JAKARTA, KOMPAS.com – Guru Besar IPB University Nurjanah mengembangkan pupuk bokashi berbahan baku limbah industri rumput laut dan perikanan sebagai alternatif pupuk organik yang lebih kaya nutrisi sekaligus mendukung konsep ekonomi sirkular.
Pupuk bokashi tersebut dibuat dengan memanfaatkan residu garam rumput laut sebagai sumber unsur hara makro dan mikro serta limbah jeroan ikan untuk meningkatkan kandungan nutrisi.
"Inovasi ini memanfaatkan residu garam rumput laut dan limbah jeroan ikan sebagai bahan baku bernilai tambah, sehingga mendukung konsep zero waste, ekonomi sirkular, sekaligus meningkatkan kualitas nutrisi pupuk," ujar Nurjanah, dikutip dari laman resmi IPB University, Kamis (30/7/2026).
Baca juga: FEM IPB Dorong Solusi Berbasis Alam dan ESG untuk Perkuat Ketahanan Iklim
Menurut Nurjanah, selama ini limbah industri rumput laut dan perikanan masih menjadi persoalan lingkungan karena belum dimanfaatkan secara optimal.
Melalui inovasi tersebut, limbah diolah menjadi pupuk organik yang dapat meningkatkan kesuburan tanah sekaligus mengurangi timbunan limbah.
Ia mengatakan, salah satu keunggulan pupuk bokashi tersebut adalah bahan bakunya yang melimpah, mulai dari residu garam rumput laut, limbah organik terestrial, hingga limbah jeroan ikan.
Selain menjamin ketersediaan bahan baku, pemanfaatan limbah tersebut juga dinilai mampu menciptakan nilai tambah ekonomi sekaligus mendukung pengelolaan limbah yang lebih berkelanjutan.
Meski demikian, Nurjanah mengakui pengembangan pupuk bokashi masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari menjaga konsistensi kualitas bahan baku, mengendalikan proses produksi agar mutu pupuk tetap stabil, hingga meningkatkan kepercayaan petani yang masih bergantung pada pupuk kimia.
Selain itu, produk juga harus melalui pengujian mutu, proses perizinan, serta didukung sistem distribusi dan penyimpanan sebelum dipasarkan secara luas.
Di sisi lain, Nurjanah menilai peluang pengembangan pupuk bokashi masih terbuka lebar seiring meningkatnya kebutuhan pupuk organik dan kesadaran terhadap praktik pertanian berkelanjutan.
Baca juga: FEM IPB: Pertumbuhan Ekonomi 5,6 Persen Belum Mampu Kurangi Ketimpangan
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, Indonesia masih mengimpor sekitar 5.367 ton pupuk organik. Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan kebutuhan pupuk organik nasional belum sepenuhnya dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri.
"Pupuk bokashi berbasis residu garam rumput laut berpotensi menjadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia. Selain ramah lingkungan, produk ini memiliki kandungan nutrisi yang lebih lengkap berkat kombinasi residu garam rumput laut, limbah organik, dan enzim dari limbah jeroan ikan," kata Nurjanah.
Ia berharap inovasi tersebut dapat meningkatkan produktivitas pertanian secara berkelanjutan, mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia, sekaligus memperkuat penerapan konsep zero waste dan ekonomi sirkular pada sektor pertanian, perikanan, serta industri pengolahan rumput laut.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya