KOMPAS.com - Sistem kesehatan Asia Pasifik menghadapi tekanan ganda dari perubahan iklim dan pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Tantangan sektor kesehatan tersebut di bahas dalam pertemuan Asia-Pacific Parliamentarian Forum on Global Health yang berlangsung dari 11-13 Agustus dan dukung WHO.
Dalam forum tersebut hadir para anggota parlemen dan ahli kesehatan dari berbagai negara di Asia Pasifik.
Melansir CNA, Kamis (13/8/2026) sekitar 600 juta orang di kawasan Asia Pasifik menghadapi kesulitan keuangan akibat biaya layanan kesehatan.
Lluis Vinyals Torres, Direktur Sistem dan Layanan Kesehatan WHO untuk wilayah Pasifik Barat mengungkapkan pihaknya telah mencoba mengatasinya melalui pembuatan aturan, pengaturan anggaran, dan pengawasan untuk membantu negara-negara bergerak lebih cepat mencapai layanan kesehatan yang merata untuk semua orang.
Ia menyebut pemerintah perlu mendanai sektor kesehatan lebih besar lagi karena pengeluaran kesehatan di kawasan Asia Pasifik masih jauh di bawah rata-rata negara-negara maju (OECD).
Namun tak hanya berhenti sampai di situ, sistem kesehatan masih punya tantangan lain.
Baca juga: Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Perubahan iklim membuat beban sistem kesehatan makin berat. Gelombang panas ekstrem, banjir, dan badai parah kini makin sering melanda masyarakat di kawasan Asia Pasifik. Dampaknya beragam, mulai dari penyakit akibat cuaca panas hingga perubahan pola penyebaran penyakit menular.
“Perubahan iklim memang masalah kesehatan. Mulai dari badai topan hingga cuaca ekstrem lainnya; dan di kawasan dekat garis khatulistiwa ini, panas ekstrem sangat mengganggu kesehatan dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Michelle Isles, CEO kelompok advokasi Climate and Health Alliance dari Australia.
Paparan suhu tinggi dalam waktu lama bisa merusak organ-organ vital, terutama pada anak-anak, lansia, dan ibu hamil. Sementara itu, badai dan banjir dapat mempercepat penyebaran penyakit menular dan penyakit yang ditularkan lewat air.
Oleh karena itu, sistem kesehatan tidak hanya harus bersiap menghadapi lonjakan pasien saat bencana terjadi, tetapi juga dampak jangka panjangnya, termasuk masalah kesehatan mental.
Selain meningkatkan jumlah orang yang butuh berobat, perubahan iklim juga mengganggu kemampuan fasilitas kesehatan dalam memberikan pelayanan.
Torres menyebutkan bahwa banyak rumah sakit dan puskesmas di kawasan Pasifik terletak di dekat pantai, sehingga rawan terdampak kenaikan air laut dan berpotensi menghentikan layanan berobat.
Membenahi sistem kesehatan agar tahan perubahan iklim membutuhkan biaya yang besar, terutama bagi negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Ia juga menambahkan bahwa masih ada kendala besar dalam menyalurkan dana iklim global ke negara-negara yang membutuhkan pembenahan tersebut.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya