Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pakar ITB Ingatkan Bahaya Eksploitasi Air akibat El Nino

Kompas.com, 5 Agustus 2026, 19:14 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

‎KOMPAS.com - Fenomena El Nino dan musim kemarau panjang diperkirakan tidak hanya meningkatkan risiko kekeringan, tetapi juga mempercepat penurunan muka tanah (*land subsidence*) di berbagai wilayah Indonesia.

Penyebab utamanya adalah meningkatnya eksploitasi air tanah ketika sumber air permukaan semakin terbatas selama musim kemarau.

Dosen Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika Institut Teknologi Bandung (ITB), Heri Andreas, mengatakan kebutuhan air untuk sektor pertanian, industri, hingga permukiman berpotensi mendorong pengambilan air tanah secara lebih masif selama El Nino berlangsung.

"Kalau melihat pernyataan pemerintah mengenai penyiapan puluhan ribu pompa bor untuk sektor pertanian, berarti akan ada eksploitasi air tanah yang semakin besar. Karena ketika air permukaan tidak tersedia, masyarakat maupun pemerintah pasti mengambil air tanah. Ini berpotensi memperparah penurunan muka tanah," ujar Heri kepada Kompas.com, Senin (3/8/2026).

Baca juga: Puncak El Nino Diprediksi Antara Akhir September atau Awal Oktober 2026

Menurut Heri, indikasi tersebut terlihat dari berbagai program pemerintah untuk menghadapi kekeringan, seperti Irigasi Berbasis Pompa (IRPOM) dan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) yang dikembangkan Kementerian Pertanian bersama Kementerian Pekerjaan Umum (PU).

Meski mengakui dugaan tersebut masih perlu dibuktikan melalui kajian lapangan, ia menilai arah kebijakan saat ini menunjukkan kecenderungan meningkatnya eksploitasi air tanah selama El Nino.

"Meskipun masih hipotesis dan harus dibuktikan di lapangan, berbagai kebijakan pemerintah mengindikasikan bahwa eksploitasi air tanah akan semakin dimasifkan selama periode El Nino," katanya.

Heri menambahkan, tekanan terhadap air tanah tidak hanya berasal dari sektor pertanian. Industri maupun kawasan permukiman juga diperkirakan meningkatkan penyedotan air tanah karena keterbatasan pasokan air bersih dari perusahaan daerah air minum (PDAM).

Menurut dia, kondisi tersebut telah mendorong banyak masyarakat mengeksploitasi air tanah, baik secara individu maupun komunal. Bahkan, tidak sedikit pengambilan air tanah dilakukan untuk kepentingan bisnis penyedia air bersih.

Ia menilai pemerintah masih bersifat reaktif dalam menghadapi ancaman kekeringan akibat El Nino. Padahal, fenomena tersebut merupakan siklus iklim yang berulang dan dapat diprediksi, sehingga semestinya menjadi dasar penyusunan strategi jangka panjang.

"Kalau jujur, responsnya masih gagap. Solusinya lebih bersifat sesaat. Padahal, kita sudah mengalami El Nino sebelumnya sehingga seharusnya ada evaluasi dan persiapan yang lebih matang," ujarnya.

Heri juga mengkritik pendekatan yang hanya berorientasi pada pencapaian target jangka pendek tanpa mempertimbangkan dampak teknis terhadap penurunan muka tanah.

Ia mencontohkan rencana penerapan water farming yang dinilai belum menyentuh akar persoalan.

"Kalau sumber penurunan muka tanah berasal dari pengambilan air tanah dalam, mengapa solusi yang ditawarkan hanya mengisi kembali air tanah dangkal? Itu tidak langsung menyelesaikan sumber masalahnya," kata Heri.

Perlu peta jalan 10–15 tahun

Menurut Heri, pengalaman sejumlah negara seperti Singapura, Jepang, China, dan Thailand menunjukkan bahwa pembenahan sistem pengelolaan air memerlukan waktu panjang.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Pemerintah
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Pemerintah
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Pemerintah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Pemerintah
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Pemerintah
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke TEI 2026, Catat Transaksi Ekspor Rp 400 Miliar
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke TEI 2026, Catat Transaksi Ekspor Rp 400 Miliar
Desa Sejahtera Astra
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
LSM/Figur
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
Pemerintah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau