KOMPAS.com - Gelombang panas ekstrem di Eropa yang dipicu oleh perubahan iklim mulai mengganggu sumber energi nuklir di benua tersebut, setelah sebelumnya menimbulkan kerusakan parah akibat kebakaran hutan dan kekeringan.
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Hungaria dan Rumania harus dihentikan operasinya setelah permukaan air sungai Danube yang melintasi dua negara tersebut merosot ke titik terendah yang pernah tercatat sejak 30 tahun lalu.
Melansir Down to Earth, Jumat (31/7/2026) Perdana Menteri Péter Magyar Hungaria, menyatakan bahwa satu-satunya PLTN di negara tersebut terpaksa harus dimatikan total untuk pertama kalinya akibat rekor terendah pada permukaan air Sungai Danube.
Baca juga: Di Tengah Krisis Iklim, Perusahaan Energi Fosil Diproyeksikan Cetak Rekor Laba
PLTN Paks dibangun pada era Uni Soviet dan mengandalkan air Sungai Danube untuk sistem pendinginnya. Namun karena permukaan air sungai sudah turun sangat drastis, mesin pompa kini tidak mampu lagi menyedot air tersebut.
Akibatnya, pasokan energi di Hungaria bisa berada dalam kondisi kritis mulai 3 Agustus akibat berhentinya operasional PLTN Paks dan gelombang panas yang masih berlangsung, di mana suhu diperkirakan akan bertahan di sekitar 37 derajat C selama sepekan.
Perdana Menteri meminta warga Hungaria untuk membatasi kegiatan yang membutuhkan banyak listrik pada jam-jam sibuk yakni pukul 17.00 hingga 22.00, termasuk mengisi daya mobil listrik dan menggunakan pendingin ruangan.
Rumania, yang menjadi lokasi muara sungai Danube juga terpaksa mematikan satu dari dua reaktor nuklirnya di PLTN Cernavoda, yang selama ini menyumbang sekitar 20 persen kebutuhan listrik negara tersebut.
Reaktor tersebut telah dimatikan awal pekan ini. Jika reaktor yang tersisa juga ikut dimatikan, Rumania tidak akan memiliki produksi energi nuklir sama sekali, sama seperti Hungaria.
Sementara itu, di wilayah barat benua Eropa, Prancis terpaksa mematikan reaktor nuklir Golfech-2 yang berada di tepi Sungai Garonne yang di wilayah barat daya Prancis, yang pekan lalu juga dilanda kebakaran hutan hebat.
Perusahaan listrik milik pemerintah Prancis, Électricité de France SA, tetap mematikan reaktor Golfech-2 tersebut di tengah gelombang panas yang masih melanda Eropa.
Banyak PLTN di Prancis yang bergantung pada air sungai untuk mendinginkan mesin, sebelum mengalirkan air yang sudah hangat tersebut kembali ke sungai.
Namun, aturan lingkungan membatasi pembuangan air hangat itu jika suhu sungai sudah telanjur tinggi. Akibatnya, reaktor nuklir terpaksa menurunkan jumlah produksi listriknya.
Baca juga: Kapasitas Nuklir Dunia Diprediksi Bertumbuh pada 2050
Uni Eropa sendiri berharap dapat mengakhiri ketergantungannya pada impor energi dari Rusia melalui rencana strategis bernama REPowerEU. Rencana kerja ini menargetkan penghentian penggunaan gas dan minyak bumi dari Rusia, serta mengganti bahan bakar nuklir asal negara tersebut.
Di bawah rencana ini, Uni Eropa berniat mengganti pasokan uranium dan bahan bakar reaktor asal Rusia yang digunakan pada reaktor buatan era Soviet dengan pemasok dari Eropa dan negara-negara Barat lainnya. Uni Eropa juga berniat menghentikan kontrak pembelian baru untuk bahan nuklir asal Rusia melalui Badan Pasokan Euratom.
Namun, mengingat Eropa adalah benua dengan kenaikan suhu tercepat dan perubahan iklim makin sering memicu bencana cuaca ekstrem seperti kebakaran hutan dan kekeringan, rencana Uni Eropa untuk lepas dari ketergantungan energi Rusia ini menjadi sangat diragukan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya