JAKARTA, KOMPAS.com - Emisi nitrogen oksida (NOx) dari kawasan industri nikel di Sulawesi dan Maluku Utara kini melampaui emisi dari sumber titik di wilayah Metropolitan Jakarta.
Kondisi tersebut terjadi seiring pesatnya ekspansi pengolahan nikel berbasis batu bara dan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) captive di kawasan industri.
Studi terbaru Center for Research on Energy and Clean Air (CREA) mencatat, akumulasi emisi NOx dari sejumlah titik panas di Sulawesi dan Maluku Utara mencapai 43,5 kiloton. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan total emisi dari sumber titik di wilayah Metropolitan Jakarta yang diperkirakan mencapai 37,7 kiloton.
Baca juga: Saatnya Manfaat Hilirisasi Nikel di Morowali Dibagi Lebih Adil bagi Daerah
Padahal, kawasan industri di Sulawesi dan Maluku Utara memiliki jumlah penduduk yang jauh lebih sedikit dibandingkan kawasan metropolitan Jakarta.
Analis CREA, Katherine Hasan mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa beban polusi udara di Indonesia tidak lagi hanya menjadi persoalan kawasan perkotaan.
"Pemetaan ini menampilkan bahwa beban polusi udara tidak lagi terbatas di wilayah perkotaan. Masyarakat di wilayah pedesaan yang bermukim di sekitar pusat industri dan pertambangan kini menanggung risiko kesehatan yang berat, dengan tingkat emisi yang kerap menyamai bahkan melampaui kota-kota terbesar di Indonesia," ujar Katherine dalam keterangan tertulis, Jumat (14/8/2026).
Studi CREA bertajuk Mapping the Tak Kasat Mata: Satelit Mengungkap Hotspot NOx di Indonesia memetakan 29 titik panas NOx di Indonesia.
Jumlah tersebut tiga kali lebih banyak dibandingkan laporan sebelumnya yang mengidentifikasi sembilan titik panas.
Kawasan Jakarta Utara dan Kawasan Luar Bekasi menempati dua peringkat teratas titik panas NOx secara nasional. Selanjutnya, Suralaya di Banten berada di posisi ketiga dan Karawang Barat-Cikampek di posisi keenam.
Keempat titik panas tersebut membentuk airshed dengan tingkat polusi kronis di wilayah metropolitan Jabodetabek.
Sementara itu, enam titik panas lainnya berada di kawasan hilirisasi nikel berbasis batu bara di Sulawesi dan Maluku Utara.
Peningkatan emisi di kawasan tersebut berjalan seiring dengan pertumbuhan kapasitas PLTU captive yang memasok kebutuhan listrik kawasan industri secara langsung.
Kapasitas PLTU captive disebut telah meningkat lebih dari enam kali lipat sejak 2019, dari sekitar 3 gigawatt (GW) menjadi 16 GW.
Dalam dua tahun terakhir, kapasitas tersebut juga disebut meningkat hampir dua kali lipat, dari 10,4 GW pada 2023 menjadi 19,3 GW pada 2025.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya