisnis

Bioenergy Lestari dikembangkan melalui kolaborasi lintas fungsi di Pertamina dengan memadukan inovasi teknologi, keberlanjutan, komunikasi, dan pemberdayaan masyarakat dalam satu solusi terintegrasi.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron mengatakan, penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa inovasi yang dikembangkan Pertamina mampu mengintegrasikan aspek keberlanjutan dengan penciptaan nilai bisnis.

Menurut dia, penghargaan Outstanding SDG Innovator 2026 menunjukkan bahwa inovasi Pertamina tidak hanya memberikan dampak sosial dan lingkungan, tetapi juga membuka peluang bisnis baru yang mendukung ketahanan energi nasional.

“Kami percaya inovasi merupakan salah satu penggerak utama transformasi perusahaan menuju bisnis yang lebih berkelanjutan," ujar Baron dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Kamis (30/7/2026).

Kembangkan ekosistem perhutanan sosial

Melalui Bioenergy Lestari, Pertamina mengembangkan ekosistem bioenergi berbasis perhutanan sosial yang mengintegrasikan konservasi hutan, pemberdayaan masyarakat, serta pengembangan rantai nilai energi terbarukan.

Baca juga: Langkah Pertamina Urai Antrean Solar di Makassar: Tambah Pasokan, Kerahkan Marshal

Pendekatan tersebut membuka peluang pemanfaatan kawasan perhutanan sosial sebagai sumber bahan baku energi terbarukan tanpa membuka lahan baru atau mengganggu ketahanan pangan.

Salah satu komoditas yang dikaji adalah sweet sorghum sebagai alternatif bahan baku bioetanol.

Pengembangannya dilakukan secara fleksibel dengan menyesuaikan komoditas dengan potensi sumber daya lokal di setiap wilayah.

Sebagai implementasi awal, Pertamina melalui Pertamina Foundation bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) telah memulai pilot project budi daya sweet sorghum.

Budi daya itu dilakukan di lahan seluas 3 hektare (ha) di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) UGM, Blora, Jawa Tengah (Jateng).

Baca juga: Pertamina Perkuat Pemulihan Ekonomi dan Ketangguhan Masyarakat Pascabencana Sumatera

Selain menghasilkan bahan baku energi yang lebih ramah lingkungan, inovasi Bioenergy Lestari juga mendorong terciptanya ekonomi sirkular.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of
Baca tentang


Terkini Lainnya
Mereka Menyebutnya “Ojek Laut”...
Mereka Menyebutnya “Ojek Laut”...
LSM/Figur
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Swasta
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
LSM/Figur
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Pemerintah
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Pemerintah
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Pemerintah
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Pemerintah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Pemerintah
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Pemerintah
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke Trade Expo Indonesia 2026
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke Trade Expo Indonesia 2026
Desa Sejahtera Astra
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau