Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jejak 18 Tahun, Ketika Kebiasaan Sehat Menjadi Warisan bagi Generasi Indonesia

Kompas.com, 14 Agustus 2026, 11:43 WIB
Sri Noviyanti,
Aditya Mulyawan

Tim Redaksi

Data per Agustus 2025 mencatat 58 siswa sebagai penerima manfaat. Di antara kondisi kesehatan yang teridentifikasi terdapat tujuh siswa dengan anemia ringan, delapan siswa dengan anemia sedang, satu siswa dengan lymphadenitis, serta 14 siswa dengan karies gigi.

Baca juga: Beasiswa JAPFA 2025 untuk Siswa SMA/SMK dan Mahasiswa, Cek Syarat Lengkapmya

Memasuki 2026, program kembali dilanjutkan dengan sasaran yang lebih luas.

Sebanyak 93 sekolah dasar negeri dengan sekitar 16.000 siswa menjadi sasaran program di sejumlah kabupaten/kota, antara lain Padang Pariaman, Bintan, Lampung Selatan, Bogor, Tegal, Karanganyar, Lamongan, dan Maluku Utara.

Di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, program tersebut melibatkan lebih dari 1.100 siswa dan 150 guru dari delapan sekolah.

Sementara di Lampung Selatan, program berjalan melibatkan fasilitator yang mengikuti perkembangan program dari sekolah ke sekolah.

Tamara Karent mulai menjadi fasilitator JAPFA for Kids di Lampung Selatan sejak Juli 2026. Ia melakukan monitoring ke sekolah, bertemu guru penanggung jawab, dan memantau kondisi anak-anak yang menjadi penerima manfaat.

"Saya terkesan dengan semangat juang anak-anak untuk sekolah itu besar (meski lokasi dari rumah mereka jauh). Terlebih, medan sekolah beraneka ragam," ujar Tamara. 

Ketika sekolah melanjutkan

Bagi Japfa, keberlanjutan menjadi bagian yang perlu dilihat setelah intervensi selesai. Maka, strategi keluar disiapkan agar perubahan yang dibangun tidak berhenti ketika pendampingan selesai.

Setelah program selesai, dilakukan penilaian dampak dan evaluasi akhir. Sekolah kemudian diharapkan mampu melanjutkan Hari Sehat JAPFA secara mandiri serta tetap memantau intervensi yang diberikan. Pengukuran akhir dilakukan bersama puskesmas.

Salah satu cara Japfa melihat keberlanjutan itu adalah melalui JAPFA for Kids Awards.

Kompetisi implementasi program di tingkat sekolah digunakan untuk melihat sejauh mana sistem di sekolah dapat mendorong perubahan perilaku dan pemenuhan gizi seimbang setelah program selesai.

Ada pula kompetisi bagi guru untuk melihat pengetahuan dan kemampuan mereka dalam menerapkan edukasi gizi, sementara siswa dilibatkan melalui kegiatan yang mengukur pemahaman mereka terhadap materi yang diberikan.

“Kompetisi implementasi program merupakan kompetisi tingkat sekolah untuk mengukur sejauh mana sistem di sekolah mendorong perubahan perilaku dan pemenuhan gizi seimbang anak ketika program sudah selesai,” ujar Artsanti.

Bagi Japfa, keberlanjutan tidak harus selalu berbentuk kegiatan yang persis sama dengan ketika program berlangsung.

"Di SD Negeri Tayu Wetan 1, Kabupaten Pati, edukasi gizi seimbang dikembangkan melalui kantin sekolah yang dikelola guru. Sekolah kemudian memastikan jajanan yang tersedia merupakan makanan yang bergizi dan sehat," kisahnya memberi contoh.

Sementara di sekolah lain, Hari Sehat JAPFA diintegrasikan dengan kegiatan Jumat Bersih atau Sabtu Sehat. Sekolah yang belum mendapatkan bantuan program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga mengadopsinya dalam bentuk Hari Bekal.

Seorang siswa sedang mencuci tangan. Ini merupakan salah satu pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat.Dok Japfa Seorang siswa sedang mencuci tangan. Ini merupakan salah satu pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat.

Artsanti mengatakan, setidaknya salah satu dari dua komponen utama JAPFA for Kids—intervensi gizi atau pembiasaan hidup sehat—diharapkan tetap tumbuh di sekolah setelah masa pendampingan berakhir.

Di SD Negeri 6 Kajarharjo, kegiatan itu berlangsung setiap pekan. Siswa kembali senam bersama, mencuci tangan, membuka bekal, dan belajar mengenali makanan yang bergizi. Berat dan tinggi badan mereka pun dipantau. Pekan berikutnya, kegiatan itu kembali dilakukan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
LSM/Figur
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau