Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bukan Predator, Mengapa Masyarakat Dayak Anggap Buaya Sebagai Saudara?

Kompas.com, 3 Agustus 2026, 11:08 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Bagi sebagian besar orang, buaya adalah predator yang harus dihindari. Namun, bagi sebagian masyarakat Dayak, buaya justru dipandang sebagai kerabat yang dihormati, bahkan dipercaya sebagai perwujudan leluhur.

Cara pandang itu lahir dari hubungan panjang masyarakat adat dengan alam. Hutan, sungai, dan seluruh isinya tidak sekadar dipandang sebagai sumber daya, melainkan ruang hidup yang dihuni oleh sesama makhluk yang memiliki ikatan dengan manusia.

Pegiat budaya, aktivis masyarakat adat, sekaligus Maestro Sape, Dominikus Uyub, mengatakan bahwa sebelum agama-agama formal hadir, masyarakat Dayak telah membangun hubungan spiritual dengan alam.

Baca juga: Ketika Menjaga Hutan Mampu Membuka Jalan Petani ke Pasar Global...

Merawat alam dipandang sebagai bagian dari penghormatan kepada Sang Pencipta sekaligus kepada para leluhur.

"Yang terlihat memang buaya sungguhan. Tetapi yang diyakini, di dalamnya ada leluhur mereka. Bahkan ketika dipanggil, diyakini bisa datang karena dianggap masih memiliki hubungan darah dengan keturunannya," ujar Dominikus dalam "Suara Tanah Kita Intimate Showcase", Jumat (31/7/2026).

Kepercayaan tersebut tidak berhenti sebagai cerita turun-temurun. Dalam kehidupan sehari-hari, sebagian masyarakat Dayak masih menjalankan ritual untuk menghormati leluhur melalui pemberian sesaji atau persembahan kepada entitas yang mereka yakini bersemayam di alam.

"Jika sesuatu itu diyakini, maka terjadilah ia," kata Dominikus.

Ketika hutan berubah

Namun, hubungan spiritual antara manusia dan alam perlahan menghadapi tantangan besar.

Dominikus menilai perubahan mulai terasa sejak dekade 1980-an ketika industri kayu berkembang pesat melalui pemberian Hak Pengusahaan Hutan (HPH). Sejak saat itu, perubahan lanskap alam juga diikuti perubahan cara hidup masyarakat.

"Saya pikir perubahan budaya mulai terasa sejak era HPH pada tahun 1980-an," ujarnya.

Kini, ekspansi perkebunan kelapa sawit dan pertambangan menjadi tantangan baru di banyak wilayah Kalimantan.

Meski demikian, pegiat budaya Dayak Punan Hovongan, Samuel Moring, mengatakan komunitasnya masih relatif terlindungi karena berada di kawasan taman nasional, bukan hanya wilayah penyangga. Status tersebut membuat wilayah adat mereka hingga kini belum tersentuh aktivitas pertambangan maupun perkebunan skala besar.

"Potensi tambangnya sangat besar. Kalau bentang alam itu sudah tersentuh, dampaknya bisa sangat besar," kata Dominikus.

Bagi Samuel, ancaman terbesar sebenarnya bukan hanya perubahan bentang alam, tetapi juga memudarnya warisan budaya masyarakat adat.

Baca juga: El Nino Perparah Degradasi Hutan dan Lahan,

Menurut dia, perubahan merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari. Namun, perubahan menjadi persoalan ketika justru mengikis identitas masyarakat adat yang diwariskan secara turun-temurun.

"Perubahan itu baik, tetapi tidak baik ketika berubah menjadi kemunduran," ujarnya.

Samuel bercerita, berdasarkan diskusinya dengan seorang antropolog, masyarakat Punan memiliki ikatan kekeluargaan yang sangat kuat. Mereka mudah menerima orang lain sebagai keluarga ketika diperlakukan dengan baik.

Namun, keterbukaan itu kerap dimanfaatkan oleh pihak luar yang membawa kepentingan tertentu.

Karena itu, ia menilai pelestarian identitas masyarakat adat menjadi semakin penting di tengah derasnya perubahan sosial.

Menurut Samuel, terdapat tiga unsur yang menjadi fondasi masyarakat hukum adat, yakni wilayah adat, seni dan budaya, serta sejarah.

Ketiganya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Jika salah satunya hilang, identitas masyarakat adat pun perlahan ikut memudar.

"Saya tidak yakin apakah kami masih bisa menyebut diri kami sebagai masyarakat adat ketika warisan leluhur itu tidak lagi dilestarikan dan tergerus zaman," ujar Samuel.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Tak Sampai 25 Persen Perusahaan yang Sukses Adopsi AI
Tak Sampai 25 Persen Perusahaan yang Sukses Adopsi AI
Pemerintah
UNICEF: 1 dari 5 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual Online
UNICEF: 1 dari 5 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual Online
Pemerintah
Peringati Hari Ozon Sedunia, Belantara Foundation-Resona Bank Ltd. Tanam Pohon Langka di Tahura SSH Riau yang Terdegradasi
Peringati Hari Ozon Sedunia, Belantara Foundation-Resona Bank Ltd. Tanam Pohon Langka di Tahura SSH Riau yang Terdegradasi
LSM/Figur
Karhutla di Gambut Bisa Ganggu Regenerasi Alami, Pakar UGM Jelaskan Sebabnya
Karhutla di Gambut Bisa Ganggu Regenerasi Alami, Pakar UGM Jelaskan Sebabnya
LSM/Figur
Kejar Target PLTS 100 GW, ESDM : Bauran EBT Semester II-2026 Capai 17,3 Persen, Kontribusi Energi Surya Hanya 0,51 Persen
Kejar Target PLTS 100 GW, ESDM : Bauran EBT Semester II-2026 Capai 17,3 Persen, Kontribusi Energi Surya Hanya 0,51 Persen
Pemerintah
Efek Krisis Iklim, Nyamuk Tropis Invasif Ditemukan di London
Efek Krisis Iklim, Nyamuk Tropis Invasif Ditemukan di London
Pemerintah
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
BUMN
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
LSM/Figur
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Pemerintah
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Swasta
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Pemerintah
BPDLH Siapkan Skema 'Blended Finance' untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
BPDLH Siapkan Skema "Blended Finance" untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
Pemerintah
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
LSM/Figur
United Tractors Gelar Wisuda 'Release Stunting' 2026
United Tractors Gelar Wisuda "Release Stunting" 2026
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau