Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Poliester Daur Ulang Dinilai Gagal Atasi Masalah Sampah Tekstil Global

Kompas.com, 18 Agustus 2026, 11:56 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber esgdive

KOMPAS.com - Analisis baru dari Textile Exchange dan SCS Consulting Services menemukan bahwa manfaat poliester daur ulang sebagai alternatif tekstil ramah lingkungan berkurang karena ternyata emisi selama produksinya masih dihasilkan melalui transportasi, penggunaan jaringan listrik serta pabrik bertenaga batu bara.

Melansir ESG Dive, Jumat (14/8/2026) menurut mereka konsumsi listrik adalah penyebab utama dampak lingkungan dalam pembuatan poliester.

Laporan tersebut menemukan bahwa poliester daur ulang pun, jika dibuat menggunakan listrik dari pembangkit listrik tenaga batu bara, tetap dapat menghasilkan emisi karbon yang tinggi.

Penilaian tersebut juga menemukan bahwa daur ulang termomekanis yakni metode dengan mencuci, mencacah, dan melelehkan plastik menghasilkan emisi karbon dioksida yang lebih tinggi dibanding daur ulang kimiawi.

Selain itu, karena sekitar 98 persen poliester daur ulang dibuat dari botol plastik bekas, metode ini tidak membantu mengurangi masalah sampah pakaian yang menumpuk di industri tekstil.

Baca juga: Mengulik Sisi Gelap Industri Fashion: Separuh Tekstil Terbuang Sebelum Dijual

Tak hanya itu, seberapa jauh sampah untuk bahan poliester daur ulang harus dikirim menuju pabrik pemrosesan ternyata memberikan dampak yang sangat besar terhadap total emisi produk, bahkan dampaknya lebih besar daripada tingkat emisi dari truk yang digunakan untuk mengangkutnya.

Analisis siklus hidup yang memperhitungkan setiap tahapan pembuatan suatu bahan dapat memberikan perkiraan total emisi karbon dioksida dan dampak lingkungan lainnya. Namun hingga saat ini, belum ada data publik mengenai poliester yang diproduksi di Asia, padahal Asia adalah produsen terbesar di dunia.

“Studi ini membantu menutup kekurangan data tersebut,” kata Ilan MacAdam-Somer, Manajer Teknis SCS.

"Analisis siklus hidup (LCA) adalah alat yang sangat ampuh untuk memahami dampak lingkungan dari pembuatan suatu produk, tetapi alat ini hanya akan berguna jika data yang digunakan akurat,” tambahnya.

Laporan ini mengevaluasi satu produsen poliester murni di Asia Tenggara serta enam produsen poliester daur ulang di China, Eropa, Asia Tenggara, dan Amerika Serikat.

Butuh pemilah

Laporan kemudian menemukan bahwa pembuatan benang atau serat poliester murni menghasilkan antara 3,96 hingga 4,76 kilogram emisi karbon dioksida. Sementara itu, pembuatan serat daur ulang secara mekanis menghasilkan 3,04 kg emisi karbon.

Biji plastik hasil daur ulang kimia menghasilkan 1,77 hingga 2,24 kg emisi karbon, dibandingkan dengan daur ulang mekanis yang menghasilkan 0,959 hingga 1,31 kg.

“Industri daur ulang butuh dukungan agar bisa makin maju, terutama terkait rumitnya memilah dan memisahkan sampah pakaian bekas pakai dari konsumen,” kata MacAdam-Somer.

Lebih lanjut, melalui simulasi berbagai skenario, para penulis laporan menunjukkan bahwa apakah sebuah pabrik bergantung pada batu bara atau energi terbarukan sangat menentukan besar-kecilnya emisi yang dihasilkan.

“Perusahaan yang ingin membangun fasilitas daur ulang baru sebaiknya memilih wilayah dengan pasokan energi terbarukan yang melimpah, menjalin kerja sama dengan produsen energi bersih, atau memasang pembangkit energi terbarukan sendiri di lokasi agar dampak lingkungannya lebih rendah,” saran laporan tersebut.

Baca juga: Industri Tekstil Global Hasilkan 92.000 Ton Polusi Serat Mikro Per Tahun

Laporan tersebut juga menyoroti dampak sosial dari pembuatan poliester murni maupun poliester daur ulang. Karena poliester murni berasal dari penambangan bahan bakar fosil, prosesnya tak terhindarkan dari masalah penyerobotan lahan, kekerasan, polusi, dan kondisi kerja yang buruk.

Sementara itu, pengumpulan botol plastik untuk daur ulang sering kali dilakukan oleh pekerja informal, bahkan anak-anak, dalam kondisi yang kotor dan berbahaya.

“Meskipun bukan fokus utama studi ini, munculnya tren fast fashion dan fokus ekonomi kita pada pertumbuhan memicu produksi dan konsumsi pakaian yang berlebihan, yang kemudian menimbulkan masalah besar bagi lingkungan dan sosial,” kata MacAdam-Somer.

“Jika kita ingin benar-benar mengurangi dampak buruk ini, kita harus mengubah cara kita mengonsumsi barang dan memastikan produk tekstil dirancang agar mudah digunakan kembali, diperbaiki, dan didaur ulang,” katanya lagi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Belajar dari Prai Ijing, Kala Keterlibatan Komunitas Jadi Kunci Berdayanya Desa Wisata
Belajar dari Prai Ijing, Kala Keterlibatan Komunitas Jadi Kunci Berdayanya Desa Wisata
Swasta
Industri Tambang Indonesia Mulai Adopsi Teknologi Rendah Emisi
Industri Tambang Indonesia Mulai Adopsi Teknologi Rendah Emisi
Swasta
Kemendagri Dorong Tata Kelola Wilayah Berkelanjutan lewat Percepatan Batas Desa
Kemendagri Dorong Tata Kelola Wilayah Berkelanjutan lewat Percepatan Batas Desa
Pemerintah
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
BUMN
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Pemerintah
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Pemerintah
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Pemerintah
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Pemerintah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Swasta
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
LSM/Figur
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau