KOMPAS.com - Kekeringan tidak hanya mengubah tatanan ekosistem, memicu kebakaran atau mengeringkan sungai-sungai.
Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Trends in Ecology & Evolution mengungkapkan kekeringan juga bisa mengubah pola penyebaran penyakit menular sehingga menyebabkan lonjakan kasus penyakit seperti kolera dan virus West Nile di seluruh dunia.
Melansir laman resmi University of Colorado Boulder, Selasa (11/8/2026) menurut pakar ekologi dari Universitas Colorado Boulder, Pieter Johnson, perubahan iklim tidak hanya membuat Bumi menjadi lebih panas atau lebih kering.
Perubahan iklim juga membuat kekeringan makin tidak menentu dan sulit diprediksi. Ketidakpastian itulah yang menjadi salah satu tantangan terbesar untuk memahami dan mengendalikan penyakit di ekosistem alam.
Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), lebih dari 77 persen daratan di Bumi mengalami kondisi yang lebih kering dalam beberapa dekade terakhir.
Sebagai gambaran, di Amerika Serikat bagian barat, kekeringan parah terburuk dalam 1.200 tahun terakhir telah mengeringkan waduk-waduk penting seperti Danau Mead hingga tersisa sepertiga dari kapasitasnya. Kenaikan suhu akibat perubahan iklim membuat kekeringan terjadi lebih sering, lebih parah, dan lebih meluas.
Baca juga: Studi: Kekeringan dan Banjir Akibat Perubahan Jarang Jadi Berita Internasional
Meskipun banyak penyakit menular menyebar lewat air atau melalui hewan perantara seperti nyamuk yang butuh air untuk berkembang biak, kekeringan tidak serta-merta membuat penyakit-penyakit tersebut hilang.
Sebagai contoh, penelitian terdahulu menemukan bahwa kekeringan berkala di Florida justru meningkatkan penyebaran virus St. Louis encephalitis (radang otak), yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk terinfeksi.
Johnson pertama kali menyadari pergeseran pola penyakit ini saat meneliti parasit air di California yang menyebabkan katak terinfeksi tumbuh kaki tambahan, sehingga katak lebih mudah dimangsa predator.
Ketika kekeringan parah melanda negara bagian tersebut pada tahun 2014, Johnson dan timnya melihat bahwa kolam yang menyusut memaksa hewan amfibi berkumpul padat di sisa-sisa sumber air yang ada. Akibatnya, tingkat dan keparahan infeksi pada katak justru melonjak drastis.
“Hal itu membuat kami penasaran mengapa berkurangnya air terkadang membunuh kuman penyakit, tetapi di kesempatan lain justru memperbanyaknya. Tampaknya dampak kekeringan terhadap pola penyakit tidak selalu seragam,” kata Johnson.
Untuk memahami lebih baik bagaimana kekeringan memengaruhi penularan penyakit, Johnson dan rekannya Tara Stewart Merrill dari Cary Institute of Ecosystem Studies menggabungkan hasil dari hampir 100 penelitian terdahulu dan mengidentifikasi cara-cara utama bagaimana penyakit menular merespons kekeringan.
Salah satu jalur utamanya adalah ketika kekeringan mengeringkan sungai dan kolam, hewan-hewan terpaksa berkumpul di sisa-sisa kubangan air dan tempat tinggal yang masih ada. Tempat-tempat ini kemudian menjadi titik panas penularan parasit, seperti yang terjadi pada katak di California.
Kekeringan juga bisa membuat parasit dan pembawa penyakit tertentu yang tahan cuaca ekstrem menjadi lebih berkembang. Di Amerika Utara, penyakit dari nyamuk seperti virus West Nile dan virus St. Louis encephalitis (radang otak) makin meluas.
Hal ini salah satunya terjadi karena air yang makin sedikit mengurangi jumlah hewan air seperti jentik capung yang biasa memakan jentik nyamuk. Selain itu, Valley fever (demam lembah) menginfeksi manusia dan hewan melalui debu tercemar yang jumlahnya makin banyak di musim kering.
Baca juga: Peneliti Petakan Titik Rawan Kekeringan Global, Mana Saja yang Berisiko?
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya