Menurut dia, pengembangan teknologi energi surya menjadi penting bagi Indonesia di tengah meningkatnya kebutuhan listrik dan tuntutan transisi menuju energi bersih.
Di sisi lain, pemanfaatan energi surya di Indonesia masih menghadapi tantangan dari sisi pertumbuhan kapasitas.
Analis Sistem Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan Institute for Essential Services Reform (IESR), Alvin Putra Sisdwinugraha, mengatakan pemanfaatan PLTS berkembang pesat secara global, termasuk di kawasan Asia Tenggara.
Baca juga: Percepatan PLTS Atap Diklaim Bisa Perkuat Ketahanan Listrik Nasional
Namun, Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara tetangga, seperti Vietnam, Thailand, dan Malaysia.
Menurut Alvin, semakin efisiennya modul surya dan semakin rendahnya biaya produksi, terutama produk dari China, menjadi salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan PLTS di berbagai negara.
Di Asia Tenggara, Vietnam, Thailand, dan Malaysia juga telah lebih dahulu mendorong pengembangan PLTS melalui kebijakan feed-in tariff (FiT) sebelum 2020.
Meskipun kebijakan FiT tersebut kini telah dihentikan, kapasitas PLTS di ketiga negara tersebut terus bertambah. Kapasitas PLTS atap di masing-masing negara bahkan telah mencapai lebih dari 1 gigawatt (GW).
Sementara itu, pertumbuhan PLTS di Indonesia dinilai masih relatif lambat.
“PLTS atap memang tumbuh cukup tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Namun, pendorong utamanya adalah sektor industri dan komersial yang menerapkan standar hijau,” ujar Alvin dalam webinar, Selasa (2/9/2025).
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya