KOMPAS.com-Laporan terbaru dari Organisasi Buruh Internasional (ILO) PBB menemukan bahwa angka pengangguran anak muda di seluruh dunia sempat membaik setelah pandemi COVID-19, tetapi kini mulai memburuk kembali.
Kondisi ini membuat jutaan pemuda kesulitan mendapatkan pekerjaan pertama yang sangat penting bagi mereka.
Melansir laman resmi United Nations, Selasa (11/8/2026) setelah sempat turun ke titik terendah dalam dua dekade pada tahun 2023, angka pengangguran pemuda global yakni usia 15 hingga 24 tahun naik menjadi 12,4 persen pada tahun 2025, dengan total 67 juta orang tidak memiliki pekerjaan di seluruh dunia.
Jumlah anak muda yang tidak bekerja, tidak sekolah, dan tidak ikut pelatihan (kategori NEET) juga naik dari 19,7 persen pada tahun 2023 menjadi 20 persen pada tahun 2025, sehingga totalnya mencapai 257 juta orang di seluruh dunia.
Baca juga: AI Permudah Pekerjaan, tapi Bisa Gerus Kemampuan Berpikir Kritis
Status NEET menggambarkan kelompok anak muda yang telah benar-benar menjauh dari dunia kerja, sebuah kondisi yang jauh lebih sulit untuk dipulihkan.
“Generasi yang tidak bisa menemukan pekerjaan yang layak tidak akan bisa membangun masa depannya dengan percaya diri,” tegas Direktur Jenderal ILO, Gilbert F. Houngbo.
“Ketika anak muda terhalang dari pekerjaan yang berkualitas, negara akan kehilangan bakat, produktivitas, dan keharmonisan sosial. Menciptakan lapangan kerja yang layak bagi anak muda bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan salah satu investasi paling cerdas yang dapat dilakukan oleh sebuah negara,” katanya lagi.
Pengangguran anak muda memburuk atau stagnan di delapan dari 11 subwilayah dunia antara tahun 2023 dan 2025.
Sebanyak 105 negara mencatat kenaikan pengangguran pemuda, sementara hanya 58 negara yang mengalami penurunan. Negara-negara Arab dan Afrika Utara terus mencatat tingkat pengangguran pemuda tertinggi di dunia, masing-masing sebesar 26,2 persen dan 22,6 persen.
Kenaikan angka pengangguran pemuda paling tajam antara tahun 2023 dan 2025 terjadi di Amerika Utara, di mana angkanya melonjak dari 8,3 persen menjadi 9,8 persen.
Wilayah Eropa Utara, Selatan, dan Barat mengalami kenaikan yang lebih kecil, namun secara keseluruhan tingkat pengangguran pemuda di ketiga subwilayah tersebut tetap sangat tinggi, yaitu mencapai 15 persen.
Laporan tersebut mencatat bahwa pekerjaan yang biasanya menjadi pintu masuk bagi pekerja muda di negara-negara maju kini makin berkurang.
Sementara itu, di wilayah seperti Afrika Sub-Sahara, jumlah lapangan kerja yang tersedia tidak cukup untuk menampung pertumbuhan penduduk yang sangat cepat. Banyak pekerja di negara berkembang terjebak dalam pekerjaan informal atau tidak tetap, yang sering kali tidak memberikan perlindungan sosial yang layak.
Hampir sembilan dari 10 pekerja muda usia 15 hingga 29 tahun di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah bawah bekerja di sektor informal, masalah yang sangat parah di Afrika Sub-Sahara.
ILO mengidentifikasi beberapa penyebab sulitnya pasar kerja bagi pemuda yakni perlambatan ekonomi global, ketegangan politik dunia, dampak kecerdasan buatan (AI) pada pekerjaan tingkat awal, minimnya posisi baru berkeahlian tinggi, serta paradoks pengalaman. Itu merupakan kondisi di mana perusahaan menuntut pengalaman luas untuk posisi tingkat pemula.
Baca juga: Perempuan Pesisir Kehilangan Pekerjaan akibat Perubahan Iklim
Laporan ini memperkirakan bahwa 6,1 persen pekerjaan yang diisi oleh anak muda usia 15–29 tahun berada pada bidang yang sangat terdampak oleh perubahan teknologi AI. Hal ini terutama mencakup pekerjaan administrasi dan kearsipan.
“Kemajuan teknologi, termasuk AI, harus memberi manfaat bagi anak muda, bukan malah merugikan mereka,” ujar Sukti Dasgupta, Direktur Departemen Ketenagakerjaan, Keterampilan, dan Usaha Berkelanjutan ILO.
Meski begitu, bidang-bidang seperti sains, kesehatan, dan teknik terus berkembang di seluruh dunia. Ini menunjukkan pentingnya investasi dalam pelatihan keterampilan dan pendidikan.
Untuk mengatasi lonjakan pengangguran pemuda, laporan ini merekomendasikan tata kelola AI yang berfokus pada manusia, investasi dalam pendidikan berkualitas, penguatan layanan tenaga kerja, perluasan perlindungan sosial, serta penciptaan lapangan kerja yang lebih layak.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya