Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Bahkan, angka tersebut masih bergantung pada campuran dengan solar fosil. Jika suatu saat teknologi penerapan B100 benar-benar layak secara luas, maka jumlah kendaraan yang dapat didukung turun menjadi sekitar 2–3 kendaraan per hektar per tahun.
Perbandingan ini bukan sekadar berbeda, melainkan timpang secara ekstrem. Dalam mendukung mobilitas, satu hektar PLTS dapat hampir 70 kali lebih produktif dibandingkan satu hektar sawit untuk biodiesel B50, dan bahkan mendekati 140 kali lebih tinggi dibandingkan skenario B100.
Lantas, apakah kebijakan biofuel berbasis lahan dapat dinilai sebagai langkah keliru? Tentu tidak sesederhana itu.
Biodiesel memiliki keunggulan nyata: mudah disimpan, kompatibel dengan infrastruktur yang sudah ada, serta menopang industri domestik yang besar.
Namun, potensi energi surya saat ini juga semakin menjanjikan. Di Indonesia, berbagai laporan menunjukkan bahwa levelized cost of energy (biaya pembangkitan listrik rata-rata sepanjang umur proyek) dari PLTS tanpa penyimpanan (baterai) telah turun hingga di bawah 6 sen dolar AS per kWh—lebih rendah dibandingkan banyak pembangkit konvensional.
Di tengah tekanan lahan yang semakin besar—antara kebutuhan pangan, konservasi, dan pembangunan—setiap keputusan seharusnya diuji dengan satu pertanyaan sederhana: apakah ini penggunaan terbaik dari setiap hektar yang kita miliki?
Dalam kerangka ini, energi surya yang langsung dikonversi menjadi listrik untuk kendaraan listrik menunjukkan keunggulan yang tak mungkin diabaikan. Produktivitas energinya per satuan luas lahan jauh lebih tinggi.
Namun demikian, berbagai faktor lain juga harus diperhitungkan: harga kendaraan listrik, dinamika industri, potensi persaingan dengan kebutuhan pangan, hingga penerimaan masyarakat.
Biofuel tidak untuk ditinggalkan. Perannya tetap penting, tetapi perlu ditempatkan secara lebih tepat: sebagai solusi yang relatif cepat dalam fase transisi energi—terutama pada kondisi krisis—serta untuk sektor-sektor yang sulit dielektrifikasi, seperti transportasi berat, alat berat, dan wilayah terpencil.
Pada saat yang sama, keandalan sistem kelistrikan perlu terus ditingkatkan agar mampu mengakomodasi sumber energi terbarukan yang bersifat intermiten, seperti surya dan angin.
Pada akhirnya, kebijakan energi yang cerdas bukan tentang memilih satu teknologi dan menolak yang lain, melainkan menempatkan setiap sumber energi pada peran yang paling efisien dan paling masuk akal. Transisi energi harus dikelola secara profesional dan bijak.
Jika tidak, maka kita berisiko melakukan kesalahan mendasar: menggunakan terlalu banyak lahan untuk menghasilkan terlalu sedikit energi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya