Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PBB Peringatkan Dampak Menguatnya El Nino Pengaruhi Pemanasan Global

Kompas.com, 4 Agustus 2026, 17:20 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Fenomena El Niño yang makin kuat dan berpotensi memecahkan rekor tertinggi sepanjang masa ibarat menyiram bensin ke planet yang sudah terbakar dan membawa dunia ke wilayah yang belum pernah terjamah sebelumnya.

Hal tersebut diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres.

"Dua bulan lalu, saya memperingatkan bahwa El Niño sudah di ambang pintu. Sekarang ia sudah masuk ke dalam rumah dan makin menaikkan suhunya," katanya dikutip dari Phys, Sabtu (1/8/2026)

Pola cuaca El Niño menghangatkan suhu permukaan air laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Hal ini memicu perubahan angin, tekanan udara, dan pola curah hujan di seluruh dunia, serta membuat suhu global secara keseluruhan menjadi lebih panas.

Baca juga: Malaysia Waspadai Suhu Tembus 40 Derajat Celsius Awal 2027 akibat El Nino

Perubahan iklim akibat ulah manusia pun dapat memperparah dampak El Niño, karena lautan dan udara yang makin panas menyediakan energi serta kelembapan berlebih yang memicu cuaca ekstrem, seperti gelombang panas dan curah hujan yang sangat tinggi.

"Kita telah melewati musim panas dengan cuaca yang sangat ekstrem, rekor gelombang panas yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ini berakibat pada kebakaran hutan mengerikan yang melalap Spanyol, Prancis, dan wilayah lainnya serta ribuan nyawa melayang akibat kondisi yang sangat menyengat," kata Guterres.

"Namun, menurut data ilmiah terbaru, ini semua barulah pemanasan," paparnya lagi.

Ia menyampaikan bahwa suhu air di Samudra Pasifik yang memicu El Niño belum pernah sepanas ini di awal musim. Prakiraan terbaru dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menemukan bahwa suhu permukaan laut saat ini rata-rata 3 derajat C lebih tinggi dari biasanya.

Prediksi WMO menunjukkan bahwa hingga bulan Oktober mendatang, hampir seluruh wilayah daratan di Bumi diperkirakan akan memiliki suhu yang lebih panas dari biasanya.

"Jika digabungkan, semua kondisi ini berisiko memecahkan setiap rekor musim yang ada serta memicu dampak yang jauh lebih parah di seluruh dunia. Kita sedang berada di wilayah yang belum pernah kita jalani sebelumnya," kata Guterres.

Hujan di bawah rata-rata

Risiko yang ada tidak hanya sebatas udara panas. Musim hujan di India saat ini jauh di bawah rata-rata, sementara kondisi yang lebih panas dan kering diperkirakan akan melanda wilayah Amerika Tengah, Karibia, sebagian Amerika Selatan, Asia Selatan, Pasifik Barat Daya, Eropa, hingga Afrika.

"Kesimpulannya sudah jelas. Krisis iklim kini melaju makin kencang," tegas Guterres,

Ia pun memaparkan langkah-langkah yang perlu diambil di empat bidang utama.

Baca juga: El Nino Perparah Degradasi Hutan dan Lahan,

Pertama, lindungi masyarakat dari cuaca panas melalui rencana penanganan panas di tingkat kota maupun nasional, serta sistem peringatan dini, termasuk memperluas akses ke pendingin yang ramah lingkungan.

Kedua, buat lingkungan kerja lebih aman, dengan pemerintah menetapkan aturan batas suhu panas agar para pekerja yang rentan seperti pekerja di industri tekstil tidak mempertaruhkan nyawa mereka saat bekerja.

Ketiga, bangun perlindungan dari cuaca panas ekstrem ke dalam desain kota, rumah, sekolah, dan rumah sakit, serta masukkan hal ini ke dalam perencanaan dan anggaran pemerintah.

Keempat dan yang paling mendasar, dunia harus berhenti memperparah krisis ini. Dunia harus mengurangi penggunaan bahan bakar fosil yang memanaskan planet ini, bukannya menganggap setiap bencana sebagai kejadian biasa yang berdiri sendiri.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Bagaimana Asia Memenuhi Kebutuhan Energi untuk Lonjakan Pusat Data?
Bagaimana Asia Memenuhi Kebutuhan Energi untuk Lonjakan Pusat Data?
Pemerintah
RUU Pangan Dinilai Belum Cukup Antisipasi Krisis Iklim
RUU Pangan Dinilai Belum Cukup Antisipasi Krisis Iklim
LSM/Figur
Kebakaran Hutan Kalimantan: 60 Persen Habitat Orang Utan Terdampak
Kebakaran Hutan Kalimantan: 60 Persen Habitat Orang Utan Terdampak
Pemerintah
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Pemerintah
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Swasta
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Pemerintah
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Pemerintah
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
LSM/Figur
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
Pemerintah
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Swasta
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Pemerintah
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau