Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari

Kompas.com, 11 Agustus 2026, 16:15 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan teknologi fermentasi kakao yang dapat memangkas waktu pengolahan biji kakao dari sekitar 10-14 hari menjadi hanya 1-2 hari.

Inovasi tersebut dikembangkan untuk membantu petani meningkatkan kualitas biji kakao sekaligus menghadapi tantangan perubahan iklim yang membuat proses fermentasi tradisional semakin sulit dilakukan secara konsisten.

Selama ini, proses fermentasi menjadi salah satu tahapan penting yang menentukan kualitas kakao sebelum diolah menjadi cokelat. Namun, fermentasi secara tradisional membutuhkan waktu cukup lama dan sangat bergantung pada kondisi cuaca.

Baca juga: Meski Ada Gerakan Ramah Lingkungan, Produksi Kakao Tetap Terancam Iklim

Perubahan suhu dan cuaca yang semakin tidak menentu dapat meningkatkan risiko kontaminasi maupun kegagalan fermentasi. Kondisi tersebut membuat sebagian petani memilih menjual biji kakao tanpa melalui proses fermentasi sehingga nilai jualnya lebih rendah.

Dosen Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB, Kamarisima mengatakan, tim peneliti mengembangkan teknologi fermentasi menggunakan starter bakteri Lactobacillus plantarum H5B71.

"Penggunaan starter ini terbukti secara ilmiah mampu mempercepat proses fermentasi menjadi hanya 1-2 hari," ujar Kamarisima dalam orasi bertajuk "Fermentasi Kakao: Rahasia di Balik Kenikmatan Cokelat", dilansir dari laman resmi ITB, Jumat (7/8/2026).

Selain mempercepat proses, penggunaan starter tersebut menghasilkan kualitas biji kakao yang lebih seragam. Proses fermentasi juga meningkatkan kandungan gamma-aminobutyric acid (GABA) secara alami.

Dikembangkan menjadi fermentor pintar

Penelitian tersebut kemudian dikembangkan melalui kolaborasi lintas disiplin dengan melibatkan Program Studi Teknik Fisika dan Teknik Elektro ITB serta Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Tim mengembangkan fermentor kakao pintar berbasis Internet of Things (IoT) dengan kapasitas hingga 100 kilogram.

Fermentor yang menggunakan material stainless steel tersebut dilengkapi sensor gas, antara lain untuk mendeteksi etanol dan asam asetat. Sensor tersebut digunakan untuk memantau sekaligus memprediksi perkembangan proses fermentasi dari jarak jauh.

Teknologi tersebut juga dirancang agar dapat beroperasi secara mandiri melalui integrasi dengan panel surya sebagai sumber energi dan sistem daur ulang udara.

Penggunaan energi mandiri tersebut dinilai relevan karena perkebunan kakao banyak berada di wilayah yang relatif terpencil dan memiliki keterbatasan akses terhadap sumber listrik.

Harga jual kakao petani naik 20-30 persen

Teknologi fermentasi yang dikembangkan ITB telah diterapkan oleh petani di Desa Ekasari, Kabupaten Jembrana, Bali.

Melalui teknologi tersebut, biji kakao yang dihasilkan petani mencapai kualitas Grade AA. Peningkatan kualitas tersebut kemudian berdampak pada nilai jual biji kakao.

Harga jual biji kakao petani dilaporkan meningkat sekitar 20-30 persen dibandingkan hasil fermentasi menggunakan metode tradisional.

Selain mempercepat fermentasi, tim peneliti juga mengembangkan metode untuk meningkatkan karakter cita rasa kakao.

Baca juga: Kisah Kakao Kampung Merasa di Berau, Dulu Dilarang Dimakan Kini Jadi Cuan

Salah satunya dilakukan melalui fermentasi sekunder dengan menambahkan ragi dan kulit lemon selama kurang dari satu hari. Metode tersebut memungkinkan biji kakao menghasilkan karakter cita rasa yang lebih kompleks, seperti buah kering, tanpa menggunakan bahan tambahan sintetis.

Dorong pemanfaatan limbah kakao

Kamarisima mengatakan, pengembangan teknologi kakao ke depan tidak hanya diarahkan pada peningkatan kualitas biji dan produk cokelat.

Pemanfaatan hasil samping produksi juga perlu menjadi bagian dari pengembangan industri kakao berbasis ekonomi sirkular.

Jutaan ton limbah cangkang kakao, misalnya, berpotensi diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, seperti biomaterial, cuka organik, pupuk, hingga sumber energi.

Dengan pendekatan tersebut, pengembangan kakao tidak hanya berfokus pada peningkatan produktivitas, tetapi juga pada pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien dan pengurangan limbah.

Inovasi fermentasi dan pemanfaatan limbah tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi kakao Indonesia sekaligus meningkatkan nilai tambah yang diterima petani dari komoditas tersebut.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
BrandzView
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Desa Sejahtera Astra
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Pemerintah
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
Pemerintah
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
LSM/Figur
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pemerintah
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
Swasta
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Swasta
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Swasta
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Pemerintah
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau