Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039

Kompas.com, 8 Agustus 2026, 11:04 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memproyeksikan luas kawasan kedap air  di Kota Semarang akan bertambah sekitar 2.162,88 hektare hingga 2039.

Perluasan kawasan terbangun tersebut diperkirakan meningkatkan risiko banjir, memperparah penurunan muka tanah, sekaligus mengancam kawasan konservasi.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Budi Heru Santosa, mengatakan proyeksi tersebut diperoleh melalui pemodelan Cellular Automata-Markov Chain (CA-Markov) yang digunakan untuk memprediksi perkembangan tata guna lahan di masa depan.

Baca juga: Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik

Hasil pemodelan menunjukkan luas kawasan kedap air di Semarang diperkirakan meningkat dari 17.729,10 hektare pada 2024 menjadi 19.891,98 hektare pada 2039.

Menurut Budi, sekitar 53-58 persen ekspansi kawasan terbangun diproyeksikan masuk ke dalam Urban Growth Boundary (UGB) atau batas pertumbuhan perkotaan.

Padahal, berdasarkan ketentuan tata ruang, kawasan perkotaan Semarang hanya diperbolehkan berkembang hingga sekitar 55,99 persen dari total wilayah kota.

"Di sana ada kawasan konservasi, badan air, dan wilayah yang seharusnya tidak dialihfungsikan. Karena itu kami ingin mengintegrasikan rencana tata ruang dengan pemodelan spasial prediktif untuk mengevaluasi potensi perambahan lahan di masa depan," ujar Budi dalam webinar, Jumat (7/8/2026).

BRIN mencatat perluasan kawasan kedap air di Semarang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade. Pada periode 2009-2014, luas area kedap air bertambah sekitar 1.049,31 hektare, sedangkan pada 2014-2019 kembali meningkat sekitar 809,46 hektare.

Menurut Budi, pertumbuhan tersebut dipicu oleh meningkatnya jumlah penduduk, pembangunan kawasan industri dan permukiman baru, serta berkembangnya jaringan infrastruktur jalan.

Di sisi lain, lemahnya pengawasan tata ruang dan relatif murahnya harga lahan di kawasan rawan bencana turut mendorong ekspansi pembangunan ke wilayah yang seharusnya dipertahankan sebagai kawasan resapan.

Secara hidrologis, bertambahnya kawasan kedap air mengurangi kemampuan tanah menyerap air hujan. Kondisi ini meningkatkan limpasan permukaan (runoff), memperbesar risiko banjir, erosi, dan memicu fenomena urban heat island.

Baca juga: Peringati Hari Mangrove Sedunia, BLDF Tanam 3.000 Bibit di Pesisir Semarang

BRIN mengidentifikasi wilayah Karangroto, Terboyo Kulon, dan Banjardowo di Kecamatan Genuk sebagai kawasan yang mengalami tekanan pembangunan cukup tinggi.

"Pertumbuhan penduduk di Kecamatan Genuk mencapai sekitar 2,64 persen karena harga lahan dan perumahan relatif lebih murah dibandingkan pusat kota. Akibatnya okupansi lahan terus meningkat," kata Budi.

Penurunan muka tanah

Selain menghadapi ekspansi kawasan terbangun, Semarang juga dibayangi laju penurunan muka tanah yang tinggi.

Berdasarkan analisis citra satelit Sentinel-1 periode 2014-2020, BRIN menemukan wilayah Semarang bagian timur mengalami penurunan muka tanah hingga 11 sentimeter per tahun. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan kawasan sekitar Simpang Lima yang laju penurunannya kurang dari 1 sentimeter per tahun.

Hasil penelitian menunjukkan sekitar 80 persen penurunan muka tanah dipicu oleh eksploitasi air tanah secara berlebihan. Sementara itu, sekitar 6 persen dipengaruhi oleh beban infrastruktur dan proses alami berupa pemadatan tanah aluvial.

Menurut Budi, tingginya ketergantungan masyarakat dan industri terhadap air tanah menciptakan siklus yang semakin memperburuk kondisi lingkungan.

Semakin besar pengambilan air tanah, semakin cepat permukaan tanah turun. Dampaknya, banjir rob menjadi lebih sering terjadi dan intrusi air laut semakin jauh masuk ke daratan sehingga mengancam kualitas air tanah.

"Kami melihat adanya kompleksitas risiko banjir di Semarang. Curah hujan tinggi di wilayah hulu yang disertai alih fungsi lahan memperbesar banjir di hilir, yang kemudian bertemu dengan banjir rob. Akibatnya muncul banjir komposit yang mengganggu aktivitas ekonomi dan merusak infrastruktur," ujar Budi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke TEI 2026, Catat Transaksi Ekspor Rp 400 Miliar
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke TEI 2026, Catat Transaksi Ekspor Rp 400 Miliar
Desa Sejahtera Astra
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
LSM/Figur
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
Pemerintah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Pemerintah
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
LSM/Figur
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Swasta
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau