Data per Agustus 2025 mencatat 58 siswa sebagai penerima manfaat. Di antara kondisi kesehatan yang teridentifikasi terdapat tujuh siswa dengan anemia ringan, delapan siswa dengan anemia sedang, satu siswa dengan lymphadenitis, serta 14 siswa dengan karies gigi.
Baca juga: Beasiswa JAPFA 2025 untuk Siswa SMA/SMK dan Mahasiswa, Cek Syarat Lengkapmya
Memasuki 2026, program kembali dilanjutkan dengan sasaran yang lebih luas.
Sebanyak 93 sekolah dasar negeri dengan sekitar 16.000 siswa menjadi sasaran program di sejumlah kabupaten/kota, antara lain Padang Pariaman, Bintan, Lampung Selatan, Bogor, Tegal, Karanganyar, Lamongan, dan Maluku Utara.
Di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, program tersebut melibatkan lebih dari 1.100 siswa dan 150 guru dari delapan sekolah.
Sementara di Lampung Selatan, program berjalan melibatkan fasilitator yang mengikuti perkembangan program dari sekolah ke sekolah.
Tamara Karent mulai menjadi fasilitator JAPFA for Kids di Lampung Selatan sejak Juli 2026. Ia melakukan monitoring ke sekolah, bertemu guru penanggung jawab, dan memantau kondisi anak-anak yang menjadi penerima manfaat.
"Saya terkesan dengan semangat juang anak-anak untuk sekolah itu besar (meski lokasi dari rumah mereka jauh). Terlebih, medan sekolah beraneka ragam," ujar Tamara.
Bagi Japfa, keberlanjutan menjadi bagian yang perlu dilihat setelah intervensi selesai. Maka, strategi keluar disiapkan agar perubahan yang dibangun tidak berhenti ketika pendampingan selesai.
Setelah program selesai, dilakukan penilaian dampak dan evaluasi akhir. Sekolah kemudian diharapkan mampu melanjutkan Hari Sehat JAPFA secara mandiri serta tetap memantau intervensi yang diberikan. Pengukuran akhir dilakukan bersama puskesmas.
Salah satu cara Japfa melihat keberlanjutan itu adalah melalui JAPFA for Kids Awards.
Kompetisi implementasi program di tingkat sekolah digunakan untuk melihat sejauh mana sistem di sekolah dapat mendorong perubahan perilaku dan pemenuhan gizi seimbang setelah program selesai.
Ada pula kompetisi bagi guru untuk melihat pengetahuan dan kemampuan mereka dalam menerapkan edukasi gizi, sementara siswa dilibatkan melalui kegiatan yang mengukur pemahaman mereka terhadap materi yang diberikan.
“Kompetisi implementasi program merupakan kompetisi tingkat sekolah untuk mengukur sejauh mana sistem di sekolah mendorong perubahan perilaku dan pemenuhan gizi seimbang anak ketika program sudah selesai,” ujar Artsanti.
Bagi Japfa, keberlanjutan tidak harus selalu berbentuk kegiatan yang persis sama dengan ketika program berlangsung.
"Di SD Negeri Tayu Wetan 1, Kabupaten Pati, edukasi gizi seimbang dikembangkan melalui kantin sekolah yang dikelola guru. Sekolah kemudian memastikan jajanan yang tersedia merupakan makanan yang bergizi dan sehat," kisahnya memberi contoh.
Sementara di sekolah lain, Hari Sehat JAPFA diintegrasikan dengan kegiatan Jumat Bersih atau Sabtu Sehat. Sekolah yang belum mendapatkan bantuan program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga mengadopsinya dalam bentuk Hari Bekal.
Seorang siswa sedang mencuci tangan. Ini merupakan salah satu pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat.Artsanti mengatakan, setidaknya salah satu dari dua komponen utama JAPFA for Kids—intervensi gizi atau pembiasaan hidup sehat—diharapkan tetap tumbuh di sekolah setelah masa pendampingan berakhir.
Di SD Negeri 6 Kajarharjo, kegiatan itu berlangsung setiap pekan. Siswa kembali senam bersama, mencuci tangan, membuka bekal, dan belajar mengenali makanan yang bergizi. Berat dan tinggi badan mereka pun dipantau. Pekan berikutnya, kegiatan itu kembali dilakukan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya