KOMPAS.com - Kupu-kupu sering dianggap sebagai indikator perubahan alam. Dan kini sebuah penelitian global menemukan di berbagai belahan dunia, spesies ini mulai berpindah tempat.
Mereka terpaksa berpindah agar bisa bertahan hidup seiring meningkatnya suhu bumi yang mengubah lingkungan mereka.
Berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Ecology & Evolution, sekitar satu dari 10 spesies kupu-kupu telah mengalami perluasan atau penyempitan wilayah hidup, atau berpindah ke tempat yang lebih tinggi.
Dr. Shawan Chowdhury, ketua Global Change Ecology Lab di Monash University sekaligus penulis utama studi ini, menjelaskan bahwa penelitian yang menganalisis perubahan pada 1.758 spesies di 105 negara ini menunjukkan skala perubahan yang sangat mengejutkan. Perubahan ini utamanya dipicu oleh krisis iklim dan cuaca ekstrem.
"Kupu-kupu adalah sinyal peringatan dini bagi seluruh planet. Jika wilayah jelajah mereka berubah sespesifik dan sedramatis ini, itu menandakan adanya perubahan besar pada ekosistem kita," ujarnya dikutip dari Guardian, Rabu (5/8/2026).
Baca juga: Habitat Burung Laut Menyusut, Terpaksa Terbang Lebih Jauh untuk Berburu
Dari seluruh kupu-kupu yang berpindah, sekitar 80 persen di antaranya memperluas wilayah hidup mereka, biasanya dengan berpindah ke daerah-daerah baru yang suhunya menjadi cocok akibat pemanasan global.
Beberapa jenis kupu-kupu berpindah dengan sangat cepat. Sebagai contoh, kupu-kupu tawny coster yang aslinya berasal dari India, Bangladesh, dan Sri Lanka mulai masuk ke Australia pada tahun 2012 dan terus berpindah sejauh 135 kilometer setiap tahunnya.
Namun, perpindahan wilayah ini belum tentu berita baik, terutama jika mereka terpaksa pindah ke tempat yang kurang cocok dengan jumlah populasi yang sedikit.
Sementara itu sekitar 27 persen spesies kupu-kupu termasuk Cupido minimus, jenis kupu-kupu terkecil di Inggris wilayah hidupnya justru semakin menyempit dan menghilang dari daerah yang dulu biasa mereka tinggali. Jenis lainnya memilih berpindah ke daerah yang lebih tinggi atau lebih rendah.
Perluasan wilayah hidup ini terjadi di seluruh benua, terutama di wilayah tropis. Sementara itu, penyempitan wilayah hidup sebagian besar terjadi di Eropa dan Amerika Utara. Untuk perpindahan ke tempat yang lebih tinggi, hampir seluruhnya terjadi di belahan bumi utara.
Faktor penyebab perpindahan
Perubahan iklim dan cuaca ekstrem menjadi penyebab utama pergeseran ini, meski ada juga faktor lain seperti hilangnya tempat tinggal alami dan pembukaan lahan pertanian.
Di Jerman, spesies kupu-kupu cranberry fritillary kehilangan sebagian besar habitat aslinya akibat pengeringan lahan basah. Di Rumania, perluasan lahan pertanian menyebabkan wilayah hidup kupu-kupu Danube clouded yellow makin menyempit. Sementara di Brasil, kupu-kupu biru Godartiana byses justru makin meluas dari wilayah Rio de Janeiro dan Bahia hingga ke São Paulo karena suhu yang makin hangat.
Beberapa jenis kupu-kupu mengalami perluasan wilayah di satu daerah, tetapi wilayahnya justru menyempit di daerah lain. Menurut Chowdhury, kondisi ini cukup mengkhawatirkan.
"Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan terjadi pada spesies tersebut dalam jangka panjang. Apakah mereka akan terancam punah atau justru bisa bertahan hidup," katanya.
Chowdhury menegaskan bahwa rencana perlindungan kupu-kupu di seluruh dunia harus segera menyesuaikan diri dengan pergerakan spesies-spesies ini, terutama dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
Baca juga: Habitat Sangat Terfragmentasi, Macan Tutul Jawa Butuh Perhatian
“Kita sangat membutuhkan pemantauan global yang terkoordinasi, terutama di daerah tropis, untuk memahami apa yang dilakukan spesies-spesies ini, ke mana mereka pergi, dan bagaimana kita bisa melindunginya,” ujarnya.
Di Melbourne, satu jenis kupu-kupu yang terancam punah menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang menjanjikan.
Sebelum ditemukan kembali pada tahun 1986, kupu-kupu Eltham copper sempat dikira sudah punah. Kelangsungan hidupnya sangat bergantung pada hubungan unik tiga arah dengan semak asli bernama sweet bursaria dan semut Notoncus yang tinggal di akar tanaman tersebut.
Setelah bertahun-tahun dilakukan penanaman kembali dan pemulihan habitat survei lingkungan mencatat jumlah ulat pada tanaman lokal meningkat hingga hampir lima kali lipat.
Chris Farrow, petugas keanekaragaman hayati di Yarra Valley Water yang tidak terlibat dalam penelitian global tersebut, mengatakan bahwa kupu-kupu ini mulai bangkit kembali. Dan itu sebagian besar terjadi berkat kepedulian warga sekitar dan komunitas di area tersebut.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya