Ia dan timnya menduga bahwa suhu dingin membuat mikroba pemakan metana di lapisan tanah atas TPA menjadi tidak aktif, padahal bakteri di bagian dalam TPA yang hangat tetap aktif menghasilkan metana.
Sistem tekanan udara rendah di atmosfer juga menyebabkan peningkatan emisi metana, kemungkinan karena kondisi ini memudahkan gas-gas tersebut terlepas ke udara.
Penelitian terdahulu memang telah mengidentifikasi bahwa kondisi tekanan rendah itu penting, tetapi temuan baru ini makin mempertegas seberapa besar dampaknya. Selain itu, sistem tekanan rendah juga sering menyulitkan pemantauan lewat satelit dan pesawat karena biasanya disertai dengan gumpalan awan.
Pada akhirnya, para peneliti menemukan bahwa emisi TPA pada tahun 2023 ternyata lima kali lipat lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.
Angka tersebut belum tentu berlaku sama untuk setiap TPA, tetapi hal ini menjadi bukti jelas bahwa angka perkiraan saat ini bisa sangat berbeda jauh dari jumlah emisi yang sebenarnya.
Prinsip utamanya tetap sama yakni melakukan pengukuran secara terus-menerus dalam jangka panjang memberikan gambaran yang jauh berbeda dibanding hanya mengukur sesekali atau sekadar memakai rumus perkiraan biasa.
Baca juga: UE Usul Tunda Penerapan Denda Aturan Metana Hingga Tiga Tahun
"Saya berhati-hati untuk tidak langsung menyimpulkan seberapa luas kondisi ini terjadi di tempat lain, karena kita belum mengujinya di TPA yang lain. Namun, ini alasan yang sangat kuat untuk menerapkan metode ini di dekat TPA besar lainnya," kata Commane.
Ia menambahkan bahwa cara ini dapat dilakukan dengan biaya murah, sekaligus membantu memetakan TPA mana saja yang memiliki masalah kebocoran metana.
Sementara itu, para peneliti menyarankan siapa saja yang mengukur gas metana dengan metode standar untuk mengambil sampel di berbagai musim, serta memberikan perhatian khusus pada saat kondisi tekanan udara rendah. Mereka juga menyarankan agar para pengelola TPA yang memiliki sistem penangkap gas dapat meningkatkan penyedotan gas pada momen-momen yang tepat.
"Pada hari ketika tekanan udara tinggi, gas metana bisa menumpuk di dalam TPA karena tertahan dan tidak bisa keluar. Lalu, gas tersebut akan langsung lepas sekaligus saat tekanan udara mendadak turun. Jika pengelola tahu hal itu akan terjadi, mereka bisa menyedot gas secara lebih maksimal sesaat sebelum tekanan udara turun," jelas Hallward-Driemeier.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya