Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bumi Makin Panas, Studi Peringatkan Heat Stress Ancam Miliaran Orang

Kompas.com, 5 Agustus 2026, 08:30 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Penelitian baru mengungkap hubungan peningkatan heat stress dengan makin besarnya risiko kesehatan di seluruh dunia, sekaligus menegaskan perlunya rencana penanganan panas dan sistem peringatan dini yang lebih baik.

Heat stress sendiri merupakan kondisi ketika tubuh menerima paparan panas berlebih hingga tidak mampu lagi mendinginkan dirinya sendiri.

Melansir Eco Business, Jumat (31/6/2026) perubahan iklim memicu cuaca panas ekstrem yang sering terjadi dan sudah banyak diteliti. Namun, dampak tambahan berupa tekanan panas yang dirasakan oleh miliaran orang akibat cuaca ekstrem tersebut masih jarang dipahami secara mendalam.

Meski demikian, sebuah studi baru yang diterbitkan di jurnal Nature Climate Change berupaya menganalisis hal tersebut.

Baca juga: Gelombang Panas Panjang Berisiko Picu Darurat Kesehatan Mental

Penduduk terkena heat stress

Studi ini menganalisis data iklim selama lebih dari 70 tahun dari kumpulan data ERA5-HEAT, yang mencakup data tekanan panas sejak tahun 1940.

Para peneliti menggabungkan informasi iklim tersebut dengan data jumlah penduduk untuk memperkirakan seberapa banyak orang di seluruh dunia yang terpapar suhu panas yang berbahaya.

Studi ini menemukan bahwa suhu malam hari yang "dirasakan tubuh" meningkat lebih cepat dibandingkan suhu siang hari. Sekitar 70 persen penduduk dunia kini mengalami setidaknya 90 hari heat stress tingkat tinggi setiap tahunnya, meningkat dari 55 persen pada tahun 1970-an.

Para peneliti menemukan bahwa bahaya heat stress makin parah di setiap benua selama lima dekade terakhir, termasuk di wilayah yang sebelumnya tidak terbiasa dengan panas tersebut, seperti sebagian Eropa. Gelombang panas baru-baru ini di Eropa bahkan disebut telah menyebabkan lebih dari 10.000 kematian tambahan.

"Tekanan panas sudah memengaruhi kehidupan di seluruh dunia dan bukan lagi ancaman masa depan," kata Rebecca Emerton, penulis utama studi tersebut sekaligus ilmuwan senior di European Centre for Medium-Range Weather Forecasts.

Panas ekstrem menyebabkan lebih banyak kematian manusia dibandingkan bencana cuaca ekstrem lainnya. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok yang paling rentan. Masalah kesehatan yang sudah ada sebelumnya seperti asma, diabetes, dan penyakit jantung juga bisa menjadi sangat mematikan akibat panas.

“Studi ini memberikan bukti kuat bahwa heat stress terus meningkat di seluruh dunia dan makin banyak orang terpapar kondisi berbahaya. Ini menjadi dasar yang lebih kuat untuk menilai risiko kesehatan akibat iklim,” kata Nasiru Idris, direktur Ibrahim Usman Jibril Institute for the Built Environment di Nasarawa State University, Nigeria.

Baca juga: Pulau Tropis Diintai Risiko Panas Lembap Berbahaya

“Kita tidak akan bisa bertahan dari panas ekstrem ini tanpa adanya bantuan dana iklim yang cepat dan adil,” tambah Idris, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

Christopher Callahan, seorang ilmuwan sistem Bumi dari Indiana University di AS yang juga tidak terlibat dalam studi ini, menyebut metode yang digunakan sangat kuat.

Namun, ia mengingatkan bahwa kumpulan data ERA5 mungkin masih menilai panas ekstrem terlalu rendah di beberapa wilayah Negara-Negara Selatan (Global South), padahal daerah tersebut paling rentan dan catatan sejarah iklimnya masih terbatas.

Para peneliti menekankan pentingnya pemerintah memperkuat rencana penanganan panas dan kesehatan, memperbaiki sistem peringatan dini, serta memperhitungkan heat stress ke dalam perencanaan dan penyesuaian menghadapi perubahan iklim.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Pemerintah
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Pemerintah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Swasta
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Swasta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
LSM/Figur
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau