Menurut dia, operasi tersebut telah dilakukan di sejumlah daerah, termasuk Danau Toba, PLTA Poso di Sulawesi, serta Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum di Jawa Barat.
"Hari ini kami sedang melaksanakan operasi di DAS Citarum agar pasokan air untuk energi, pertanian, dan kebutuhan masyarakat tetap terjaga," ujar Seto.
Di sisi lain, BMKG menilai musim kemarau justru berpotensi meningkatkan produksi listrik dari pembangkit energi terbarukan berbasis surya dan angin.
Menurut Faisal, berkurangnya tutupan awan akan meningkatkan intensitas penyinaran matahari sehingga mendukung kinerja pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Sementara itu, pembangkit listrik tenaga air (PLTA) justru membutuhkan intervensi melalui pengisian waduk agar pasokan listrik tetap terjaga.
Baca juga: El Nino dan Musim Kemarau Panjang Picu Eksploitasi Air Tanah
"Kalau energi surya dan energi angin mestinya pada musim kemarau kinerjanya lebih baik. Yang perlu intervensi justru energi yang bergantung pada sumber daya air," ujar Faisal.
Senada, Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Nizhar Marizi mengatakan intensitas sinar matahari yang meningkat selama El Niño menjadi peluang untuk mengoptimalkan produksi listrik dari PLTS.
"Dengan tutupan awan yang berkurang, intensitas sinar matahari menjadi lebih tinggi. Ini menjadi peluang untuk mengoptimalkan produksi listrik dari PLTS selama El Niño," kata Nizhar.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya