Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 4 Agustus 2026, 20:49 WIB
Aningtias Jatmika,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Krisis iklim dan pesatnya urbanisasi mendorong perubahan cara masyarakat memandang hunian.

Kini, rumah tidak lagi dipilih berdasarkan harga atau lokasi semata, tetapi juga kemampuan kawasan dalam menghadirkan lingkungan yang sehat, efisien, dan lebih ramah terhadap alam.

Konsep pembangunan berkelanjutan pun semakin menjadi pertimbangan penting dalam industri properti.

Berbagai pendekatan, seperti green building, desain pasif, dan pengembangan kawasan hijau mulai diterapkan untuk mengurangi dampak pembangunan terhadap lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas hidup penghuninya.

Baca juga: PLN Ubah Kantor Jadi Sumber Energi Mandiri lewat Smart and Green Building

Salah satu acuan yang banyak digunakan adalah standar Greenship Neighborhood (NH 1.0) yang dikembangkan Green Building Council Indonesia (GBCI).

Standar tersebut menetapkan tujuh aspek utama kawasan berkelanjutan, yakni peningkatan ekologi lahan, konektivitas dan mobilitas, pengelolaan air, pengelolaan limbah dan material, kesejahteraan masyarakat, bangunan dan efisiensi energi, serta inovasi pengembangan kawasan.

Penerapan prinsip-prinsip tersebut diyakini dapat menekan dampak lingkungan akibat pembangunan, menjaga kualitas ekosistem sekaligus menciptakan iklim mikro yang lebih nyaman di kawasan perkotaan.

Hunian yang lebih adaptif terhadap lingkungan

Kesadaran terhadap pentingnya keberlanjutan mulai tecermin dalam rancangan sejumlah kawasan hunian baru. Salah satunya diterapkan pada Klaster Riverie di kawasan Shila at Sawangan, Depok, Jawa Barat.

Baca juga: Dari Rumah Pertama ke Ketahanan Keluarga, Kala Ekosistem Hunian Bangun Rasa Aman dan Masa Depan

Meski dibangun di atas kavling berukuran 5 x 10 meter, rumah-rumah di klaster tersebut dirancang agar tetap memperoleh pencahayaan dan sirkulasi udara alami secara optimal.

Hal itu diwujudkan melalui tinggi lantai hingga plafon mencapai 3,7 meter, bukaan yang lebih luas, serta penerapan desain split-level pada ruang keluarga sehingga aliran udara dapat bergerak lebih baik ke seluruh ruangan.

Pendekatan desain pasif seperti ini berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap pencahayaan dan pendingin udara pada siang hari sehingga konsumsi energi rumah tangga dapat ditekan.

Pembagian ruang juga dirancang berdasarkan fungsi dengan area publik berada di lantai dasar dan ruang privat, seperti kamar tidur ditempatkan di lantai atas untuk meningkatkan kenyamanan penghuni.

Ruang terbuka hijau jadi bagian dari perencanaan kawasan

Shila at Sawangan dikembangkan di atas lahan seluas 130 hektare yang dikelilingi sekitar 26 hektare danau beserta anak sungai (creek) alami. Pengembang menyebut sekitar 55 persen dari total area pengembangan dipertahankan sebagai ruang terbuka hijau.

Baca juga: Material Berkelanjutan Bakal Diterapkan di Hunian Bersubsidi

Keberadaan ruang hijau tersebut diharapkan tidak hanya menghadirkan lanskap yang lebih asri, tetapi juga membantu menjaga daya resap air, mendukung keanekaragaman hayati, serta berkontribusi terhadap kualitas udara dan suhu lingkungan di tengah pesatnya perkembangan kawasan selatan Jakarta dan Depok.

Selain mengedepankan aspek ekologis, kawasan ini juga dirancang dengan akses menuju Jalan Bojongsari, Jalan Muchtar, Tol Pamulang, dan Tol Desari untuk mendukung konektivitas masyarakat.

Sebagai informasi, Klaster Riverie merupakan hasil kolaborasi Vasanta Group dan MC Urban Development Indonesia (MCUDI), anak perusahaan Mitsubishi Corporation. Hunian ini dipasarkan mulai dari Rp 890 jutaan dan pada akhir Juli 2026 sebagian unitnya telah diserahterimakan kepada pembeli.

Presiden Direktur Shila at Sawangan Mario Susanto menegaskan bahwa masyarakat kini semakin mempertimbangkan kualitas lingkungan ketika memilih tempat tinggal.

"Kami melihat masyarakat saat ini semakin selektif dalam memilih tempat tinggal, tidak hanya dari sisi harga, tetapi juga kualitas ruang, lingkungan, serta potensi nilai jangka panjangnya. Oleh karena itu, kami berupaya menjaga keseimbangan antara aspek-aspek tersebut dalam setiap pengembangan yang kami lakukan," ujar Mario dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Selasa (4/8/2026).

Baca juga: Lari Tambah Usia hingga 7 Tahun, Semakin Baik jika di Kawasan Hijau

Senada, Presiden Direktur MCUDI Hideaki Nakajima menilai keberhasilan pembangunan kawasan tidak hanya diukur dari penyelesaian bangunan, tetapi juga keberlanjutan lingkungan yang tercipta.

"Kami percaya bahwa kualitas sebuah kawasan tidak hanya ditentukan oleh bangunannya, tetapi juga oleh lingkungan yang terbentuk dan keberlanjutan pengembangannya," kata Nakajima.

Dengan meningkatnya perhatian terhadap isu iklim dan kualitas hidup di perkotaan, konsep kawasan hijau diperkirakan akan semakin menjadi pertimbangan utama dalam pengembangan properti.

Bagi pengembang, keberlanjutan bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan menjadi bagian dari strategi untuk membangun lingkungan yang lebih tangguh menghadapi tantangan masa depan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan
Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan
LSM/Figur
Bezos & DiCaprio Kucurkan Rp3,58 Triliun Selamatkan 100 Spesies Langka
Bezos & DiCaprio Kucurkan Rp3,58 Triliun Selamatkan 100 Spesies Langka
Pemerintah
Pertama di Dunia, Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Kantongi Sertifikasi Green Terminal
Pertama di Dunia, Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Kantongi Sertifikasi Green Terminal
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau