Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam

Kompas.com, 10 Agustus 2026, 12:07 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Kebun binatang memberi kesempatan bagi masyarakat untuk melihat hewan secara langsung dan berinteraksi dengan alam. Selain sebagai tempat rekreasi, kebun binatang juga berperan penting dalam perlindungan hewan dan penelitian ilmiah.

Edukasi juga menjadi tugas utama kebun binatang modern, dengan berbagai program yang dirancang untuk mempererat hubungan manusia dengan alam. Namun, seberapa efektifkah program-program ini? Dan pengunjung mana yang paling merasakan manfaatnya dari edukasi di kebun binatang?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi fokus penelitian yang dilakukan oleh para ahli edukasi biologi di Goethe University Frankfurt.

Melansir Phys, Rabu (5/8/2026) bekerja sama dengan 20 kebun binatang di Jerman, Swiss, Belanda, dan Portugal, tim yang dipimpin oleh Profesor Paul Dierkes meneliti bagaimana kepesertaan dalam program edukasi kebun binatang dapat memengaruhi rasa kepedulian dan hubungan seseorang dengan alam.

Hasil penelitian ini telah diterbitkan dalam jurnal People and Nature.

Baca juga: Kontaminasi Bahan Kimia dari Plastik Bikin Perilaku Hewan Laut Berubah

"Kami ingin mengetahui apakah program edukasi di kebun binatang benar-benar dapat memperkuat hubungan masyarakat dengan alam, serta bagaimana kondisi awal para peserta memengaruhi proses tersebut," ujar Dierkes, pemangku jabatan Opel-Zoo Endowed Professorship di Zoo Animal Biology sekaligus kepala Departemen Edukasi Ilmu Hayati di Goethe University.

Mengukur dampak edukasi kebun binatang

Untuk mengukur dampaknya, para peserta mengisi survei tepat sebelum dan sesudah mengikuti program edukasi.

Selain menilai seberapa dekat mereka dengan alam, para peneliti juga memeriksa berbagai faktor lain seperti usia, jenis kelamin, seberapa sering mereka berkunjung ke kebun binatang, durasi program, ada atau tidaknya interaksi langsung dengan hewan, serta apakah topik perlindungan alam dan satwa ikut dibahas.

Tim peneliti kemudian menganalisis bagaimana faktor-faktor ini memengaruhi hubungan awal peserta dengan alam dan perubahannya setelah mengikuti program.

Secara keseluruhan, mengikuti program edukasi di kebun binatang terbukti meningkatkan rasa dekat masyarakat dengan alam dalam jangka pendek. Efek ini paling terasa pada peserta yang awalnya merasa kurang atau biasa saja hubungannya dengan alam.

"Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa program edukasi kebun binatang sangat efektif menyasar orang-orang yang sebelumnya merasa kurang dekat dengan alam," kata Dr. Matthias Kleespies, salah satu penulis penelitian tersebut.

Dampak paling kuat pada peserta yang tadinya kurang atau biasa saja hubungannya dengan alam terlihat ketika program tersebut melibatkan interaksi langsung dengan hewan, membahas topik keanekaragaman hayati dan perlindungan satwa, atau berlangsung dalam durasi yang lebih lama.

Bagi peserta yang dari awal sudah merasa sangat dekat dengan alam, perubahan yang terukur memang lebih kecil. Namun, para peneliti menegaskan bahwa hal ini bukan berarti edukasi kebun binatang kurang bermanfaat bagi kelompok tersebut. Skala pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini memiliki batas atas.

"Peserta yang nilainya sudah sangat tinggi sejak awal memang memiliki ruang yang lebih sedikit untuk menunjukkan peningkatan angka. Meskipun begitu, program-program ini tetap dapat memperkuat dan memperdalam kepedulian yang sudah mereka miliki," jelas Dierkes.

Para peneliti juga menemukan perbedaan berdasarkan ciri-ciri peserta lainnya. Pengunjung yang sering datang ke kebun binatang mengalami peningkatan kepedulian pada alam yang lebih besar dibandingkan mereka yang jarang berkunjung.

Faktor usia juga berpengaruh. Anak-anak yang awalnya kurang dekat dengan alam menunjukkan peningkatan yang sangat pesat. Jenis kelamin juga berdampak, di mana wanita mengalami peningkatan yang sedikit lebih besar dibanding pria.

Baca juga: Alih Fungsi Lahan Tingkatkan Risiko Penyakit Menular dari Hewan ke Manusia

Pengembangan program edukasi kebun binatang

Hasil penelitian ini, menurut para ahli memberikan petunjuk berharga untuk pengembangan program edukasi kebun binatang di masa depan. Mereka menyarankan agar perhatian lebih diberikan pada pemahaman dan pengalaman awal yang dibawa oleh setiap peserta.

"Apakah seseorang sudah merasa dekat dengan alam atau hampir tidak peduli sama sekali, hal itu sangat memengaruhi seberapa efektif suatu program edukasi. Hal itulah yang harus dipertimbangkan saat menilai program, melakukan penelitian, dan merancang kegiatan edukasi ke depannya," ujar Kleespies.

Penelitian ini berfokus pada dampak langsung setelah mengikuti kegiatan. Apakah rasa dekat dengan alam ini bisa bertahan dalam jangka panjang masih menjadi pertanyaan yang perlu diteliti lebih lanjut. Meski begitu, para penulis melihat hasil studi ini sebagai bukti kuat betapa berharganya program edukasi profesional di kebun binatang.

"Kebun binatang didatangi oleh pengunjung yang sangat banyak dan beragam. Itu membuat kebun binatang berada di posisi yang sangat strategis untuk memperkuat hubungan masyarakat dengan alam di berbagai kalangan," tambah Viktoria Feucht, penulis utama penelitian ini.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
LSM/Figur
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau