KOMPAS.com - Penggunaan teknologi AI di dunia perusahaan berkembang jauh lebih cepat daripada ketersediaan cara untuk menghitung dampaknya terhadap lingkungan seperti jumlah emisi gas rumah kaca yang dihasilkan maupun besarnya penggunaan air bersih.
Kondisi ini mendorong Watershed, sebuah perusahaan pengelola karbon untuk mengusulkan cara dasar yang bisa dipertanggungjawabkan bagi perusahaan dalam mengestimasi dampak lingkungan dari penggunaan AI mereka.
Melansir Trellis, Senin (3/8/2026) metode yang dijelaskan dalam panduan resmi pada pertengahan Juli ini menyarankan perhitungan rata-rata emisi berdasarkan token AI.
Itu merupakan potongan data atau kode kecil yang membentuk setiap perintah AI. Ukuran yang diusulkan adalah berapa kilogram emisi karbon yang dihasilkan per satu juta token, yang dilaporkan bersamaan dengan pemakaian listriknya.
Baca juga: Jurnalisme Berkualitas Kini Jadi Aset Bernilai di Era AI
Cara ini memudahkan perusahaan untuk memikirkan langkah pengurangan emisi, seperti membeli energi bersih yang setara.
"Selain itu, token adalah ukuran yang sudah sering dipantau perusahaan untuk menghitung biaya. Jadi, pelaporan emisi berbasis token bisa memanfaatkan data yang sudah ada dari tim teknis," jelas Watershed.
Data mengenai emisi AI saat ini masih sangat langka dan sering kali sifatnya terlalu umum seperti alat pemantau emisi AI baru yang menilai delapan perusahaan pusat data.
Sementara data yang rinci dan terdetail yang sebenarnya dibutuhkan untuk penghitungan emisi jauh lebih sulit dicari.
Pengembang AI papan atas seperti Anthropic dan OpenAI belum menjadikan hal ini sebagai prioritas. Perusahaan penyedia layanan awan besar memang lebih terbuka karena mereka punya target iklim sendiri, tetapi data yang mereka bagikan pun masih sangat minim detail.
Amazon sendiri telah menyediakan fitur bagi pengguna layanan cloud-nya untuk melihat sebagian dari data emisi tersebut, tetapi datanya belum dipisahkan khusus untuk penggunaan AI.
Di sisi lain, Google merilis laporan teknis pada Agustus 2025 yang merinci penggunaan energi, emisi, dan air untuk penggunaan perintah Gemini, sementara Microsoft menyajikan laporan serupa pada bulan Juni.
Proposal setebal 43 halaman dari Watershed menyadari masih minimnya data ini. Meski begitu, mereka memberikan contoh cara menghitungnya serta empat langkah yang bisa dilakukan para ahli kelestarian lingkungan saat ini.
Pertama, catat semua penyedia AI. Buat daftar vendor AI yang digunakan, lalu cek apakah AI tersebut berdiri sendiri atau sudah menyatu di dalam aplikasi kantor.
Kemudian mulai hitung dengan data yang ada. Gunakan data seadanya terlebih dahulu, seperti tingkat emisi dari jaringan listrik di lokasi tempat AI dijalankan atau dilatih.
Baca juga: Deloitte Ungkap Mayoritas Dewan Direksi Belum Punya Aturan Penggunaan AI
Selanjutnya, minta data lebih lengkap ke penyedia AI. Minta informasi tambahan seperti penggunaan energi per token, emisi dari pelatihan AI, jejak karbon pembuatan perangkat keras, hingga lokasi fisik server AI berada.
Dan terakhir segera ambil tindakan. Mulai lakukan aksi nyata, seperti membiasakan penggunaan perintah yang efisien, mengalihkan penggunaan AI ke wilayah dengan sumber listrik yang lebih bersih, atau menggunakan energi terbarukan.
“Seiring makin terbukanya data dari para penyedia AI, perusahaan akan bisa membandingkan emisi dari tiap vendor, mempertimbangkan faktor lingkungan sebelum membeli layanan, dan memantau peningkatan efisiensi dari tahun ke tahun sehingga laporan emisi bukan cuma catatan di atas kertas, tapi jadi alat bantu untuk mengambil keputusan,” ujar John Bistline, Kepala Bagian Sains di Watershed.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya