Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Kebakaran Meluas di TNBTS

Kompas.com, 14 Agustus 2026, 14:36 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Karakter geografis, vegetasi yang mengering, serta perubahan arah dan kecepatan angin membuat kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) rentan mengalami penjalaran api secara cepat.

Kondisi tersebut membuat pengendalian kebakaran di kawasan konservasi tersebut membutuhkan sistem yang lebih kuat, terutama melalui deteksi dini dan kesiapan sarana pemadaman.

Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Bambang Hero Saharjo mengatakan, pemantauan terhadap potensi kebakaran harus dilakukan sedini mungkin untuk mencegah api berkembang menjadi kebakaran besar.

Baca juga: Karhutla Kalbar Capai 28.000 Hektare, OMC Sudah Siap tapi Masih Tunggu Awan

“Pemantauan terhadap indikasi terjadinya kebakaran harus dilakukan sedini mungkin dan sepasti mungkin. Tujuannya untuk menghentikan seluruh potensi api yang akan berkembang menjadi api besar,” ujar Bambang, dilansir dari laman IPB University, Kamis (13/8/2026).

Menurut Bambang, karakter medan TNBTS memiliki tingkat kerentanan yang berbeda dibandingkan kawasan lainnya. Sejumlah wilayah terbuka di kawasan tersebut memiliki vegetasi yang dapat menjadi bahan bakar ketika berada dalam kondisi kering.

Kondisi tersebut menjadi semakin berisiko ketika api bergerak menuju wilayah berlereng. Dukungan angin dapat mempercepat penjalaran api, sementara keterbatasan peralatan pemadaman dapat membuat kebakaran lebih sulit dikendalikan.

Bambang mengatakan, kondisi geografis TNBTS yang menyerupai bentuk kuali juga dapat memengaruhi pola pergerakan api. Perubahan arah dan kecepatan angin membuat penjalaran api sulit diprediksi.

“Kondisi tersebut semakin berisiko ketika bahan bakar berupa vegetasi kering tersedia dalam jumlah besar,” tutur Bambang.

Perlu kombinasi pemadaman darat dan udara

Bambang menilai penanganan kebakaran di TNBTS tidak dapat hanya mengandalkan satu metode pemadaman.

Kombinasi pemadaman dari darat dan udara perlu dipertimbangkan sesuai dengan kondisi lapangan. Upaya tersebut juga harus didukung ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai.

Penggunaan helikopter, misalnya, perlu dilakukan secara tepat. Sebab, hembusan angin yang dihasilkan dari proses tersebut justru berpotensi memicu munculnya titik api baru apabila tidak diperhitungkan dengan baik.

Selain pemadaman, sistem pemantauan juga harus tetap dilakukan setelah api dinyatakan padam.

Menurut Bambang, padamnya api belum otomatis memastikan kawasan terbebas dari ancaman kebakaran. Pemantauan perlu dilakukan untuk memastikan tidak terdapat titik panas yang kembali berkembang menjadi api.

“Risiko tersebut menjadi semakin penting karena TNBTS memiliki vegetasi khas pada berbagai ketinggian, mulai dari puspa, rasamala, dan saninten di zona pegunungan bawah hingga cemara gunung, edelweis Jawa, dan cantigi di zona pegunungan atas,” ucapnya.

Jika kebakaran meluas, dampak ekologis yang ditimbulkan tidak hanya berupa hilangnya tutupan vegetasi. Kebakaran juga dapat meningkatkan pemanasan permukaan dan mengganggu proses pemulihan ekosistem.

Baca juga: Karhutla di Harau Sumbar Hanguskan 1 Hektar Lahan, Diduga akibat Warga Bakar Sampah

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Pemerintah
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Pemerintah
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Pemerintah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Pemerintah
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Pemerintah
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke TEI 2026, Catat Transaksi Ekspor Rp 400 Miliar
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke TEI 2026, Catat Transaksi Ekspor Rp 400 Miliar
Desa Sejahtera Astra
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
LSM/Figur
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
Pemerintah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau