Faktor kedua adalah pembelajaran dari pelaksanaan program selama bertahun-tahun. Japfa kemudian semakin memfokuskan pengukuran pada perubahan status gizi siswa yang mengalami malanutrisi.
Japfa juga terus menguji theory of change sejak satu dekade terakhir untuk memastikan aktivitas yang dilakukan memiliki kaitan dengan perubahan yang ingin dicapai.
“Harapannya, desain yang kami buat menghasilkan dampak terukur dan terverifikasi,” jelasnya.
Hasil pengukuran terlihat dalam pelaksanaan dua tahun terakhir. Pada 2024, dari 1.479 siswa yang teridentifikasi mengalami gizi kurang dan gizi buruk, 762 siswa atau 51,5 persen berhasil meningkat menjadi status gizi baik.
Baca juga: Tetap Jadi Mitra Catur, Japfa Rambah Olahraga Lari
Pada 2025, program menjangkau 123 sekolah di sembilan kabupaten/kota. Dari 1.034 siswa yang menjadi sasaran karena kondisi malnutrisi, sebanyak 646 siswa atau 62,5 persen mengalami peningkatan status gizi menjadi baik.
Angka tersebut menjadi salah satu indikator yang digunakan untuk melihat hasil intervensi program.
Bagi Japfa, intervensi dimulai sebelum telur dibagikan. Artsanti menjelaskan, lokasi program dipilih dengan mempertimbangkan kedekatannya dengan operasional Japfa dan kondisi malnutrisi anak di wilayah tersebut. Sekolah yang terlibat juga dipilih berdasarkan komitmen untuk melakukan penilaian status gizi siswa secara mandiri.
Sebelum program berjalan, kondisi siswa dipetakan melalui pengukuran tinggi badan, berat badan, dan indeks massa tubuh. Pemeriksaan kesehatan juga dilakukan bagi siswa yang teridentifikasi mengalami masalah gizi.
Guru dan koordinator sekolah mendapatkan pelatihan mengenai gizi dan pengelolaan program. Orang tua juga dilibatkan, termasuk melalui komitmen untuk menyediakan bekal sehat bagi anak.
Barulah intervensi diberikan. Melalui skema One Day One Egg, siswa dengan kondisi gizi kurang dan gizi buruk mendapatkan telur sebagai sumber protein hewani. Dalam pelaksanaan 2025, telur diberikan selama enam bulan, sementara konsumsi dan perkembangan siswa dipantau secara berkala.
Baca juga: JAPFA Ekspor 23.000 Ayam Hidup ke Singapura
Pemantauan tidak hanya dilakukan oleh tim Japfa. Guru ikut mencatat konsumsi harian melalui aplikasi, sementara pertemuan dengan orang tua dilakukan setiap bulan untuk menjaga keterlibatan keluarga.
Artsanti mengatakan, Japfa tidak memosisikan diri sebagai pihak yang datang sekadar memberikan bantuan.
Pendekatan yang digunakan adalah share contribution dengan melibatkan sekolah, orang tua, puskesmas, dinas kesehatan, dinas pendidikan, serta pihak lain dalam pelaksanaan program.
Siswa dengan kondisi malnutrisi mendapatkan asupan protein hewani, sementara pertumbuhan mereka dipantau melalui pengukuran berat dan tinggi badan.
Di sekolah, Hari Sehat JAPFA menjadi ruang pembiasaan. Seperti yang telah diilakulan SD Negeri 6 Kajarharjo, siswa melakukan senam gizi seimbang, mendapatkan edukasi dari guru, membawa dan memeriksa bekal, mencuci tangan dengan sabun, serta menjaga kebersihan kuku.
Pengalaman di SD Negeri 1 Kebun Agung yang berlokasi di Kabupaten Kotawaringin Barat, Provinsi Kalimantan Tengah, menunjukkan bagaimana intervensi tersebut bertemu dengan kebiasaan makan siswa.
Guru SD Negeri 1 Kebun Agung Anggi Dwi Wahyuni dan Situ Nur Wahyuni mengatakan, sejumlah siswa yang sebelumnya sama sekali tidak menyukai sayur mulai mau mencicipi beberapa jenis sayuran setelah program berjalan.
"Anak-anak juga jadi lebih bersemangat mengonsumsi telur," lanjut mereka.
Meski demikian, belum berarti seluruh anak langsung menyukai semua jenis sayuran. Namun, bagi guru, kesediaan untuk mencoba makanan yang sebelumnya dihindari menjadi salah satu perubahan yang mulai terlihat.
Namun, pengalaman setiap sekolah tidak selalu sama. Di Kecamatan Anggrek, Kabupaten Gorontalo Utara, misalnya, JAPFA for Kids pada 2025 menjangkau 13 sekolah dasar negeri dengan 1.201 siswa. Program One Day One Egg dilaksanakan bekerja sama dengan Puskesmas Ilangata dan Puskesmas Anggrek.
Untuk mencapai sejumlah wilayah di sana, perjalanan harus dilakukan dengan menyeberangi laut menggunakan perahu. Beberapa guru bahkan harus bolak-balik menggunakan perahu untuk menjalankan tugas mengajar.
Perjalanan program JAPFA for Kids sejak 2008. Data diolah dari Sustainability Report 2025 PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya