Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan

Kompas.com, 10 Agustus 2026, 17:10 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com-Hilangnya keanekaragaman hayati telah menjadi topik utama dalam perdebatan publik, politik, dan ilmu pengetahuan selama beberapa dekade.

Meskipun dampaknya sudah disadari secara luas, mengolah data keanekaragaman hayati yang sangat banyak supaya bisa menjadi indikator terpercaya dalam pembuatan kebijakan masih menjadi tantangan yang membutuhkan waktu dan tenaga teknis yang besar.

Melansir Phys, Sabtu (1/8/2026) untuk membantu mengatasi masalah tersebut, proyek Uni Eropa bernama B-Cubed mengembangkan sistem pemrosesan data otomatis dan terintegrasi yang telah diuji melalui berbagai studi kasus.

Dengan memanfaatkan teknologi tersebut pengguna bisa merangkum ribuan data keberadaan hewan atau tumbuhan menjadi ringkasan yang rapi dan konsisten sebagai dasar pengambilan keputusan.

Baca juga: Peta Global Ungkap Beban Berat Hutan dan Biodiversitas Akibat Tambang

Mengubah data menjadi langkah nyata

Sejak diluncurkan Maret 2023, B-Cubed telah mengembangkan sebuah layanan di Global Biodiversity Information Facility (GBIF) dengan membuat "kubus keberadaan spesies" (species occurrence cubes).

Lewat fitur ini, pengguna dapat mengolah data keberadaan spesies yang melimpah misalnya saja data keberadaan lebah Bombus humilis di Belgia dari tahun 2012 hingga 2022 menjadi bentuk kubus data khusus.

Hal ini membantu pelaporan indikator yang konsisten serta penilaian perubahan keanekaragaman hayati yang efisien untuk pengambilan keputusan.

Dengan menggunakan kubus data keanekaragaman hayati tersebut, para peneliti dapat menghasilkan indikator yang menyederhanakan data rumit menjadi ukuran yang mudah dipahami untuk melihat status dan tren keanekaragaman hayati.

Indikator yang dihasilkan mencakup berbagai hal, mulai dari tren keberadaan spesies, penilaian invasi makhluk hidup asing, hingga pengukuran tingkat hilangnya keanekaragaman hayati secara mendalam.

Dengan indikator ini, kondisi keanekaragaman hayati dapat dipantau dan dihitung ulang kapan saja, sehingga bisa merespons ancaman dengan cepat, seperti misalnya serangan spesies invasif atau perubahan iklim.

Setelah data dianalisis menggunakan indikator tersebut, hasilnya dapat disajikan kepada pembuat kebijakan melalui laporan, tampilan visual, serta ukuran-ukuran yang relevan dengan arah kebijakan.

Baca juga: Pendanaan Minim, RI Masih Butuh Rp163 Triliun untuk Jaga Biodiversitas

Sistem ini juga membantu memperlihatkan dan memperbaiki masalah klasik dalam penelitian, yaitu perbedaan tingkat kesulitan dalam menemukan spesies serta perbedaan seberapa besar upaya survei yang telah dilakukan.

Selain itu, informasi indikator dapat diperluas dengan bantuan simulasi kubus data. Fitur ini memberikan peringatan dini dan perencanaan manajemen yang lebih baik dengan cara menghubungkan data pengamatan keanekaragaman hayati dengan faktor lingkungan lainnya, seperti proses ekologi, masuknya spesies asing, atau perubahan struktur komunitas makhluk hidup.

Untuk memastikan metode ini dapat digunakan terus-menerus dan diulang dengan mudah di masa depan, proyek B-Cubed menyediakan panduan lengkap, tutorial, dan materi teknis yang ramah pengguna.

Semua materi ini tidak hanya bisa dipakai oleh ilmuwan data dan peneliti, tetapi juga oleh berbagai gerakan keanekaragaman hayati saat ini maupun di masa depan yang ingin menerapkan sistem kubus data ini ke dalam kerja mereka. 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Pemerintah
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Pemerintah
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
Pemerintah
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
Pemerintah
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Pemerintah
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
LSM/Figur
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
Pemerintah
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Pemerintah
25 Juta Hektar Hutan Rumput Laut Global Terancam Lenyap akibat Krisis Iklim
25 Juta Hektar Hutan Rumput Laut Global Terancam Lenyap akibat Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau