Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Polusi Cahaya Jadi Tantangan Pengamatan Hujan Meteor Perseid

Kompas.com, 17 Agustus 2026, 11:20 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber ITB

KOMPAS.com - Polusi cahaya dari kawasan perkotaan menjadi salah satu tantangan terbesar untuk mengamati Hujan Meteor Perseid yang mencapai puncak aktivitas pada pertengahan Agustus 2026.

Cahaya buatan yang mengarah ke langit atau terpantul ke atmosfer membuat langit malam menjadi lebih terang atau skyglow. Kondisi tersebut menyebabkan cahaya meteor maupun bintang menjadi lebih sulit terlihat dari permukaan Bumi.

Peneliti Observatorium Bosscha Institut Teknologi Bandung (ITB), Yatny Yulianty mengatakan, langit yang terlalu terang membuat objek-objek astronomi kalah terang dibandingkan latar belakang langit.

Baca juga: Polusi Cahaya Kota Bisa Ganggu Sistem Biologis Hiu

“Ketika langit menjadi terang, objek-objek langit seperti bintang dan meteor menjadi kalah terang dibandingkan latar langit. Akibatnya, jumlah objek yang dapat diamati berkurang drastis,” ujar Yatny, dilansir dari laman resmi ITB, Sabtu (15/8/2026).

Menurut dia, Hujan Meteor Perseid sebenarnya dapat diamati dengan mata telanjang selama kondisi langit cukup gelap dan minim gangguan cahaya buatan.

Namun, kondisi tersebut semakin sulit ditemukan di kawasan perkotaan yang memiliki tingkat polusi cahaya tinggi.

Tak hanya mengganggu pengamatan

Polusi cahaya tidak hanya menjadi persoalan bagi masyarakat yang ingin menikmati fenomena langit malam. Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi penelitian astronomi.

Dalam pengamatan optik, cahaya dari langit yang terlalu terang dapat ikut terekam instrumen. Akibatnya, kualitas data astronomi yang diperoleh menjadi lebih rendah.

Tantangan tersebut semakin besar ketika pengamatan Hujan Meteor Perseid dilakukan dari wilayah Lembang, Jawa Barat.

Dari lokasi tersebut, titik radian Perseid hanya mencapai ketinggian sekitar 20-30 derajat di atas horizon utara. Padahal, area yang berada dekat horizon merupakan salah satu bagian langit yang paling terdampak polusi cahaya.

“Lokasi pengamatan menjadi sangat penting. Jika memungkinkan, pengamatan sebaiknya dilakukan dari tempat yang jauh dari sumber polusi cahaya,” tutur Yatny.

Karena itu, kawasan dengan langit yang lebih gelap menjadi lokasi yang lebih ideal untuk mengamati meteor. Minimnya cahaya buatan memungkinkan meteor yang redup sekalipun lebih mudah terlihat.

Dampak polusi cahaya juga tidak berhenti pada astronomi. Pencahayaan buatan pada malam hari dapat mengganggu kehidupan berbagai satwa yang bergantung pada siklus alami terang dan gelap.

Burung migran, kelelawar, kunang-kunang, hingga penyu laut dapat mengalami gangguan orientasi akibat paparan cahaya buatan.

Manusia juga memiliki ritme biologis yang dipengaruhi oleh kondisi terang dan gelap. Karena itu, penggunaan pencahayaan pada malam hari perlu disesuaikan dengan kebutuhan.

Yatny mendorong penggunaan lampu secara lebih bijak, antara lain dengan mengarahkan cahaya ke bawah, memilih jenis lampu yang sesuai, serta menghindari penggunaan lampu secara berlebihan atau sepanjang malam.

“Prinsip utamanya adalah menggunakan cahaya sesuai kebutuhan. Cahaya yang tidak perlu dan mengarah ke langit sebaiknya diminimalkan,” ucapnya.

Baca juga: Studi Ungkap Polusi Cahaya Sebabkan Burung di Perkotaan Kurang Tidur

Upaya mengurangi polusi cahaya juga telah didorong komunitas astronomi, termasuk melalui International Dark-Sky Association (IDA).

Sejumlah langkah yang dapat diterapkan antara lain menggunakan tudung lampu agar cahaya tidak menyebar ke langit, memilih temperatur warna lampu yang lebih hangat, mengatur tingkat kecerahan, serta membatasi waktu operasional lampu reklame dan papan iklan.

Perseid jadi momentum mengenal langit malam

Di tengah persoalan polusi cahaya, kemunculan Hujan Meteor Perseid dapat menjadi momentum bagi masyarakat untuk kembali memperhatikan kondisi langit malam.

Hujan Meteor Perseid diperkirakan mencapai puncak aktivitas pada 12-13 Agustus 2026. Namun, fenomena tersebut tidak hanya berlangsung selama satu malam.

Aktivitas Perseid umumnya berlangsung selama beberapa pekan, mulai pertengahan Juli hingga pertengahan Agustus.

Hujan meteor terjadi ketika Bumi melintasi jalur yang dipenuhi partikel sisa yang ditinggalkan komet saat mengorbit Matahari.

Ketika partikel tersebut memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi, interaksi dengan atmosfer membuatnya berpijar dan terlihat sebagai garis cahaya yang bergerak cepat di langit.

Pada Perseid, meteor-meteor tersebut tampak seolah-olah berasal dari arah rasi Perseus. Material yang menghasilkan meteor Perseid berasal dari Komet 109P/Swift-Tuttle yang meninggalkan jejak partikel di sepanjang orbitnya.

Yatny mengatakan, fenomena seperti Perseid dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk mengenal astronomi sekaligus menyadari kondisi lingkungan langit malam di sekitarnya.

Baca juga: Inisiatif Langit Gelap dan Sunyi, Upaya Internasional Perangi Polusi Cahaya

“Langit tidak pernah benar-benar diam. Selalu ada aktivitas dan pergerakan di atas sana. Saya berharap masyarakat mau meluangkan sedikit waktu untuk melihat ke langit dan menyadari bahwa kita juga merupakan bagian dari semesta yang jauh lebih besar,” ujar Yatny.

Menurut dia, pengalaman mengamati langit tidak hanya memberikan kesempatan untuk melihat fenomena astronomi, tetapi juga dapat menumbuhkan kesadaran mengenai pentingnya menjaga kualitas lingkungan malam.

Dengan demikian, menjaga langit tetap gelap bukan semata-mata untuk kepentingan astronomi. Penggunaan cahaya buatan yang lebih terkendali juga dapat membantu menjaga ekosistem malam dan mengurangi gangguan terhadap kehidupan yang bergantung pada siklus alami siang dan malam.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Pemerintah
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Pemerintah
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Pemerintah
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Pemerintah
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Pemerintah
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
Pemerintah
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
LSM/Figur
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
BUMN
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
LSM/Figur
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
LSM/Figur
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
Swasta
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
BrandzView
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Desa Sejahtera Astra
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau