KOMPAS.com - Polusi cahaya dari kawasan perkotaan menjadi salah satu tantangan terbesar untuk mengamati Hujan Meteor Perseid yang mencapai puncak aktivitas pada pertengahan Agustus 2026.
Cahaya buatan yang mengarah ke langit atau terpantul ke atmosfer membuat langit malam menjadi lebih terang atau skyglow. Kondisi tersebut menyebabkan cahaya meteor maupun bintang menjadi lebih sulit terlihat dari permukaan Bumi.
Peneliti Observatorium Bosscha Institut Teknologi Bandung (ITB), Yatny Yulianty mengatakan, langit yang terlalu terang membuat objek-objek astronomi kalah terang dibandingkan latar belakang langit.
Baca juga: Polusi Cahaya Kota Bisa Ganggu Sistem Biologis Hiu
“Ketika langit menjadi terang, objek-objek langit seperti bintang dan meteor menjadi kalah terang dibandingkan latar langit. Akibatnya, jumlah objek yang dapat diamati berkurang drastis,” ujar Yatny, dilansir dari laman resmi ITB, Sabtu (15/8/2026).
Menurut dia, Hujan Meteor Perseid sebenarnya dapat diamati dengan mata telanjang selama kondisi langit cukup gelap dan minim gangguan cahaya buatan.
Namun, kondisi tersebut semakin sulit ditemukan di kawasan perkotaan yang memiliki tingkat polusi cahaya tinggi.
Polusi cahaya tidak hanya menjadi persoalan bagi masyarakat yang ingin menikmati fenomena langit malam. Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi penelitian astronomi.
Dalam pengamatan optik, cahaya dari langit yang terlalu terang dapat ikut terekam instrumen. Akibatnya, kualitas data astronomi yang diperoleh menjadi lebih rendah.
Tantangan tersebut semakin besar ketika pengamatan Hujan Meteor Perseid dilakukan dari wilayah Lembang, Jawa Barat.
Dari lokasi tersebut, titik radian Perseid hanya mencapai ketinggian sekitar 20-30 derajat di atas horizon utara. Padahal, area yang berada dekat horizon merupakan salah satu bagian langit yang paling terdampak polusi cahaya.
“Lokasi pengamatan menjadi sangat penting. Jika memungkinkan, pengamatan sebaiknya dilakukan dari tempat yang jauh dari sumber polusi cahaya,” tutur Yatny.
Karena itu, kawasan dengan langit yang lebih gelap menjadi lokasi yang lebih ideal untuk mengamati meteor. Minimnya cahaya buatan memungkinkan meteor yang redup sekalipun lebih mudah terlihat.
Dampak polusi cahaya juga tidak berhenti pada astronomi. Pencahayaan buatan pada malam hari dapat mengganggu kehidupan berbagai satwa yang bergantung pada siklus alami terang dan gelap.
Burung migran, kelelawar, kunang-kunang, hingga penyu laut dapat mengalami gangguan orientasi akibat paparan cahaya buatan.
Manusia juga memiliki ritme biologis yang dipengaruhi oleh kondisi terang dan gelap. Karena itu, penggunaan pencahayaan pada malam hari perlu disesuaikan dengan kebutuhan.
Yatny mendorong penggunaan lampu secara lebih bijak, antara lain dengan mengarahkan cahaya ke bawah, memilih jenis lampu yang sesuai, serta menghindari penggunaan lampu secara berlebihan atau sepanjang malam.
“Prinsip utamanya adalah menggunakan cahaya sesuai kebutuhan. Cahaya yang tidak perlu dan mengarah ke langit sebaiknya diminimalkan,” ucapnya.
Baca juga: Studi Ungkap Polusi Cahaya Sebabkan Burung di Perkotaan Kurang Tidur
Upaya mengurangi polusi cahaya juga telah didorong komunitas astronomi, termasuk melalui International Dark-Sky Association (IDA).
Sejumlah langkah yang dapat diterapkan antara lain menggunakan tudung lampu agar cahaya tidak menyebar ke langit, memilih temperatur warna lampu yang lebih hangat, mengatur tingkat kecerahan, serta membatasi waktu operasional lampu reklame dan papan iklan.
Di tengah persoalan polusi cahaya, kemunculan Hujan Meteor Perseid dapat menjadi momentum bagi masyarakat untuk kembali memperhatikan kondisi langit malam.
Hujan Meteor Perseid diperkirakan mencapai puncak aktivitas pada 12-13 Agustus 2026. Namun, fenomena tersebut tidak hanya berlangsung selama satu malam.
Aktivitas Perseid umumnya berlangsung selama beberapa pekan, mulai pertengahan Juli hingga pertengahan Agustus.
Hujan meteor terjadi ketika Bumi melintasi jalur yang dipenuhi partikel sisa yang ditinggalkan komet saat mengorbit Matahari.
Ketika partikel tersebut memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi, interaksi dengan atmosfer membuatnya berpijar dan terlihat sebagai garis cahaya yang bergerak cepat di langit.
Pada Perseid, meteor-meteor tersebut tampak seolah-olah berasal dari arah rasi Perseus. Material yang menghasilkan meteor Perseid berasal dari Komet 109P/Swift-Tuttle yang meninggalkan jejak partikel di sepanjang orbitnya.
Yatny mengatakan, fenomena seperti Perseid dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk mengenal astronomi sekaligus menyadari kondisi lingkungan langit malam di sekitarnya.
Baca juga: Inisiatif Langit Gelap dan Sunyi, Upaya Internasional Perangi Polusi Cahaya
“Langit tidak pernah benar-benar diam. Selalu ada aktivitas dan pergerakan di atas sana. Saya berharap masyarakat mau meluangkan sedikit waktu untuk melihat ke langit dan menyadari bahwa kita juga merupakan bagian dari semesta yang jauh lebih besar,” ujar Yatny.
Menurut dia, pengalaman mengamati langit tidak hanya memberikan kesempatan untuk melihat fenomena astronomi, tetapi juga dapat menumbuhkan kesadaran mengenai pentingnya menjaga kualitas lingkungan malam.
Dengan demikian, menjaga langit tetap gelap bukan semata-mata untuk kepentingan astronomi. Penggunaan cahaya buatan yang lebih terkendali juga dapat membantu menjaga ekosistem malam dan mengurangi gangguan terhadap kehidupan yang bergantung pada siklus alami siang dan malam.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya