Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi

Kompas.com, 13 Agustus 2026, 09:49 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com-Laporan terbaru dari Organisasi Buruh Internasional (ILO) PBB menemukan bahwa angka pengangguran anak muda di seluruh dunia sempat membaik setelah pandemi COVID-19, tetapi kini mulai memburuk kembali.

Kondisi ini membuat jutaan pemuda kesulitan mendapatkan pekerjaan pertama yang sangat penting bagi mereka.

Melansir laman resmi United Nations, Selasa (11/8/2026) setelah sempat turun ke titik terendah dalam dua dekade pada tahun 2023, angka pengangguran pemuda global yakni usia 15 hingga 24 tahun naik menjadi 12,4 persen pada tahun 2025, dengan total 67 juta orang tidak memiliki pekerjaan di seluruh dunia.

Jumlah anak muda yang tidak bekerja, tidak sekolah, dan tidak ikut pelatihan (kategori NEET) juga naik dari 19,7 persen pada tahun 2023 menjadi 20 persen pada tahun 2025, sehingga totalnya mencapai 257 juta orang di seluruh dunia.

Baca juga: AI Permudah Pekerjaan, tapi Bisa Gerus Kemampuan Berpikir Kritis

Status NEET menggambarkan kelompok anak muda yang telah benar-benar menjauh dari dunia kerja, sebuah kondisi yang jauh lebih sulit untuk dipulihkan.

“Generasi yang tidak bisa menemukan pekerjaan yang layak tidak akan bisa membangun masa depannya dengan percaya diri,” tegas Direktur Jenderal ILO, Gilbert F. Houngbo.

“Ketika anak muda terhalang dari pekerjaan yang berkualitas, negara akan kehilangan bakat, produktivitas, dan keharmonisan sosial. Menciptakan lapangan kerja yang layak bagi anak muda bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan salah satu investasi paling cerdas yang dapat dilakukan oleh sebuah negara,” katanya lagi.

Perbedaan jumlah pengangguran antar wilayah

Pengangguran anak muda memburuk atau stagnan di delapan dari 11 subwilayah dunia antara tahun 2023 dan 2025.

Sebanyak 105 negara mencatat kenaikan pengangguran pemuda, sementara hanya 58 negara yang mengalami penurunan. Negara-negara Arab dan Afrika Utara terus mencatat tingkat pengangguran pemuda tertinggi di dunia, masing-masing sebesar 26,2 persen dan 22,6 persen.

Kenaikan angka pengangguran pemuda paling tajam antara tahun 2023 dan 2025 terjadi di Amerika Utara, di mana angkanya melonjak dari 8,3 persen menjadi 9,8 persen.

Wilayah Eropa Utara, Selatan, dan Barat mengalami kenaikan yang lebih kecil, namun secara keseluruhan tingkat pengangguran pemuda di ketiga subwilayah tersebut tetap sangat tinggi, yaitu mencapai 15 persen.

Laporan tersebut mencatat bahwa pekerjaan yang biasanya menjadi pintu masuk bagi pekerja muda di negara-negara maju kini makin berkurang.

Sementara itu, di wilayah seperti Afrika Sub-Sahara, jumlah lapangan kerja yang tersedia tidak cukup untuk menampung pertumbuhan penduduk yang sangat cepat. Banyak pekerja di negara berkembang terjebak dalam pekerjaan informal atau tidak tetap, yang sering kali tidak memberikan perlindungan sosial yang layak.

Hampir sembilan dari 10 pekerja muda usia 15 hingga 29 tahun di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah bawah bekerja di sektor informal, masalah yang sangat parah di Afrika Sub-Sahara.

ILO mengidentifikasi beberapa penyebab sulitnya pasar kerja bagi pemuda yakni perlambatan ekonomi global, ketegangan politik dunia, dampak kecerdasan buatan (AI) pada pekerjaan tingkat awal, minimnya posisi baru berkeahlian tinggi, serta paradoks pengalaman. Itu merupakan kondisi di mana perusahaan menuntut pengalaman luas untuk posisi tingkat pemula.

Baca juga: Perempuan Pesisir Kehilangan Pekerjaan akibat Perubahan Iklim

Laporan ini memperkirakan bahwa 6,1 persen pekerjaan yang diisi oleh anak muda usia 15–29 tahun berada pada bidang yang sangat terdampak oleh perubahan teknologi AI. Hal ini terutama mencakup pekerjaan administrasi dan kearsipan.

“Kemajuan teknologi, termasuk AI, harus memberi manfaat bagi anak muda, bukan malah merugikan mereka,” ujar Sukti Dasgupta, Direktur Departemen Ketenagakerjaan, Keterampilan, dan Usaha Berkelanjutan ILO.

Meski begitu, bidang-bidang seperti sains, kesehatan, dan teknik terus berkembang di seluruh dunia. Ini menunjukkan pentingnya investasi dalam pelatihan keterampilan dan pendidikan.

Untuk mengatasi lonjakan pengangguran pemuda, laporan ini merekomendasikan tata kelola AI yang berfokus pada manusia, investasi dalam pendidikan berkualitas, penguatan layanan tenaga kerja, perluasan perlindungan sosial, serta penciptaan lapangan kerja yang lebih layak.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Swasta
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Pemerintah
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Pemerintah
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
LSM/Figur
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
Pemerintah
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Swasta
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Pemerintah
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Pemerintah
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
LSM/Figur
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
LSM/Figur
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
LSM/Figur
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
LSM/Figur
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Pemerintah
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau