Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen

Kompas.com, 8 Agustus 2026, 10:52 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Guru Besar ke-254 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Bambang Arip Dwiyantoro mengembangkan teknologi energi surya terintegrasi (integrated solar cell) untuk meningkatkan efisiensi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

Hasil penelitian Bambang menunjukkan, konfigurasi teknologi yang dikembangkan mampu meningkatkan daya listrik hingga lebih dari 750 persen dibandingkan model standar.

Menurut Bambang, temuan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kinerja PLTS tidak selalu harus dilakukan dengan memperbesar ukuran sistem. Efisiensi juga dapat ditingkatkan melalui rekayasa desain dan integrasi sejumlah teknologi.

“Pendekatan ini membuka peluang penerapan pembangkit listrik tenaga surya yang sederhana, ekonomis, dan sesuai dengan kondisi wilayah Indonesia,” ujar Bambang, dilansir dari laman resmi ITS, Kamis (6/8/2026).

Baca juga: Lautan Luas Pasang PLTS di Delapan Lokasi untuk Pangkas Karbon

Salah satu teknologi yang dikembangkan Bambang adalah Solar Chimney Power Plant (SCPP). Sistem ini memanfaatkan panas matahari untuk menghasilkan aliran udara yang kemudian digunakan untuk memutar turbin dan menghasilkan listrik.

Bambang mengoptimalkan desain absorber dan geometri cerobong melalui pendekatan eksperimen serta simulasi Computational Fluid Dynamics (CFD). Optimalisasi tersebut ditujukan untuk meningkatkan performa sistem dalam mengonversi energi matahari menjadi listrik.

Manfaatkan limbah untuk pendingin panel

Selain mengembangkan sistem solar chimney, Bambang merancang teknologi pendingin pasif untuk panel surya menggunakan serat kelapa sawit dan ampas tebu.

Pemanfaatan limbah biomassa lokal tersebut ditujukan untuk menjaga temperatur panel tetap optimal tanpa membutuhkan tambahan energi listrik.

“Ini sekaligus meningkatkan nilai guna limbah pertanian melalui konsep ekonomi sirkular,” kata Bambang yang merupakan alumnus doktoral National Taiwan University of Science and Technology (NTUST).

Bambang juga mengembangkan teknologi solar tracking untuk PLTS terapung serta sistem PLTS hibrida berbasis Energy Management System (EMS).

Berbagai inovasi tersebut kemudian diintegrasikan dalam konsep Integrated Sustainable Solar Energy System, yakni sistem yang menggabungkan peningkatan efisiensi panel surya, penyimpanan energi, dan pengelolaan distribusi daya secara berkelanjutan.

Ke depan, Bambang berencana mengembangkan teknologi Solar Chimney melalui integrasi thermal energy storage, kecerdasan buatan (AI), serta desain dalam skala yang lebih besar.

Pengembangan tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi konversi energi sekaligus mendukung sistem energi yang lebih bersih dan tangguh.

“Pengembangan energi terbarukan tidak sekadar menghadirkan teknologi baru, tetapi juga menjadi investasi bagi masa depan bangsa,” tutur dosen Departemen Teknik Mesin ITS tersebut.

Bambang menyampaikan berbagai inovasi tersebut dalam orasi ilmiah bertajuk “Optimalisasi Teknologi Panel Surya dan Solar Chimney untuk Mendukung Kemandirian Energi”.

Menurut dia, pengembangan teknologi energi surya menjadi penting bagi Indonesia di tengah meningkatnya kebutuhan listrik dan tuntutan transisi menuju energi bersih.

PLTS Indonesia masih tertinggal

Di sisi lain, pemanfaatan energi surya di Indonesia masih menghadapi tantangan dari sisi pertumbuhan kapasitas.

Analis Sistem Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan Institute for Essential Services Reform (IESR), Alvin Putra Sisdwinugraha, mengatakan pemanfaatan PLTS berkembang pesat secara global, termasuk di kawasan Asia Tenggara.

Baca juga: Percepatan PLTS Atap Diklaim Bisa Perkuat Ketahanan Listrik Nasional

Namun, Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara tetangga, seperti Vietnam, Thailand, dan Malaysia.

Menurut Alvin, semakin efisiennya modul surya dan semakin rendahnya biaya produksi, terutama produk dari China, menjadi salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan PLTS di berbagai negara.

Di Asia Tenggara, Vietnam, Thailand, dan Malaysia juga telah lebih dahulu mendorong pengembangan PLTS melalui kebijakan feed-in tariff (FiT) sebelum 2020.

Meskipun kebijakan FiT tersebut kini telah dihentikan, kapasitas PLTS di ketiga negara tersebut terus bertambah. Kapasitas PLTS atap di masing-masing negara bahkan telah mencapai lebih dari 1 gigawatt (GW).

Sementara itu, pertumbuhan PLTS di Indonesia dinilai masih relatif lambat.

“PLTS atap memang tumbuh cukup tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Namun, pendorong utamanya adalah sektor industri dan komersial yang menerapkan standar hijau,” ujar Alvin dalam webinar, Selasa (2/9/2025).

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Pemerintah
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
Pemerintah
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
LSM/Figur
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pemerintah
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
Swasta
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Swasta
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Swasta
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Pemerintah
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Pemerintah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Swasta
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau