Saat itu, WFP belum menerapkan sistem penanganan cepat berbasis pencegahan. Oleh karena itu, para ahli berharap dampak cuaca ekstrem kali ini bisa lebih minim, meskipun El Niño yang terjadi mungkin lebih parah.
Baca juga: Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Namun, Choularton menyampaikan bahwa upaya pencegahan ini terkendala oleh minimnya data, karena beberapa kegiatan pengumpulan data terpaksa dihentikan akibat kekurangan dana.
Data WFP ini hanya mencakup 45 negara tempat mereka bekerja yang memiliki perkiraan awal kondisi kelaparan. Artinya, dampak buruk bisa saja terjadi di luar wilayah-wilayah yang terpantau tersebut.
Bauer menambahkan bahwa harga pangan berisiko naik di seluruh dunia, tidak hanya di 45 negara tersebut.
“Hal ini juga sangat bergantung pada kebijakan negara-negara pengekspor pangan. Sangat penting bagi negara-negara besar untuk tidak menghentikan ekspor bahan pangan mereka. Di tingkat regional, harga pangan pasti bisa melonjak dan pasokan makanan akan semakin sulit didapat,”
Sementara itu di Inggris dan Eropa, para petani telah memperingatkan dampak cuaca panas ekstrem dan kurangnya curah hujan terhadap hasil panen mereka, sementara para pedagang mulai bersiap menghadapi kenaikan harga pasar.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya