KOMPAS.com-Angka kematian akibat kecelakaan lalu lintas di seluruh dunia turun sebesar 21 persen antara tahun 2011 dan 2025, meskipun ada penambahan lebih dari satu miliar kendaraan di jalanan.
Hal ini disampaikan dalam data terbaru yang dirilis oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 20 Juli 2026.
Namun, melansir Down to Earth, Minggu (23/7/2026) kawasan Asia Tenggara yang termasuk wilayah kerja WHO hanya mencatat penurunan angka kematian sebesar 2 persen.
Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan keselamatan jalan raya belum merata. Kawasan tersebut mencakup negara Bangladesh, Bhutan, Korea Utara, Indonesia, Maladewa, Myanmar, Nepal, Sri Lanka, Thailand, dan Timor-Leste dan India.
Kawasan Eropa WHO sendiri mencatat penurunan terbesar, yaitu sebesar 36 persen, diikuti oleh kawasan Pasifik Barat sebesar 15 persen. Sebaliknya, angka kematian di benua Amerika tidak mengalami perubahan, sementara di kawasan Afrika justru melonjak naik sebesar 17 persen.
Baca juga: Panas dari Lalu Lintas Berdampak pada Kenaikan Suhu Kota
Di tingkat global, kecelakaan jalan raya masih merenggut 1,16 juta jiwa setiap tahunnya. Hal ini menjadikan cedera akibat kecelakaan lalu lintas sebagai penyebab utama kematian di kalangan anak-anak dan remaja berusia 5 hingga 29 tahun.
Data terbaru WHO ini dirilis saat negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyetujui deklarasi baru tentang keselamatan jalan raya.
Deklarasi ini bertujuan untuk mempercepat langkah mencapai Target Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), yaitu memangkas angka kematian dan cedera parah akibat kecelakaan hingga 50 persen pada tahun 2030.
Melalui deklarasi tersebut, setiap negara berkomitmen menjalankan strategi keselamatan jalan raya nasional yang memiliki target, tenggat waktu, dan anggaran yang jelas.
Pemerintah tiap negara juga berjanji untuk memperkuat lembaga keselamatan jalan, membenahi pengumpulan data kecelakaan, menindak tegas pelanggaran hukum lalu lintas, serta memastikan bahwa jalan, fasilitas umum, dan kendaraan memenuhi standar keselamatan internasional.
Pilar utama dari deklarasi ini adalah pendekatan Sistem Aman. Pendekatan ini menyadari bahwa kesalahan manusia saat berkendara memang tidak bisa dihindari.
Oleh karena itu, diperlukan desain jalan yang lebih aman, kendaraan yang lebih baik, batas kecepatan yang lebih rendah, dan aturan yang lebih ketat untuk menekan risiko kecelakaan fatal. Pendekatan ini juga mendorong kerja sama yang lebih erat antara pemerintah, pihak swasta, masyarakat, dan akademisi.
WHO memperingatkan bahwa perubahan pola transportasi menimbulkan tantangan baru. Jumlah sepeda motor di seluruh dunia telah melonjak lebih dari tiga kali lipat sejak tahun 2011, terdorong oleh pesatnya layanan ojek online dan pengiriman barang.
Pengendara sepeda motor kini menyumbang hampir sepertiga dari total kematian akibat kecelakaan lalu lintas di dunia. WHO menyatakan bahwa memakai helm bersertifikat standar dapat mengurangi risiko kematian saat kecelakaan hingga lebih dari enam kali lipat.
Penggunaan skuter listrik, sepeda listrik, dan kendaraan tanpa pengemudi yang terus meningkat juga membutuhkan aturan baru serta standar keselamatan yang jelas. WHO menyatakan sedang bekerja sama dengan para ahli untuk memperketat hukum dan memastikan teknologi transportasi baru ini aman digunakan.
Baca juga: Sederet Tantangan Dekarbonisasi Transportasi, dari Bahan Bakar sampai Insentif EV
Selain merenggut nyawa, kecelakaan jalan raya juga membawa beban ekonomi yang berat. WHO memperkirakan bahwa cedera akibat kecelakaan lalu lintas memakan biaya sekitar 3 persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB) di sebagian besar negara. Biaya ini mencakup pengeluaran medis, hilangnya produktivitas kerja, serta dampak sosial bagi keluarga korban dan masyarakat.
Deklarasi PBB menegaskan bahwa jalan raya yang lebih aman tidak hanya menyelamatkan nyawa, tetapi juga membantu menciptakan kota yang lebih sehat dan ramah lingkungan. Hal ini dicapai dengan mendukung kebiasaan berjalan kaki, bersepeda, dan penggunaan transportasi umum, sekaligus mengurangi kemacetan serta polusi udara.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya