KOMPAS.com - Metana adalah gas rumah kaca yang sangat kuat karena menyebabkan pemanasan yang jauh lebih parah daripada karbondioksida. Kini, penelitian jangka panjang menunjukkan emisi metana dari tempat pembuangan akhir (TPA) kemungkinan besar jauh lebih tinggi dari perkiraan.
Hal tersebut terungkap setelah peneliti melakukan penelitian terhadap TPA New Jersey di Amerika Serikat.
Melansir Phys, Rabu (5/8/2026) penelitian yang dilakukan Lamont-Doherty Earth Observatory di Columbia University ini mengukur kadar gas langsung di lokasi secara terus-menerus dan menemukan bahwa emisi metana TPA ternyata jauh lebih tinggi dari dugaan selama ini.
Daya rusak metana dipicu oleh bentuk molekulnya yang mampu menyerap lebih banyak sinar inframerah sehingga menjadi lebih panas dibandingkan karbondioksida.
Satu ton gas metana memiliki dampak pemanasan yang setara dengan 28 ton CO2. Pada tahun 2022, metana menyumbang sekitar 12 persen dari total emisi gas rumah kaca di AS maupun secara global.
Baca juga: Satelit Bisa Deteksi Metana Secara Real-Time, Tapi Dibiarkan Tanpa Penanganan
TPA, tempat sampah organik membusuk dan menjadi makanan bagi bakteri penghasil metana, menyumbang sekitar 17 persen dari total emisi metana di AS.
Selama ini, Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA) menghitung emisi metana TPA hanya berdasarkan rumus perkiraan total sampah dan jumlah gas yang berhasil ditangkap di lokasi.
Metode lain juga hanya menebak total emisi dari data penangkapan gas tersebut. Namun, hasil pengukuran langsung di lapangan seperti menggunakan citra satelit atau pesawat pemantau menunjukkan bahwa jumlah emisi metana yang sebenarnya jauh lebih tinggi daripada hitungan resmi EPA.
Metode pemantauan menggunakan satelit dan pesawat sebenarnya memiliki keterbatasan tersendiri. Satelit bisa terhalang oleh awan atau terkecoh oleh uap air terutama jika lokasi TPA berada di dekat lahan basah. Selain itu, kedua metode ini hanya memberikan gambaran emisi pada saat pemotretan dilakukan saja.
Di sisi lain, pengukuran langsung di permukaan tanah hanya mencakup area yang sempit sehingga rawan melewatkan titik-titik pusat penghasil metana.
"Kami ingin membuat metode yang menggunakan pengukuran terus-menerus untuk memberikan perkiraan emisi sepanjang tahun," ujar Andrew Hallward-Driemeier, penulis utama studi yang terbit di jurnal Environmental Science & Technology ini.
Untuk mewujudkannya, para peneliti mengembangkan cara mengestimasi emisi menggunakan data bacaan metana selama dua setengah tahun. Data tersebut diambil dari puncak menara milik Rutgers University yang terletak di dekat TPA di East Brunswick, New Jersey.
Perkiraan emisi dari metode baru ini ternyata cocok dengan hasil pemantauan cepat yang dicatat oleh dua penerbangan pesawat terpisah. Namun, data jangka panjang ini memberikan jauh lebih banyak informasi tentang faktor pemicu munculnya emisi metana di TPA.
"Kami bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi dalam jangka waktu yang jauh lebih lama dibandingkan penelitian-penelitian sebelumnya," ujar Róisín Commane, peneliti di Lamont yang juga profesor madya Ilmu Bumi dan Lingkungan.
Para peneliti menemukan adanya perbedaan emisi yang sangat besar antar musim, di mana puncaknya terjadi pada awal musim dingin. Menurut Hallward-Driemeier, hal ini biasanya luput dari pemantauan pesawat karena penerbangan pemantau umumnya hanya dilakukan pada musim panas.
Ia dan timnya menduga bahwa suhu dingin membuat mikroba pemakan metana di lapisan tanah atas TPA menjadi tidak aktif, padahal bakteri di bagian dalam TPA yang hangat tetap aktif menghasilkan metana.
Sistem tekanan udara rendah di atmosfer juga menyebabkan peningkatan emisi metana, kemungkinan karena kondisi ini memudahkan gas-gas tersebut terlepas ke udara.
Penelitian terdahulu memang telah mengidentifikasi bahwa kondisi tekanan rendah itu penting, tetapi temuan baru ini makin mempertegas seberapa besar dampaknya. Selain itu, sistem tekanan rendah juga sering menyulitkan pemantauan lewat satelit dan pesawat karena biasanya disertai dengan gumpalan awan.
Pada akhirnya, para peneliti menemukan bahwa emisi TPA pada tahun 2023 ternyata lima kali lipat lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.
Angka tersebut belum tentu berlaku sama untuk setiap TPA, tetapi hal ini menjadi bukti jelas bahwa angka perkiraan saat ini bisa sangat berbeda jauh dari jumlah emisi yang sebenarnya.
Prinsip utamanya tetap sama yakni melakukan pengukuran secara terus-menerus dalam jangka panjang memberikan gambaran yang jauh berbeda dibanding hanya mengukur sesekali atau sekadar memakai rumus perkiraan biasa.
Baca juga: UE Usul Tunda Penerapan Denda Aturan Metana Hingga Tiga Tahun
"Saya berhati-hati untuk tidak langsung menyimpulkan seberapa luas kondisi ini terjadi di tempat lain, karena kita belum mengujinya di TPA yang lain. Namun, ini alasan yang sangat kuat untuk menerapkan metode ini di dekat TPA besar lainnya," kata Commane.
Ia menambahkan bahwa cara ini dapat dilakukan dengan biaya murah, sekaligus membantu memetakan TPA mana saja yang memiliki masalah kebocoran metana.
Sementara itu, para peneliti menyarankan siapa saja yang mengukur gas metana dengan metode standar untuk mengambil sampel di berbagai musim, serta memberikan perhatian khusus pada saat kondisi tekanan udara rendah. Mereka juga menyarankan agar para pengelola TPA yang memiliki sistem penangkap gas dapat meningkatkan penyedotan gas pada momen-momen yang tepat.
"Pada hari ketika tekanan udara tinggi, gas metana bisa menumpuk di dalam TPA karena tertahan dan tidak bisa keluar. Lalu, gas tersebut akan langsung lepas sekaligus saat tekanan udara mendadak turun. Jika pengelola tahu hal itu akan terjadi, mereka bisa menyedot gas secara lebih maksimal sesaat sebelum tekanan udara turun," jelas Hallward-Driemeier.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya