JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam satu hari setiap pekan, siswa SD Negeri 6 Kajarharjo berkumpul di halaman sekolah.
Senam menjadi kegiatan pertama. Setelah tubuh bergerak dan aktivitas satu selesai, guru mengajak siswa mencuci tangan dengan sabun. Kuku diperiksa. Kemudian, satu per satu bekal dari rumah dibuka.
Ada nasi, lauk, sayur, buah. Bekal itu tidak sekadar menjadi santapan. Guru menggunakannya sebagai kesempatan untuk mengajak siswa mengenali makanan yang mereka konsumsi dan memahami seperti apa makanan bergizi seimbang.
Bagi anak-anak, hal itu menjadi bagian dari jadwal sekolah. Namun, dari kegiatan yang sederhana dan dilakukan berulang setiap pekan itu, sekolah menjadi tempat untuk mengenalkan sekaligus membiasakan perilaku sehat.
Cara membangun kebiasaan melalui lingkungan sekolah bukan persoalan yang hanya muncul di satu sekolah atau satu daerah. Dalam pedoman yang diterbitkan pada 2026, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan lingkungan pangan sekolah sebagai salah satu bagian yang perlu diperhatikan untuk mendukung pilihan makanan yang lebih sehat.
WHO juga mencatat bahwa kebiasaan dan preferensi makan yang terbentuk sejak masa kanak-kanak dan remaja dapat terbawa hingga dewasa.
“Hal ini menjadi pembelajaran mereka dan memiliki konsekuensi seumur hidup bagi kesehatan dan kesejahteraan,” ujar Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, dikutip dari laman resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Selasa (27/1/2026).
Di Indonesia, persoalan gizi anak usia sekolah masih terlihat dalam data kesehatan nasional. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat, 11 persen anak usia 5–12 tahun berada dalam kategori gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U).
Dalam Sustainability Report 2025, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk menempatkan pemenuhan gizi dan ketersediaan pangan sebagai bagian dari kontribusinya menuju visi Indonesia Emas 2045. Melalui JAPFA for Kids, perusahaan menyebut investasinya diarahkan untuk membangun generasi muda yang tangguh.
Sejak dimulai pada 2008, JAPFA for Kids berkembang dari program edukasi kesehatan menjadi pendekatan yang mencakup pemetaan kondisi gizi siswa, intervensi bagi anak dengan kondisi malanutrisi, pemantauan pertumbuhan, serta pelibatan guru, orang tua, dan tenaga kesehatan.
Persoalan yang hendak diatasi juga terlihat dalam pemetaan yang dilakukan Japfa. Pada tujuh lokasi pelaksanaan program pada 2024, sekitar 10,1 persen siswa tercatat mengalami kondisi gizi kurang dan gizi buruk.
Pakar gizi masyarakat dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof Dr drg Sandra Fikawati, MPH, menilai edukasi mengenai gizi seimbang masih perlu diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor.
Menurut Sandra, pemenuhan gizi anak berkaitan dengan sejumlah faktor, mulai dari akses dan daya beli hingga kebiasaan konsumsi serta pemahaman masyarakat mengenai pola makan seimbang.
“Peningkatan kualitas gizi anak memerlukan keterlibatan banyak pihak,” ujar Sandra.
Kebutuhan untuk melihat persoalan gizi secara lebih menyeluruh pula yang kemudian mendorong perubahan pendekatan JAPFA for Kids dari tahun ke tahun.
Hingga 2025, program tersebut telah menjangkau 201.056 siswa, 13.541 guru, dan 1.214 sekolah di 105 kabupaten/kota serta 28 provinsi di Indonesia.
Namun, perjalanan 18 tahun itu tidak hanya dapat dilihat dari jumlah penerima manfaat. Perubahan juga terjadi pada cara Japfa merancang, menjalankan, dan mengukur program.
Head of Social Investment Japfa Retno Artsanti mengatakan, perubahan tersebut setidaknya dipengaruhi dua hal.
Pertama, perubahan mandat dari departemen yang sebelumnya menjalankan program sebagai bagian dari Public Relations menjadi departemen Social Investment sejak 2016.
Perubahan itu membuat orientasi program bergeser. Pelaksanaan kegiatan tidak lagi cukup dilihat dari apakah sebuah aktivitas terlaksana, tetapi juga apakah perubahan yang diharapkan benar-benar terjadi pada penerima manfaat dan dapat diukur.
Para siswa mengikuti senam empat pilar gizi seimbang sebagai bagian dari program JAPFA for Kids.“Hal ini membuat perubahan pendekatan program untuk memastikan terukurnya dampak pada penerima manfaat,” ujarnya saat diwawancarai Kompas.com, Kamis (13/8/2026).
Baca juga: Stabilkan Harga, Japfa Serap Telur Peternak Nasional
Faktor kedua adalah pembelajaran dari pelaksanaan program selama bertahun-tahun. Japfa kemudian semakin memfokuskan pengukuran pada perubahan status gizi siswa yang mengalami malanutrisi.
Japfa juga terus menguji theory of change sejak satu dekade terakhir untuk memastikan aktivitas yang dilakukan memiliki kaitan dengan perubahan yang ingin dicapai.
“Harapannya, desain yang kami buat menghasilkan dampak terukur dan terverifikasi,” jelasnya.
Hasil pengukuran terlihat dalam pelaksanaan dua tahun terakhir. Pada 2024, dari 1.479 siswa yang teridentifikasi mengalami gizi kurang dan gizi buruk, 762 siswa atau 51,5 persen berhasil meningkat menjadi status gizi baik.
Baca juga: Tetap Jadi Mitra Catur, Japfa Rambah Olahraga Lari
Pada 2025, program menjangkau 123 sekolah di sembilan kabupaten/kota. Dari 1.034 siswa yang menjadi sasaran karena kondisi malnutrisi, sebanyak 646 siswa atau 62,5 persen mengalami peningkatan status gizi menjadi baik.
Angka tersebut menjadi salah satu indikator yang digunakan untuk melihat hasil intervensi program.
Bagi Japfa, intervensi dimulai sebelum telur dibagikan. Artsanti menjelaskan, lokasi program dipilih dengan mempertimbangkan kedekatannya dengan operasional Japfa dan kondisi malnutrisi anak di wilayah tersebut. Sekolah yang terlibat juga dipilih berdasarkan komitmen untuk melakukan penilaian status gizi siswa secara mandiri.
Sebelum program berjalan, kondisi siswa dipetakan melalui pengukuran tinggi badan, berat badan, dan indeks massa tubuh. Pemeriksaan kesehatan juga dilakukan bagi siswa yang teridentifikasi mengalami masalah gizi.
Pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat diterapkan di sekolah binaan Japfa.Guru dan koordinator sekolah mendapatkan pelatihan mengenai gizi dan pengelolaan program. Orang tua juga dilibatkan, termasuk melalui komitmen untuk menyediakan bekal sehat bagi anak.
Barulah intervensi diberikan. Melalui skema One Day One Egg, siswa dengan kondisi gizi kurang dan gizi buruk mendapatkan telur sebagai sumber protein hewani. Dalam pelaksanaan 2025, telur diberikan selama enam bulan, sementara konsumsi dan perkembangan siswa dipantau secara berkala.
Baca juga: JAPFA Ekspor 23.000 Ayam Hidup ke Singapura
Pemantauan tidak hanya dilakukan oleh tim Japfa. Guru ikut mencatat konsumsi harian melalui aplikasi, sementara pertemuan dengan orang tua dilakukan setiap bulan untuk menjaga keterlibatan keluarga.
Artsanti mengatakan, Japfa tidak memosisikan diri sebagai pihak yang datang sekadar memberikan bantuan.
Pendekatan yang digunakan adalah share contribution dengan melibatkan sekolah, orang tua, puskesmas, dinas kesehatan, dinas pendidikan, serta pihak lain dalam pelaksanaan program.
Siswa dengan kondisi malnutrisi mendapatkan asupan protein hewani, sementara pertumbuhan mereka dipantau melalui pengukuran berat dan tinggi badan.
Di sekolah, Hari Sehat JAPFA menjadi ruang pembiasaan. Seperti yang telah diilakulan SD Negeri 6 Kajarharjo, siswa melakukan senam gizi seimbang, mendapatkan edukasi dari guru, membawa dan memeriksa bekal, mencuci tangan dengan sabun, serta menjaga kebersihan kuku.
Pengalaman di SD Negeri 1 Kebun Agung yang berlokasi di Kabupaten Kotawaringin Barat, Provinsi Kalimantan Tengah, menunjukkan bagaimana intervensi tersebut bertemu dengan kebiasaan makan siswa.
Guru SD Negeri 1 Kebun Agung Anggi Dwi Wahyuni dan Situ Nur Wahyuni mengatakan, sejumlah siswa yang sebelumnya sama sekali tidak menyukai sayur mulai mau mencicipi beberapa jenis sayuran setelah program berjalan.
"Anak-anak juga jadi lebih bersemangat mengonsumsi telur," lanjut mereka.
Meski demikian, belum berarti seluruh anak langsung menyukai semua jenis sayuran. Namun, bagi guru, kesediaan untuk mencoba makanan yang sebelumnya dihindari menjadi salah satu perubahan yang mulai terlihat.
Namun, pengalaman setiap sekolah tidak selalu sama. Di Kecamatan Anggrek, Kabupaten Gorontalo Utara, misalnya, JAPFA for Kids pada 2025 menjangkau 13 sekolah dasar negeri dengan 1.201 siswa. Program One Day One Egg dilaksanakan bekerja sama dengan Puskesmas Ilangata dan Puskesmas Anggrek.
Untuk mencapai sejumlah wilayah di sana, perjalanan harus dilakukan dengan menyeberangi laut menggunakan perahu. Beberapa guru bahkan harus bolak-balik menggunakan perahu untuk menjalankan tugas mengajar.
Perjalanan program JAPFA for Kids sejak 2008. Data diolah dari Sustainability Report 2025 PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk.Data per Agustus 2025 mencatat 58 siswa sebagai penerima manfaat. Di antara kondisi kesehatan yang teridentifikasi terdapat tujuh siswa dengan anemia ringan, delapan siswa dengan anemia sedang, satu siswa dengan lymphadenitis, serta 14 siswa dengan karies gigi.
Baca juga: Beasiswa JAPFA 2025 untuk Siswa SMA/SMK dan Mahasiswa, Cek Syarat Lengkapmya
Memasuki 2026, program kembali dilanjutkan dengan sasaran yang lebih luas.
Sebanyak 93 sekolah dasar negeri dengan sekitar 16.000 siswa menjadi sasaran program di sejumlah kabupaten/kota, antara lain Padang Pariaman, Bintan, Lampung Selatan, Bogor, Tegal, Karanganyar, Lamongan, dan Maluku Utara.
Di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, program tersebut melibatkan lebih dari 1.100 siswa dan 150 guru dari delapan sekolah.
Sementara di Lampung Selatan, program berjalan melibatkan fasilitator yang mengikuti perkembangan program dari sekolah ke sekolah.
Tamara Karent mulai menjadi fasilitator JAPFA for Kids di Lampung Selatan sejak Juli 2026. Ia melakukan monitoring ke sekolah, bertemu guru penanggung jawab, dan memantau kondisi anak-anak yang menjadi penerima manfaat.
"Saya terkesan dengan semangat juang anak-anak untuk sekolah itu besar (meski lokasi dari rumah mereka jauh). Terlebih, medan sekolah beraneka ragam," ujar Tamara.
Pemantauan tinggi tubuh siswa di salah satu sekolah dasar sebagai rangkaian implementasi program JAPFA for Kids.Bagi Japfa, keberlanjutan menjadi bagian yang perlu dilihat setelah intervensi selesai. Maka, strategi keluar disiapkan agar perubahan yang dibangun tidak berhenti ketika pendampingan selesai.
Setelah program selesai, dilakukan penilaian dampak dan evaluasi akhir. Sekolah kemudian diharapkan mampu melanjutkan Hari Sehat JAPFA secara mandiri serta tetap memantau intervensi yang diberikan. Pengukuran akhir dilakukan bersama puskesmas.
Salah satu cara Japfa melihat keberlanjutan itu adalah melalui JAPFA for Kids Awards.
Kompetisi implementasi program di tingkat sekolah digunakan untuk melihat sejauh mana sistem di sekolah dapat mendorong perubahan perilaku dan pemenuhan gizi seimbang setelah program selesai.
Ada pula kompetisi bagi guru untuk melihat pengetahuan dan kemampuan mereka dalam menerapkan edukasi gizi, sementara siswa dilibatkan melalui kegiatan yang mengukur pemahaman mereka terhadap materi yang diberikan.
“Kompetisi implementasi program merupakan kompetisi tingkat sekolah untuk mengukur sejauh mana sistem di sekolah mendorong perubahan perilaku dan pemenuhan gizi seimbang anak ketika program sudah selesai,” ujar Artsanti.
Bagi Japfa, keberlanjutan tidak harus selalu berbentuk kegiatan yang persis sama dengan ketika program berlangsung.
"Di SD Negeri Tayu Wetan 1, Kabupaten Pati, edukasi gizi seimbang dikembangkan melalui kantin sekolah yang dikelola guru. Sekolah kemudian memastikan jajanan yang tersedia merupakan makanan yang bergizi dan sehat," kisahnya memberi contoh.
Sementara di sekolah lain, Hari Sehat JAPFA diintegrasikan dengan kegiatan Jumat Bersih atau Sabtu Sehat. Sekolah yang belum mendapatkan bantuan program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga mengadopsinya dalam bentuk Hari Bekal.
Seorang siswa sedang mencuci tangan. Ini merupakan salah satu pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat.Artsanti mengatakan, setidaknya salah satu dari dua komponen utama JAPFA for Kids—intervensi gizi atau pembiasaan hidup sehat—diharapkan tetap tumbuh di sekolah setelah masa pendampingan berakhir.
Di SD Negeri 6 Kajarharjo, kegiatan itu berlangsung setiap pekan. Siswa kembali senam bersama, mencuci tangan, membuka bekal, dan belajar mengenali makanan yang bergizi. Berat dan tinggi badan mereka pun dipantau. Pekan berikutnya, kegiatan itu kembali dilakukan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya