Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Industri Tekstil Global Hasilkan 92.000 Ton Polusi Serat Mikro Per Tahun

Kompas.com, 31 Juli 2026, 20:18 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Penelitian terbaru dari Earth Action menunjukkan bahwa pabrik tekstil menghasilkan sekitar 92.000 ton polusi serat mikro setiap tahunnya, dan 63 persen dari serat tersebut berakhir dengan mencemari lingkungan.

Melansir Edie, Kamis (30/7/2026) laporan berjudul ‘From Shedding to Solutions’ ini menjadi penilaian global pertama yang melacak kebocoran serat mikro selama pembuatan kain, mulai dari proses pemrosesan benang, pengolahan limbah cair, hingga pembuangan sisa limbahnya.

Serat mikro sendiri merupakan partikel-partikel sangat kecil yang sering kali terbuat dari plastik dan terlepas dari kain saat diproduksi, digunakan, atau dicuci.

Begitu serat-serat ini masuk ke lingkungan, mereka sangat sulit dibersihkan dan kini diakui sebagai salah satu biang kerok utama polusi mikroplastik di dunia.

Baca juga: Industri Pakaian Disebut Terlalu Lamban Kurangi Emisi Karbon

Sistem pengolahan air limbah tak mampu atasi

Penelitian ini memperkirakan bahwa sistem pengolahan air limbah yang ada saat ini berhasil menahan sekitar 34.000 ton serat mikro setiap tahunnya. Namun, masih ada sekitar 58.000 ton yang lepas dan mencemari lingkungan.

Meskipun pengolahan air limbah bisa menyaring hingga 82 persen serat mikro dari air yang dibuang, serat-serat yang tersaring itu tetap bisa mencemari tanah jika endapan limbahnya tidak dikelola dengan benar.

Laporan ini menemukan bahwa pengolahan air limbah dan pengelolaan endapan limbahnya harus ditangani secara bersamaan. Jika hanya mengandalkan pengolahan air limbah yang canggih, kebocoran serat mikro hanya berkurang 6 persen.

Namun, jika mengelola endapan limbahnya dengan benar, kebocoran bisa berkurang hingga 43 persen. Jika kedua cara ini digabungkan, jumlah limbah yang bocor ke alam bisa dipangkas jauh lebih banyak.

“Ini adalah pertama kalinya seluruh jalur pencemaran dipetakan secara menyeluruh, dan ini bukan yang terakhir. Setiap tahapan baru nantinya akan membuat gambaran masalah ini makin jelas. Namun, bukti yang ada saat ini sudah sangat cukup bagi kita untuk segera bertindak," ungkap Sarah Perreard, pendiri Earth Action.

“Serat mikro tidak tinggal diam di tempat mereka terlepas. Mereka mengalir lewat sungai dan laut, masuk ke dalam makanan yang kita makan, dan makin sering masuk ke dalam tubuh kita sendiri. Semakin lama kita menunda, akan semakin sulit dan mahal biaya untuk membersihkan polusi ini," paparnya lagi.

Perreard pun mengungkapkan perusahaan pakaian dan pembuat aturan tidak perlu menunggu sampai gambaran masalah ini sempurna. Yang mereka butuhkan hanyalah niat untuk memanfaatkan data yang sudah kita miliki sekarang.

Temuan berdasarkan wilayah

Sebagian besar kebocoran serat mikro akibat produksi pakaian terjadi di negara-negara produsen tekstil terbesar.

Banglades, Pakistan, dan China menyumbang 54 persen dari total kebocoran serat mikro selama proses produksi dengan Bangladesh menyumbang 25 persen, Pakistan 17persen, dan China 12 persen.

Namun, seberapa besar pencemaran ke lingkungan sangat tergantung pada cara penanganan limbahnya setelah produksi. Jika pengolahan air limbah dan endapan limbahnya diperhitungkan, Banglades tetap menjadi penyumbang terbesar (24 persen dari total polusi dunia). Sementara China berada di urutan kedua (15 persen), diikuti oleh Pakistan (11 persen).

Baca juga: Larangan Pemusnahan Pakaian Tak Terjual Resmi Berlaku di Uni Eropa

Laporan ini juga menyoroti pentingnya desain kain dan cara pembuatan pakaian untuk mengurangi pelepasan serat. Perubahan pada struktur benang, kerapatan kain, dan proses perapian akhir bisa menekan jumlah serat yang rontok.

Bahkan, beberapa penelitian menunjukkan penurunan rontokan serat hingga 60 persen sampai 90 persen pada kain poliester tertentu.

Earth Action memperkirakan bahwa gabungan antara proses produksi yang lebih bersih, pengolahan air limbah yang lebih luas, dan pembuangan endapan limbah yang teratur dapat memangkas kebocoran serat mikro hingga 95 persen pada tahun 2032.

Jika diterapkan secara terpisah, langkah-langkah ini bisa mencegah sekitar 54.000 ton kebocoran limbah.

Namun jika diterapkan secara bersamaan, sekitar 74.000 ton kebocoran bisa dicegah. Ini membuktikan bahwa perbaikan di seluruh sistem produksi dan pengolahan limbah jauh lebih ampuh jika digabungkan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan
Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan
LSM/Figur
Bezos & DiCaprio Kucurkan Rp3,58 Triliun Selamatkan 100 Spesies Langka
Bezos & DiCaprio Kucurkan Rp3,58 Triliun Selamatkan 100 Spesies Langka
Pemerintah
Pertama di Dunia, Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Kantongi Sertifikasi Green Terminal
Pertama di Dunia, Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Kantongi Sertifikasi Green Terminal
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau