Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Peneliti Usulkan Cara Baru Hitung Emisi Gas Rumah Kaca AI, Seperti Apa?

Kompas.com, 6 Agustus 2026, 17:08 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber trellis

KOMPAS.com - Penggunaan teknologi AI di dunia perusahaan berkembang jauh lebih cepat daripada ketersediaan cara untuk menghitung dampaknya terhadap lingkungan seperti jumlah emisi gas rumah kaca yang dihasilkan maupun besarnya penggunaan air bersih.

Kondisi ini mendorong Watershed, sebuah perusahaan pengelola karbon untuk mengusulkan cara dasar yang bisa dipertanggungjawabkan bagi perusahaan dalam mengestimasi dampak lingkungan dari penggunaan AI mereka.

Melansir Trellis, Senin (3/8/2026) metode yang dijelaskan dalam panduan resmi pada pertengahan Juli ini menyarankan perhitungan rata-rata emisi berdasarkan token AI.

Itu merupakan potongan data atau kode kecil yang membentuk setiap perintah AI. Ukuran yang diusulkan adalah berapa kilogram emisi karbon yang dihasilkan per satu juta token, yang dilaporkan bersamaan dengan pemakaian listriknya.

Baca juga: Jurnalisme Berkualitas Kini Jadi Aset Bernilai di Era AI

Cara ini memudahkan perusahaan untuk memikirkan langkah pengurangan emisi, seperti membeli energi bersih yang setara.

"Selain itu, token adalah ukuran yang sudah sering dipantau perusahaan untuk menghitung biaya. Jadi, pelaporan emisi berbasis token bisa memanfaatkan data yang sudah ada dari tim teknis," jelas Watershed.

Data emisi AI masih sulit ditemukan

Data mengenai emisi AI saat ini masih sangat langka dan sering kali sifatnya terlalu umum seperti alat pemantau emisi AI baru yang menilai delapan perusahaan pusat data.

Sementara data yang rinci dan terdetail yang sebenarnya dibutuhkan untuk penghitungan emisi jauh lebih sulit dicari.

Pengembang AI papan atas seperti Anthropic dan OpenAI belum menjadikan hal ini sebagai prioritas. Perusahaan penyedia layanan awan besar memang lebih terbuka karena mereka punya target iklim sendiri, tetapi data yang mereka bagikan pun masih sangat minim detail.

Amazon sendiri telah menyediakan fitur bagi pengguna layanan cloud-nya untuk melihat sebagian dari data emisi tersebut, tetapi datanya belum dipisahkan khusus untuk penggunaan AI.

Di sisi lain, Google merilis laporan teknis pada Agustus 2025 yang merinci penggunaan energi, emisi, dan air untuk penggunaan perintah Gemini, sementara Microsoft menyajikan laporan serupa pada bulan Juni.

Langkah penghitungan emisi

Proposal setebal 43 halaman dari Watershed menyadari masih minimnya data ini. Meski begitu, mereka memberikan contoh cara menghitungnya serta empat langkah yang bisa dilakukan para ahli kelestarian lingkungan saat ini.

Pertama, catat semua penyedia AI. Buat daftar vendor AI yang digunakan, lalu cek apakah AI tersebut berdiri sendiri atau sudah menyatu di dalam aplikasi kantor.

Kemudian mulai hitung dengan data yang ada. Gunakan data seadanya terlebih dahulu, seperti tingkat emisi dari jaringan listrik di lokasi tempat AI dijalankan atau dilatih.

Baca juga: Deloitte Ungkap Mayoritas Dewan Direksi Belum Punya Aturan Penggunaan AI

Selanjutnya, minta data lebih lengkap ke penyedia AI. Minta informasi tambahan seperti penggunaan energi per token, emisi dari pelatihan AI, jejak karbon pembuatan perangkat keras, hingga lokasi fisik server AI berada.

Dan terakhir segera ambil tindakan. Mulai lakukan aksi nyata, seperti membiasakan penggunaan perintah yang efisien, mengalihkan penggunaan AI ke wilayah dengan sumber listrik yang lebih bersih, atau menggunakan energi terbarukan.

“Seiring makin terbukanya data dari para penyedia AI, perusahaan akan bisa membandingkan emisi dari tiap vendor, mempertimbangkan faktor lingkungan sebelum membeli layanan, dan memantau peningkatan efisiensi dari tahun ke tahun sehingga laporan emisi bukan cuma catatan di atas kertas, tapi jadi alat bantu untuk mengambil keputusan,” ujar John Bistline, Kepala Bagian Sains di Watershed.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan
Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan
LSM/Figur
Bezos & DiCaprio Kucurkan Rp3,58 Triliun Selamatkan 100 Spesies Langka
Bezos & DiCaprio Kucurkan Rp3,58 Triliun Selamatkan 100 Spesies Langka
Pemerintah
Pertama di Dunia, Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Kantongi Sertifikasi Green Terminal
Pertama di Dunia, Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Kantongi Sertifikasi Green Terminal
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau