Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli

Kompas.com, 13 Agustus 2026, 15:30 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Guardian, BBC

KOMPAS.com - Layanan pemantauan iklim Uni Eropa, Copernicus mengungkapkan suhu lautan dunia mencapai rekor tertinggi yang pernah tercatat pada bulan Juli, sebagian dipicu oleh munculnya fenomena El Nino di Samudra Pasifik.

Melansir BBC, Senin (10/8/2026) rata-rata suhu permukaan laut di luar wilayah kutub mencapai 20,96 derajat C pada bulan lalu. Angka ini memecahkan rekor tertinggi sebelumnya sebesar 20,89 derajat C yang terjadi pada 2023.

Copernicus pun mencatat bulan lalu menjadi bulan Juli terpanas kedua dalam sejarah secara global dengan suhu 1,47 derajat di atas rata-rata zaman pra-industri.

Di seluruh Eropa, suhu permukaan laut pada bulan Juli mencapai rekor tertinggi di sepanjang pesisir Atlantik dan wilayah Mediterania barat. Hal ini memicu terjadinya gelombang panas laut yang kuat dan parah di mana-mana.

Suhu laut juga tetap sangat tinggi di sebagian besar wilayah Samudra Pasifik tropis, tempat fenomena El Niño sedang berkembang dan diperkirakan akan makin kuat dalam beberapa bulan ke depan.

Baca juga: Lautan Dunia Kritis, Laju Kenaikan Air Laut Naik 2 Kali Lipat

El Niño adalah pola cuaca alami di Samudra Pasifik yang, jika bercampur dengan pemanasan global akibat ulah manusia dapat menyebabkan lonjakan suhu dan cuaca yang lebih ekstrem.

Lautan memiliki peran sangat penting dalam mengatur iklim bumi. Laut menyerap sebagian besar panas berlebih yang dihasilkan oleh emisi gas rumah kaca dan menghasilkan separuh dari oksigen di Bumi.

Dampak terbesar dari memanasnya air laut adalah kenaikan permukaan air laut. Ketika air laut memanas, volumenya membesar.

Pemuaian karena panas ini menyumbang sekitar sepertiga dari total kenaikan air laut yang dicatat para ilmuwan hingga saat ini. Air tersebut kemudian meluap dan mengikis kawasan pesisir yang rendah serta negara-negara kepulauan.

Lautan yang makin panas juga memicu gelombang panas laut yang lebih lama dan lebih parah. Hal ini menyebabkan pemutihan karang secara masal serta merusak hutan rumput laut dan industri perikanan.

Selain itu, permukaan laut yang lebih hangat menguapkan lebih banyak panas dan kelembapan ke udara. Akibatnya, badai tropis menjadi makin kuat dan membawa curah hujan yang jauh lebih lebat.

Musim panas yang membara

Sementara itu melansir Guardian, data menunjukkan pula bahwa Eropa Barat telah mengalami periode Juni–Juli terpanas sepanjang sejarah, di mana gelombang panas yang luar biasa telah memicu kebakaran hutan hebat yang merusak sebagian besar wilayah Mediterania.

Copernicus menyatakan bahwa dua bulan pertama musim panas tahun 2026 ini tercatat 2,79 derajat C lebih panas dari biasanya. Angka ini memecahkan rekor sebelumnya yang tercipta empat tahun lalu, sekaligus menggambarkan betapa bertahannya suhu panas ekstrem sejak awal musim.

Eropa Tengah saat ini sedang dilanda gelombang panas hebat yang membuat rekor suhu tertinggi nasional pecah di beberapa negara, termasuk Austria dan Slowakia. Ini merupakan rentetan terbaru dari musim panas membara yang telah mengeringkan pepohonan dan membuat benua tersebut sangat rawan terbakar.

Samantha Burgess, ilmuwan iklim di European Centre for Medium-Range Weather Forecasts, menyatakan bahwa musim panas ini adalah contoh nyata dari kerusakan iklim yang memicu cuaca ekstrem yang saling memperburuk satu sama lain.

Baca juga: Hukum Internasional Dinilai Belum Cukup Selamatkan Lautan

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Swasta
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Pemerintah
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Pemerintah
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
LSM/Figur
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
Pemerintah
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Swasta
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Pemerintah
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Pemerintah
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
LSM/Figur
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
LSM/Figur
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
LSM/Figur
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
LSM/Figur
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Pemerintah
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau