Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan

Kompas.com, 13 Agustus 2026, 10:01 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Laporan Bank Dunia mengungkapkan pada 2070 sekitar 520 orang di kawasan Asia Selatan akan menghadapi suhu panas yang berbahaya selama satu bulan atau lebih setiap tahunnya. Jumlah tersebut empat kali lipat lebih banyak dibandingkan saat ini.

Laporan Bank Dunia itu menyebut paparan panas akan terpusat di wilayah perkotaan, sementara pemanasan tercepat diproyeksikan terjadi di Pegunungan Himalaya dan area sekitarnya.

Laporan berjudul A Livable Future: Protecting Jobs and Growth from Extreme Heat in South Asia’s Cities ini meneliti peningkatan risiko panas ekstrem di Bangladesh, Bhutan, India, Maladewa, Nepal, dan Sri Lanka.

Melansir Down to Earth, Rabu (12/8/2026) tingkat bahaya paparan panas ini diperkirakan melonjak tajam dalam beberapa dekade mendatang.

Baca juga: Laporan PBB: Panas Ekstrem Kini Jadi Ancaman Besar bagi Pangan Dunia

Pada tahun 2070, sekitar 1,1 miliar orang diproyeksikan mengalami setidaknya satu hari dengan suhu panas yang tergolong "tidak dapat ditinggali" secara teori. Jumlah warga yang menghadapi kondisi ekstrem tersebut selama minimal satu bulan setahun bisa melonjak dari 120 juta menjadi 520 juta orang.

Sementara itu, hampir 63 juta orang berisiko menghadapi panas ekstrem selama tiga bulan atau lebih setiap tahunnya. Paparan panas yang berkepanjangan ini dapat membuat pekerjaan di luar ruangan makin berbahaya serta membatasi aktivitas harian warga yang tidak memiliki akses ke alat pendingin udara.

Laporan ini menilai dampak panas ekstrem saat ini dan dampaknya di masa depan terhadap kesehatan, produktivitas kerja, serta perekonomian kota.

Menurut laporan tersebut, kawasan perkotaan yang padat di Asia Selatan dapat memiliki suhu malam hari yang lebih panas hingga 10 derajat C dibandingkan wilayah pedesaan di sekitarnya.

Panas ekstrem telah berdampak buruk bagi kesehatan. Kematian akibat panas sering kali dicatat sebagai gagal jantung atau gagal ginjal alih-alih karena suhu tinggi, sehingga angka kematian yang sebenarnya kemungkinan jauh lebih besar.

Di Bangladesh, India, Nepal, dan Sri Lanka, perkiraan jumlah kematian akibat suhu tinggi meningkat dari sekitar 118.000 pada tahun 2000 menjadi 230.000 pada tahun 2023 melonjak sekitar 95 persen.

Peningkatan ini sejalan dengan suhu yang makin panas, pertumbuhan penduduk, penuaan populasi, serta makin seringnya warga terpapar panas.

Kerugian ekonomi

Dampak kerugian ekonominya juga sangat serius. Laporan mencatat bahwa panas ekstrem membuat Asia Selatan kehilangan potensi kerja yang setara dengan 31 juta pekerjaan purnawaktu setiap tahunnya.

Jika negara-negara tidak segera melakukan adaptasi, perekonomian di kawasan ini dapat menyusut hingga hampir 7 persen pada tahun 2050. Padahal, Asia Selatan diperkirakan akan mendapat tambahan sekitar 280 juta penduduk usia kerja pada tahun 2050.

Pekerja kelas menengah ke bawah dan rentan adalah pihak yang paling menderita. Pendapatan pekerja informal bisa anjlok hingga 40 persen selama gelombang panas, sementara membengkaknya biaya air, pendingin ruangan, dan perawatan kesehatan makin memberatkan beban keuangan rumah tangga.

Laporan ini mendesak agar masalah panas ekstrem tidak lagi dianggap sekadar bencana musiman biasa, melainkan Tantangan Pembangunan Utama. Pemerintah diimbau untuk memasukkan penanganan risiko panas ke dalam perencanaan kota, pembangunan infrastruktur, kebijakan publik, hingga investasi swasta.

Baca juga: Kota-Kota di Asia dan Afrika Paling Terancam Cuaca Panas Ekstrem

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Swasta
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Pemerintah
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Pemerintah
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
LSM/Figur
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
Pemerintah
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Swasta
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Pemerintah
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Pemerintah
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
LSM/Figur
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
LSM/Figur
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
LSM/Figur
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
LSM/Figur
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Pemerintah
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau