KOMPAS.com - Analisis baru dari Textile Exchange dan SCS Consulting Services menemukan bahwa manfaat poliester daur ulang sebagai alternatif tekstil ramah lingkungan berkurang karena ternyata emisi selama produksinya masih dihasilkan melalui transportasi, penggunaan jaringan listrik serta pabrik bertenaga batu bara.
Melansir ESG Dive, Jumat (14/8/2026) menurut mereka konsumsi listrik adalah penyebab utama dampak lingkungan dalam pembuatan poliester.
Laporan tersebut menemukan bahwa poliester daur ulang pun, jika dibuat menggunakan listrik dari pembangkit listrik tenaga batu bara, tetap dapat menghasilkan emisi karbon yang tinggi.
Penilaian tersebut juga menemukan bahwa daur ulang termomekanis yakni metode dengan mencuci, mencacah, dan melelehkan plastik menghasilkan emisi karbon dioksida yang lebih tinggi dibanding daur ulang kimiawi.
Selain itu, karena sekitar 98 persen poliester daur ulang dibuat dari botol plastik bekas, metode ini tidak membantu mengurangi masalah sampah pakaian yang menumpuk di industri tekstil.
Baca juga: Mengulik Sisi Gelap Industri Fashion: Separuh Tekstil Terbuang Sebelum Dijual
Tak hanya itu, seberapa jauh sampah untuk bahan poliester daur ulang harus dikirim menuju pabrik pemrosesan ternyata memberikan dampak yang sangat besar terhadap total emisi produk, bahkan dampaknya lebih besar daripada tingkat emisi dari truk yang digunakan untuk mengangkutnya.
Analisis siklus hidup yang memperhitungkan setiap tahapan pembuatan suatu bahan dapat memberikan perkiraan total emisi karbon dioksida dan dampak lingkungan lainnya. Namun hingga saat ini, belum ada data publik mengenai poliester yang diproduksi di Asia, padahal Asia adalah produsen terbesar di dunia.
“Studi ini membantu menutup kekurangan data tersebut,” kata Ilan MacAdam-Somer, Manajer Teknis SCS.
"Analisis siklus hidup (LCA) adalah alat yang sangat ampuh untuk memahami dampak lingkungan dari pembuatan suatu produk, tetapi alat ini hanya akan berguna jika data yang digunakan akurat,” tambahnya.
Laporan ini mengevaluasi satu produsen poliester murni di Asia Tenggara serta enam produsen poliester daur ulang di China, Eropa, Asia Tenggara, dan Amerika Serikat.
Laporan kemudian menemukan bahwa pembuatan benang atau serat poliester murni menghasilkan antara 3,96 hingga 4,76 kilogram emisi karbon dioksida. Sementara itu, pembuatan serat daur ulang secara mekanis menghasilkan 3,04 kg emisi karbon.
Biji plastik hasil daur ulang kimia menghasilkan 1,77 hingga 2,24 kg emisi karbon, dibandingkan dengan daur ulang mekanis yang menghasilkan 0,959 hingga 1,31 kg.
“Industri daur ulang butuh dukungan agar bisa makin maju, terutama terkait rumitnya memilah dan memisahkan sampah pakaian bekas pakai dari konsumen,” kata MacAdam-Somer.
Lebih lanjut, melalui simulasi berbagai skenario, para penulis laporan menunjukkan bahwa apakah sebuah pabrik bergantung pada batu bara atau energi terbarukan sangat menentukan besar-kecilnya emisi yang dihasilkan.
“Perusahaan yang ingin membangun fasilitas daur ulang baru sebaiknya memilih wilayah dengan pasokan energi terbarukan yang melimpah, menjalin kerja sama dengan produsen energi bersih, atau memasang pembangkit energi terbarukan sendiri di lokasi agar dampak lingkungannya lebih rendah,” saran laporan tersebut.
Baca juga: Industri Tekstil Global Hasilkan 92.000 Ton Polusi Serat Mikro Per Tahun
Laporan tersebut juga menyoroti dampak sosial dari pembuatan poliester murni maupun poliester daur ulang. Karena poliester murni berasal dari penambangan bahan bakar fosil, prosesnya tak terhindarkan dari masalah penyerobotan lahan, kekerasan, polusi, dan kondisi kerja yang buruk.
Sementara itu, pengumpulan botol plastik untuk daur ulang sering kali dilakukan oleh pekerja informal, bahkan anak-anak, dalam kondisi yang kotor dan berbahaya.
“Meskipun bukan fokus utama studi ini, munculnya tren fast fashion dan fokus ekonomi kita pada pertumbuhan memicu produksi dan konsumsi pakaian yang berlebihan, yang kemudian menimbulkan masalah besar bagi lingkungan dan sosial,” kata MacAdam-Somer.
“Jika kita ingin benar-benar mengurangi dampak buruk ini, kita harus mengubah cara kita mengonsumsi barang dan memastikan produk tekstil dirancang agar mudah digunakan kembali, diperbaiki, dan didaur ulang,” katanya lagi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya