Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Praktik "Greenwashing" Perusahaan Naik di Tengah Anjloknya Kualitas Laporan ESG

Kompas.com, 3 Agustus 2026, 07:50 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber knowesg

KOMPAS.com - Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan kekhawatiran mengenai praktik greenwashing dalam laporan keberlanjutan perusahaan.

Melansir Know ESG, Jumat (31/7/2026) penelitian menyebut laporan perusahaan kini hanya fokus pada janji-janji manis, namun memberikan lebih sedikit fakta terukur untuk membuktikan klaim lingkungan mereka.

Penelitian yang dipimpin oleh ahli hukum Hajin Kim dan tim dari University of Chicago Law School ini meneliti lebih dari 15.000 laporan keberlanjutan dari 2.100 perusahaan antara tahun 1998 hingga 2023.

Menggunakan analisis bahasa berbasis komputer canggih, para peneliti menilai bagaimana perkembangan laporan keberlanjutan perusahaan selama 25 tahun terakhir.

Kualitas laporan menurun drastis

Menurut temuan tersebut, kualitas laporan lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) justru menurun drastis sejak Perjanjian Paris 2015. Meskipun jumlah dan tebal laporan keberlanjutan terus bertambah, jumlah informasi pasti yang dapat dibuktikan dalam dokumen-dokumen tersebut justru makin berkurang.

Baca juga: IBCSD: Klaim Ramah Lingkungan Tanpa Data Berisiko Jadi Greenwashing

Studi ini menemukan bahwa laporan yang diterbitkan antara tahun 1998 dan 2015 umumnya lebih pendek, tetapi berisi lebih banyak data teknis serta angka keberhasilan yang jelas dan dapat diukur.

Sebaliknya, laporan dari tahun 2015 ke atas menjadi jauh lebih tebal, tetapi lebih banyak mengandalkan bahasa karangan, janji-janji manis, dan pesan pencitraan perusahaan.

Para peneliti mengamati beberapa petunjuk, seperti penggunaan tabel data, bukti angka, bahasa yang spesifik, serta kejujuran perusahaan saat melaporkan kendala atau dampak buruk.

Mereka menemukan penurunan drastis pada pelaporan angka-angka terukur, seperti jumlah emisi gas rumah kaca (Scope 1, 2, dan 3), penggunaan air, dan jumlah limbah yang dihasilkan. Alih-alih memberikan angka pasti, banyak perusahaan justru makin gencar memamerkan cita-cita ramah lingkungan mereka tanpa bukti pendukung.

Penelitian ini juga menemukan bahwa seiring berjalannya waktu, masing-masing perusahaan secara bertahap terus mengurangi jumlah data angka yang mereka bagikan. Bukannya memberikan rincian kegiatan operasional yang jelas, banyak organisasi malah beralih ke cerita-cerita umum yang kurang spesifik, sehingga makin sulit dibuktikan kebenarannya oleh investor maupun masyarakat.

Penggunaan standar ESG yang bersamaan

Temuan penting lainnya memperlihatkan makin maraknya penggunaan berbagai standar ESG secara bersamaan.

Para peneliti mencatat bahwa perusahaan sering kali tetap memakai standar pelaporan yang lama meskipun sudah mengadopsi standar yang baru, sehingga laporannya jadi tumpang tindih.

Sebagai contoh, lebih dari 80 persen laporan yang memakai standar Global Reporting Initiative (GRI) pada tahun 2022 ternyata juga menggunakan standar Sustainability Accounting Standards Board (SASB).

Meskipun standar-standar ini sejatinya dibuat untuk meningkatkan keterbukaan, studi ini menunjukkan bahwa menggabungkan banyak standar justru cuma menambah panjang isi tulisan cerita, bukan meningkatkan kualitas data dan angka yang bisa diukur.

Baca juga: Studi Sebut 98 Persen Janji Keberlanjutan Industri Daging dan Susu Hanya Greenwashing

Para peneliti menemukan sangat sedikit bukti bahwa menambah standar pelaporan benar-benar bisa meningkatkan ketepatan data, bukti angka, maupun keterbukaan perusahaan.

Temuan ini muncul di tengah langkah para regulator di seluruh dunia yang mulai mewajibkan pelaporan keberlanjutan. Inisiatif seperti aturan CSRD di Uni Eropa bertujuan untuk menghadirkan standar pelaporan yang lebih konsisten, ukuran angka yang baku, serta syarat pemeriksaan yang lebih ketat agar data ESG bisa lebih dipercaya.

Para peneliti menyimpulkan bahwa tanpa adanya kewajiban melaporkan data berupa angka dan tanpa adanya pemeriksaan dari pihak independen, laporan keberlanjutan bisa makin bergeser menjadi sekadar alat kehumasan.

Laporan pun gagal memberikan informasi yang terpercaya bagi investor untuk menilai risiko iklim dan kinerja perusahaan yang sebenarnya. Studi ini menegaskan betapa pentingnya aturan pelaporan yang lebih tegas untuk meningkatkan keterbukaan dan menekan risiko greenwashing di masa depan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan
Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan
LSM/Figur
Bezos & DiCaprio Kucurkan Rp3,58 Triliun Selamatkan 100 Spesies Langka
Bezos & DiCaprio Kucurkan Rp3,58 Triliun Selamatkan 100 Spesies Langka
Pemerintah
Pertama di Dunia, Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Kantongi Sertifikasi Green Terminal
Pertama di Dunia, Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Kantongi Sertifikasi Green Terminal
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau