KOMPAS.com-Hampir 70 persen wilayah Prancis kini mengalami pembatasan penggunaan air seiring memburuknya kekeringan akibat gelombang panas yang datang bertubi-tubi.
Melansir Euro News, Senin (10/8/2026) rentetan gelombang panas selama tiga bulan terakhir, yang diperparah oleh kekeringan, telah memecahkan rekor suhu terpanas, menyebabkan ribuan kematian tambahan, serta memicu kebakaran hutan yang sangat besar.
"Di tengah kekeringan parah yang dialami Prancis saat ini, dampak perubahan iklim makin meningkatkan tekanan terhadap ketersediaan sumber daya air," ungkap Kementerian Transisi Ekologi.
Hal tersebut membuat hampir 70 persen wilayah Prancis terpaksa tunduk pada aturan pembatasan air.
Baca juga: Dampak Perubahan Iklim, Kekeringan di Eropa Diprediksi Kian Parah
Per 9 Agustus, sebagian besar daratan utama Prancis, termasuk ibu kota Paris, berada pada tingkat kewaspadaan air minimal level satu, dengan 67 dari total 101 wilayah berada pada status siaga krisis tertinggi.
Di wilayah yang berada pada status siaga tertinggi, penggunaan air hanya diperbolehkan untuk kebutuhan yang sangat mendesak, seperti fasilitas kesehatan, penanganan bencana, air minum, dan kebersihan dasar.
Sementara di wilayah dengan tingkat siaga yang lebih rendah, pembatasan berlaku untuk kegiatan seperti menyiram taman, mengisi kolam renang, mencuci mobil, dan mengairi lahan pertanian.
Sebagai tanda makin parahnya kekeringan di Eropa yang dihantam gelombang panas, Badan Riset Geologi dan Pertambangan Prancis (BRGM) menyatakan bahwa dua pertiga cadangan air tanah yang menjadi sumber utama air minum di Prancis telah merosot di bawah batas normal.
Menyusutnya cadangan air tanah sebenarnya biasa terjadi saat musim panas. Namun, tahun ini kondisinya jauh lebih parah akibat rendahnya curah hujan pada bulan Juli serta melonjaknya permintaan air untuk berbagai kebutuhan, terutama di sektor pertanian dan pariwisata.
Baca juga: Lawan Krisis Iklim, Prancis Minta Warganya Kurangi Makan Daging
Bulan Juli 2026 menjadi bulan terpanas sepanjang sejarah di Prancis dan bulan Juli terkering ketiga dalam hal curah hujan, dengan penurunan jumlah hujan secara nasional mencapai hampir 70 persen, menurut badan cuaca nasional Météo-France.
Menteri Ekologi Monique Barbut menyatakan pada 27 Juli bahwa pasokan air minum mengalami krisis di beberapa daerah.
Ia mencatat bahwa pemadaman air keran sudah berdampak pada lebih dari 30.000 warga sehingga air minum harus disalurkan ke penduduk menggunakan truk tangki atau air kemasan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya