Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ancaman El Niño Buat Pelaku Bisnis Kian Cemas

Kompas.com, 19 Agustus 2026, 09:02 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Tinjauan terhadap laporan resmi dan rapat perusahaan besar, El Niño dengan cepat menjadi perhatian utama di berbagai sektor industri, seperti makanan, bahan kimia, dan perbankan.

Melansir Edie, Senin (17/8/2026) tinjauan yang menggunakan data dari firma riset pasar AlphaSense ini menunjukkan bahwa 478 perusahaan menyebutkan kata ‘El Niño’ dalam 1.443 dokumen antara 1 Mei hingga 4 Agustus.

Ini adalah jumlah penyebutan fenomena cuaca terbanyak dalam dunia korporasi sejak tahun 2019. Kata ini juga diucapkan lebih dari 300 kali dalam berbagai rekaman rapat perusahaan.

Menurut riset tersebut, perusahaan di sektor makanan dan minuman, bahan kimia, serta perbankan menunjukkan kekhawatiran khusus terhadap potensi dampak El Niño. Mereka berfokus pada seberapa besar tingkat risiko cuaca yang dihadapi serta menyiapkan rencana darurat.

El Niño adalah pola cuaca alami yang terjadi sekitar dua hingga lima tahun sekali, ketika suhu permukaan air laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur meningkat. Sebaliknya, La Niña adalah pola iklim alami lainnya yang ditandai dengan penurunan suhu rata-rata permukaan air laut.

Baca juga: BMKG: Risiko El Nino Sangat Kuat Bersamaan dengan Musim Kemarau

Dampaknya adalah cuaca ekstrem di seluruh dunia, seperti gelombang panas dan kekeringan, serta peningkatan curah hujan, banjir, dan badai. Hal ini makin memperburuk kondisi cuaca ekstrem yang sudah terjadi akibat perubahan iklim.

Fenomena El Niño secara resmi diumumkan pada bulan Juni ini dan para ahli menyebut fenomena yang terjadi tahun ini sebagai ‘super El Niño’.

“Istilah super’ El Niño bukanlah istilah resmi yang kami gunakan, tetapi hal ini menegaskan bahwa fenomena ini kemungkinan besar akan menjadi peristiwa yang berdampak besar. Para ilmuwan memberi tahu kami bahwa ini bisa menjadi El Niño terkuat di abad ini, setara dengan kejadian El Niño yang sangat besar pada tahun 1998,” kata Grahame Madge, pejabat pers senior dan komunikator sains iklim di Met Office.

Menurut lembaga riset Berkeley Earth, kini ada peluang sebesar 69 persen bahwa tahun 2026 akan menjadi tahun terpanas sepanjang sejarah. Sekitar 8,5 persen dari total luas permukaan Bumi mengalami bulan Juli terpanas yang pernah tercatat, dengan 9,8 persen wilayah lautan dan 6 persen wilayah daratan mencapai rekor suhu tertinggi.

Lebih dari 30 negara juga mencetak rekor suhu terpanas pada bulan Juli akibat gelombang panas yang melanda berbagai wilayah, termasuk Inggris, yang diperkirakan mengalami kerugian sebesar 1,1 miliar pound sterling akibat penurunan produktivitas pada bulan Juni.

Kekhawatiran perusahaan dan peluang

Bagi perusahaan-perusahaan di India, El Niño disebutkan dalam hampir 900 dokumen atau sekitar 10 kali lipat lebih banyak dibandingkan laporan perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat.

Baca juga: Pakar ITB Ingatkan Bahaya Eksploitasi Air akibat El Nino

Beberapa wilayah di India mengalami suhu ekstrem hingga mencapai 48 derajat C, sementara hujan monsun yang lebat dan tak menentu telah menyebabkan lebih dari 100 kematian sejak akhir Juli.

Menurut rapat laporan keuangan pada akhir Juli, perusahaan tambang asal Peru, Compañía de Minas Buenaventura, menambah anggaran modal sebesar 12 juta dolar AS untuk mengantisipasi risiko El Niño, termasuk menambah kapasitas pompa air guna menangani banjir.

Di sisi lain, beberapa perusahaan justru melihat El Niño dan dampak iklimnya sebagai peluang bisnis.

Perusahaan energi asal AS, AES, melaporkan bahwa kenaikan harga dan penjualan listrik di Kolombia telah mendongkrak pendapatan mereka sebesar 67 juta dolar AS pada kuartal kedua.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Swasta
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Pemerintah
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Pemerintah
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
LSM/Figur
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
Pemerintah
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Swasta
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Pemerintah
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Pemerintah
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
LSM/Figur
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
LSM/Figur
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
LSM/Figur
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
Banyak TPA Masih Terbakar Selama El Niño dan Musim Kemarau, Meski Praktik Open Dumping Dilarang
LSM/Figur
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Penerbitan Obligasi Hijau Global Tembus Rekor Baru di Q2 2026
Pemerintah
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau