Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Leopold Oscar Nelwan
Dosen

Dosen di Divisi Teknik Energi Terbarukan, Departemen Teknik Mesin dan Biosistem IPB University

Menimbang Energi Surya Vs Biofuel Lewat "Hitung Cepat"

Kompas.com, 5 Agustus 2026, 16:25 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

BELASAN tahun lalu, saat saya melakukan riset di salah satu institut penelitian pangan di Tsukuba, Jepang, pembimbing saya terlibat dalam riset lain mengenai konversi jerami padi menjadi etanol. Namun, bukan melalui pemanfaatan lignoselulosa yang merupakan komponen utamanya.

Saya bertanya ke beliau, mengapa tidak mengembangkan dan mengoptimasi teknologi lignoselulosa untuk etanol?

Ia menjawab: "…rasanya lebih baik mengoptimalkan teknologi mobil hibrid…”. Jawaban yang membuat saya tertegun.

Pemilihan sumber dan teknologi energi memang selayaknya dilihat secara utuh, bukan secara parsial. Namun dalam praktiknya, kita sering terjebak pada satu solusi tertentu dan luput melihat alternatif lain yang mungkin lebih efektif.

Padahal, energi memiliki satu keistimewaan, yaitu dapat dikonversi dari satu bentuk ke bentuk lain. Keistimewaan ini membuka banyak kemungkinan—tetapi sekaligus menuntut kita untuk memilih dengan lebih cermat.

Sekilas, biofuel tampak sebagai pilihan paling praktis untuk kendaraan dibandingkan energi surya. Namun, benarkah demikian?

Mari kita gunakan “hitung cepat”—bukan dalam arti quick count seperti dalam pemilu, melainkan perhitungan singkat untuk menilai kelayakan suatu solusi (back-of-the-envelope calculation).

Dengan cara ini, kita bisa langsung menguji satu pertanyaan sederhana, tapi mendasar: berapa banyak mobil yang sebenarnya bisa “digerakkan” oleh satu hektar lahan?

Di Indonesia, energi surya yang dikonversi ke listrik fotovoltaik rata-rata memiliki faktor kapasitas 0.18. PLTS tapak (ground) yang diinstalasi dengan kerapatan 1.2 MWp per ha, maka akan menghasilkan 1.2 x 8760 jam x 0.18 = 1892 MWh per tahun per ha.

Dengan efisiensi charging, misalnya 85 persen, maka listrik yang disuplai ke mobil adalah 1892 x 0.85 = 1608 MWh per tahun per ha.

Jika digunakan asumsi rata-rata konsumsi listrik dari kendaraan listrik (EV) adalah 0.2175 kWh per km, maka PLTS tersebut dapat mendayai perjalanan (1608 MWh x 1000 kWh/MWh)/0.2175 kWh/km = 7394648 km per tahun atau dengan asumsi setiap mobil berjalan 20.000 km per tahun akan setara dengan 369-370 mobil.

Bandingkan dengan kendaraan yang menggunakan biodiesel berbasis CPO. Satu hektar kebun kelapa sawit yang dikelola dengan baik di Indonesia berpotensi menghasilkan sekitar 5 ton CPO per tahun, atau setara dengan sekitar 5.500 liter biodiesel.

Dengan asumsi kendaraan diesel mengkonsumsi 10 km per liter biosolar B50, maka kontribusi biodieselnya setara dengan sekitar 20 km per liter biodiesel murni, karena separuh energi masih disuplai oleh solar fosil.

Dengan demikian, 5.500 liter biodiesel hanya mampu menopang perjalanan sekitar 110.000 km per tahun.

Jika diasumsikan setiap kendaraan menempuh 20.000 km per tahun, maka satu hektar lahan sawit hanya mampu mendukung sekitar 5–6 kendaraan.

Bahkan, angka tersebut masih bergantung pada campuran dengan solar fosil. Jika suatu saat teknologi penerapan B100 benar-benar layak secara luas, maka jumlah kendaraan yang dapat didukung turun menjadi sekitar 2–3 kendaraan per hektar per tahun.

Ilustrasi pemasangan panel solarShutterstock Ilustrasi pemasangan panel solar
Perbandingan ini bukan sekadar berbeda, melainkan timpang secara ekstrem. Dalam mendukung mobilitas, satu hektar PLTS dapat hampir 70 kali lebih produktif dibandingkan satu hektar sawit untuk biodiesel B50, dan bahkan mendekati 140 kali lebih tinggi dibandingkan skenario B100.

Lantas, apakah kebijakan biofuel berbasis lahan dapat dinilai sebagai langkah keliru? Tentu tidak sesederhana itu.

Biodiesel memiliki keunggulan nyata: mudah disimpan, kompatibel dengan infrastruktur yang sudah ada, serta menopang industri domestik yang besar.

Namun, potensi energi surya saat ini juga semakin menjanjikan. Di Indonesia, berbagai laporan menunjukkan bahwa levelized cost of energy (biaya pembangkitan listrik rata-rata sepanjang umur proyek) dari PLTS tanpa penyimpanan (baterai) telah turun hingga di bawah 6 sen dolar AS per kWh—lebih rendah dibandingkan banyak pembangkit konvensional.

Di tengah tekanan lahan yang semakin besar—antara kebutuhan pangan, konservasi, dan pembangunan—setiap keputusan seharusnya diuji dengan satu pertanyaan sederhana: apakah ini penggunaan terbaik dari setiap hektar yang kita miliki?

Dalam kerangka ini, energi surya yang langsung dikonversi menjadi listrik untuk kendaraan listrik menunjukkan keunggulan yang tak mungkin diabaikan. Produktivitas energinya per satuan luas lahan jauh lebih tinggi.

Namun demikian, berbagai faktor lain juga harus diperhitungkan: harga kendaraan listrik, dinamika industri, potensi persaingan dengan kebutuhan pangan, hingga penerimaan masyarakat.

Biofuel tidak untuk ditinggalkan. Perannya tetap penting, tetapi perlu ditempatkan secara lebih tepat: sebagai solusi yang relatif cepat dalam fase transisi energi—terutama pada kondisi krisis—serta untuk sektor-sektor yang sulit dielektrifikasi, seperti transportasi berat, alat berat, dan wilayah terpencil.

Pada saat yang sama, keandalan sistem kelistrikan perlu terus ditingkatkan agar mampu mengakomodasi sumber energi terbarukan yang bersifat intermiten, seperti surya dan angin.

Pada akhirnya, kebijakan energi yang cerdas bukan tentang memilih satu teknologi dan menolak yang lain, melainkan menempatkan setiap sumber energi pada peran yang paling efisien dan paling masuk akal. Transisi energi harus dikelola secara profesional dan bijak.

Jika tidak, maka kita berisiko melakukan kesalahan mendasar: menggunakan terlalu banyak lahan untuk menghasilkan terlalu sedikit energi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan
Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan
LSM/Figur
Bezos & DiCaprio Kucurkan Rp3,58 Triliun Selamatkan 100 Spesies Langka
Bezos & DiCaprio Kucurkan Rp3,58 Triliun Selamatkan 100 Spesies Langka
Pemerintah
Pertama di Dunia, Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Kantongi Sertifikasi Green Terminal
Pertama di Dunia, Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Kantongi Sertifikasi Green Terminal
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau