Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak

Kompas.com, 7 Agustus 2026, 15:31 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com -Laporan terbaru dari para ahli di UTS Business School memperingatkan bahaya bagi perusahaan yang terus mengabaikan bukti ilmiah dan kesadaran masyarakat tentang bahaya mikroplastik.

"Mikroplastik adalah potongan plastik yang sangat kecil yang tersebar di seluruh rantai pasokan produk hingga ke lingkungan bebas. Potongan kecil ini bahkan telah ditemukan di tempat-tempat paling terpencil di Bumi," kata Martina Linnenluecke, salah satu penulis laporan dan profesor di UTS Centre for Climate Risk and Resilience.

Melansir Phys, Rabu (5/8/2026) ada dua jenis mikroplastik. Pertama, mikroplastik primer yang sengaja ditambahkan ke dalam produk seperti cat, kosmetik, atau sabun cuci tangan. Kedua, mikroplastik sekunder yang terbentuk dari hancurnya sampah plastik di lingkungan, seperti kantong plastik yang terurai di tempat pembuangan sampah.

"Semua bukti menunjukkan bahwa kedua jenis mikroplastik ini sangat mudah menyebar dan sulit hilang. Makin banyak bukti yang memperlihatkan bahwa mikroplastik berbahaya bagi kesehatan manusia dan kelestarian alam," terang Linnenluecke.

Baca juga: Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter

Produksi plastik dunia

Laporan ilmiah bertajuk "Microplastics: Preparing for Australia's Next Regulatory Shift" mengungkapkan bahwa produksi plastik dunia kini sudah menembus lebih dari 450 juta ton per tahun. Angka ini bahkan diperkirakan bisa melonjak hampir tiga kali lipat menjadi 1,2 miliar ton jika tidak ada perubahan kebijakan.

Namun, jumlah tersebut kemungkinan besar akan dibatasi seiring makin ketatnya aturan pemerintah dalam menanggulangi pencemaran mikroplastik. Uni Eropa, beberapa negara bagian di Amerika Serikat, serta negara-negara Asia Tenggara sudah mulai memberlakukan pembatasan khusus.

"Banyak perusahaan yang tidak menyadari seberapa jauh mikroplastik telah masuk ke dalam produk mereka. Misalnya, dari 33 produk sabun cuci tangan di supermarket Australia yang kami teliti, sepertiganya terbukti mengandung mikroplastik atau bahan plastik sintetis," ujar Ross Gordon, peneliti lain dari Change for Good di UTS.

Larangan penggunaan kantong plastik sekali pakai hanyalah langkah awal dari serangkaian aturan baru yang akan diterapkan pemerintah untuk menjawab kekhawatiran masyarakat.

Namun, seiring majunya teknologi dan ilmu pengetahuan untuk mendeteksi limbah industri, perusahaan nantinya akan diwajibkan untuk mengukur jumlah mikroplastik dalam produk mereka sekaligus mengendalikan pencemaran yang dihasilkannya.

Baca juga: Studi Sebut Paparan Mikroplastik Bisa Perparah Kondisi Fatty Liver

Langkah nyata atasi mikroplastik

Laporan tersebut juga memaparkan berbagai langkah nyata yang bisa dilakukan perusahaan mulai dari sekarang untuk mengantisipasi risiko mikroplastik.

Beberapa di antaranya adalah meningkatkan pengawasan, melapor secara jujur, menerapkan sistem daur ulang , menggunakan bahan hasil daur ulang, serta menciptakan inovasi bahan baru dapat membangun kepercayaan konsumen sekaligus meningkatkan efisiensi bisnis.

"Perusahaan yang memberikan informasi secara jujur mengenai jejak mikroplastik mereka dan menyesuaikan promosinya dengan bukti nyata akan lebih mudah meraih kepercayaan konsumen dalam jangka panjang," kata Linnenluecke.

Sebaliknya, perusahaan yang tidak jujur akan menghadapi risiko nama baik yang hancur serta ancaman gugatan hukum, seiring bertambahnya kesadaran masyarakat dan makin ketatnya tuntutan transparansi.

"Pertanyaannya bukan lagi apakah rantai pasokan bahan plastik akan berubah, melainkan seberapa cepat perubahan itu terjadi dan siapa yang akan menjadi pemimpinnya," tegas Linnenluecke.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Pemerintah
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Pemerintah
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
Pemerintah
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
Pemerintah
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Pemerintah
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
LSM/Figur
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
Pemerintah
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Pemerintah
25 Juta Hektar Hutan Rumput Laut Global Terancam Lenyap akibat Krisis Iklim
25 Juta Hektar Hutan Rumput Laut Global Terancam Lenyap akibat Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau