KOMPAS.com - Organisasi nirlaba Climate Group mengungkapkan sebagian besar perusahaan di dunia tidak lagi menambah mobil operasional yang berbahan bakar bensin atau diesel baru ke dalam daftar aset mereka pada 2025.
Melansir Edie, Senin (3/8/2026) laporan terbaru dari Climate Group menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan secara bertahap mulai meninggalkan kendaraan bahan bakar fosil.
Bahkan, 70 persen perusahaan terkemuka di dunia tercatat sama sekali tidak membeli kendaraan berbahan bakar bensin atau diesel baru sepanjang tahun 2025.
Pilihan untuk meninggalkan kendaraan berbahan bakar fosil ini salah satunya karena inisiatif bernama EV100 yang diluncurkan oleh Climate Group sejak tahun 2017. Inisiatif ini mempertemukan berbagai perusahaan yang berkomitmen untuk mempercepat beralih ke kendaraan listrik pada tahun 2030.
Saat ini, lebih dari 120 perusahaan di seluruh dunia telah bergabung dan berjanji untuk Bebas Emisi Karbon pada armada mereka di akhir dekade ini.
Baca juga: Hanya Sedikit Orang Indonesia Beli Mobil Listrik Demi Atasi Perubahan Iklim
Menurut laporan yang menganalisis armada kendaraan di 140 negara, para anggota EV100 secara bersama-sama telah berhasil mencegah terciptanya hampir 3 juta ton emisi karbon sejak bergabung.
Hal ini berhasil dicapai karena mereka beralih dari kendaraan bensin dan diesel ke kendaraan listrik. Beberapa perusahaan besar yang menjadi anggota di antaranya adalah AstraZeneca, IKEA, GeoPost, BT Group, Maersk, Siemens, dan Coca-Cola Europacific Partners.
"Perusahaan membuktikan bahwa beralih ke mobil listrik bukan lagi sekadar impian masa depan. Hal ini sedang terjadi sekarang dalam skala besar," ungkap Dominic Phinn, Kepala Bagian Transportasi di Climate Group.
"Mereka tahu bahwa mobil listrik lebih hemat biaya operasional, lebih bersih, dan membutuhkan perawatan yang lebih sedikit. Di berbagai negara, perusahaan-perusahaan tidak lagi cuma 'mencoba-coba' mobil listrik, melainkan sudah menjadikannya bagian utama dari kegiatan bisnis mereka. Pengalaman mereka membuktikan bahwa penggunaan mobil listrik sangat bisa diterapkan di berbagai lokasi, model bisnis, maupun kebutuhan operasional," terangnya.
Menurut Climate Group, gerakan ini kini makin fokus mendukung penggunaan kendaraan listrik di negara-negara berkembang, seperti di Amerika Latin dan Asia. Fokus utamanya adalah mendorong minat pembeli, memperbanyak tempat pengisian daya dan mempercepat peralihan menuju bebas emisi.
Tahun lalu, para anggota EV100 telah menurunkan hampir 24.000 kendaraan listrik baru di jalanan negara-negara berkembang. Ini membuat total kendaraan listrik yang digunakan mencapai 70.000 unit sejak mereka bergabung.
Laporan dari Climate Group ini juga mencatat bahwa para anggota EV100 telah memasang lebih dari 48.500 unit tempat pengisian daya (charger) di 6.000 lokasi di seluruh dunia.
Climate Group menyoroti pula perusahaan farmasi AstraZeneca yang kini telah mengubah lebih dari 80 persen armada kendaraannya dari total 22.000 kendaraan menjadi kendaraan listrik. Hal ini mencakup armada kendaraan yang sudah 100 persen listrik di 37 negara berbeda.
Baca juga: Pasar EV Eropa Melesat, Penjualan Naik 40,5 Persen di Semester Pertama 2026
AstraZeneca masuk dalam kelompok 20 persen anggota EV100 yang telah mengubah lebih dari separuh total kendaraan mereka menjadi listrik.
"Saat ini, empat dari setiap lima kendaraan AstraZeneca adalah kendaraan berbasis baterai listrik (BEV). Kami memimpin sektor farmasi dalam mengubah armada menjadi listrik di berbagai negara. Ini membantu menekan emisi gas buang, meningkatkan kualitas udara, dan mengurangi dampak lingkungan," kata Liz Chatwin, Wakil Presiden Keberlanjutan Global dan K3L di AstraZeneca.
"Mendorong perubahan melalui aksi bersama itu sangat penting. Kami menyadari tidak ada satu perusahaan pun yang bisa melakukan transisi global ini sendirian. Peralihan kendaraan kami ke listrik adalah bagian dari transformasi besar yang sedang berjalan," tambah Stuart Poore, Direktur Eksekutif Strategi Iklim dan Alam di AstraZeneca.
Perusahaan ini menargetkan penurunan emisi langsung (Scope 1 dan 2) hingga 98 persen pada tahun 2026 dibandingkan dengan angka tahun 2015.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya